Saturday, December 06, 2025
Nadia:
Kak, kalau FB kakak itu Reza Pratama bukan nama profilnya?
Reza:
Yap! 100 buat Nadia.
Nadia tersenyum bahagia sembari memeluk gulingnya erat. Semenjak berkenalan dengan Reza itulah hari-hari Nadia terasa seperti musim semi setiap hari. Ringan, hangat, dan penuh kejutan kecil.
Reza:
Jadi Nadia suka sama siapa nih?
Nadia:
Ah itu mah secret dong. Hahaa.
Reza:
Ayo dong, nanti sama Kakak dibantu kalau Kakak tahu orangnya.
Nadia:
Nggak ah, nanti juga Kakak tau sendiri.
Atau mungkin pesan yang dibuka Nadia setelah Nadia pulang sekolah.
Reza:
Udah pulang?
Gimana tadi sekolahnya? Seru gak?
Ketemu sama orang yang disuka gak?
Pesan-pesan itu datang hampir setiap hari.
Sampai suatu hari di sore yang cerah saat Nadia tengah mendengarkan radio dan menunggu request-annya dibacakan, ponsel Nokianya berdering. Tanda SMS masuk.
Reza:
Nad, lagi apa?
Nadia:
Lagi dengerin radio. Kakak sendiri lagi apa?
Reza:
Lagi nonton Persib.
Nadia membiarkan SMS itu terbuka begitu saja karena ia fokus mendengarkan SMSnya dibacakan oleh penyiar radio.
Reza:
Nad…
SMS baru masuk lagi berbarengan dengan selesai dibacakannya SMS Nadia di radio.
Nadia:
Eh iya Kak, gimana?
Reza:
Nadia suka Persib gak?
Nadia:
Mm, suka. Kenapa gitu Kak?
Reza:
Bisa temenin nonton?
Nadia menatap layar ponselnya lama sekali. Seperti ada sesuatu yang mengepak lembut dalam dadanya. Perasaan asing yang membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Nadia:
Temenin nonton gimana Kak?
Percakapan-percakapan itu menjadi bagian dari hari-harinya. Dan lama-lama, Reza mulai mengungkapkan sesuatu yang lebih jujur.
Sampai suatu malam, sebuah pesan dari Reza muncul di layar ponsel Nadia. Pesan yang pada akhirnya membekas di ingatan Nadia seumur hidupnya.
Reza:
Kakak boleh nanya gak?
Nadia:
Boleh, kak. Mau nanya apa?
Beberapa detik sunyi. Lalu muncul balasan yang membuat jantung Nadia terasa berhenti berdetak.
Reza:
Nadia, mau enggak saling percaya? Nadia percaya sama Kakak, Kakak percaya sama Nadia.
Nadia menatap layar lama.
Saling percaya? Apa maksudnya
Nadia:
Saling percaya?
Reza:
Iya. Harapan supaya kita bisa saling percaya.
Nadia:
Maksudnya?
Balasan berikutnya membuat Nadia terasa sesak.
Reza:
Perasaan Nadia sekarang ke Kakak gimana?
Jantung Nadia bagai dihantam. Jarinya kaku. Nadia tidak membalas. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena terlalu takut mengatakannya.
Beberapa menit kemudian, Reza mengirim pesan lagi.
Reza:
Iya sudah, kalau Nadia belum siap.
Kakak cuma mau bilang, Kakak punya harapan ke Nadia.
Supaya Nadia bisa terus menemani Kakak.
Nadia memandangi layar itu sepanjang malam. Tidak ada yang Nadia balas. Nadia membiarkan pesan itu terbuka.
***
Keesokan harinya…
Setelah mengumpulkan keberanian, Nadia akhirnya membalas dan berterus terang akan perasaannya.
Jadi, Kakak lagi menjalani hubungan spesial dong?
Jawaban Reza ringan, tetapi mengikat.
Sementara itu Nadia memeluk gulingnya erat dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Reza yang akhirnya menyebut hubungan mereka HTS-hubungan tanpa status. Hubungan yang berjalan seolah nyata, tetapi tidak pernah benar-benar diberi tempat untuk tumbuh.
Satu, dua, tiga hingga empat minggu semua berjalan seperti biasa. Nadia bahagia setiap kali mendapatkan pesan-pesan dukungan dari Reza. Nadia tidak benar-benar mengerti sebenarnya apa itu HTS. Tapi Nadia mengerti satu hal:
Reza perhatian.
Reza membuatnya merasa dilihat
Dan untuk pertama kalinya, Nadia merasa penting bagi seseorang.
Namun sayang, setiap awal selalu ada akhir. Hanya saja Nadia tidak pernah mengantisipasi itu. Sampai kemudian pesan itu mulai jarang datang.
Semakin jarang.
Lalu berhenti.
Nomornya tidak aktif.
Facebooknya hilang.
Seakan Reza menghapus diri dari dunia.
Nadia menunggu dalam diam.
Dan yang tersisa hanyalah pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Apa salahku?
Kenapa menghilang?
Kenapa tidak pamit?
Kenapa tidak ada kata selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap tinggal di hati Nadia, bertahun-tahun lamanya.
Saturday, November 29, 2025
Aula SMP tempat lomba olimpiade Fisika tingkat kota itu riuh oleh suara langkah dan peserta yang berbisik-bisik. Nadia duduk di kursinya sambil memeluk tas, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak pagi dag-dig-dug tak beraturan.
Meski gugup, ada sedikit kebanggaan dalam dirinya. Guru Fisika memilihnya untuk mewakili sekolah. Itu bukan hal kecil untuk anak SMP kelas 2 yang biasanya lebih sibuk dengan komik dan tugas kelompok.
"Duh, dingin ya ruangannya," gumam Sari, sahabat Nadia , sambil mengusap lengan.
Nadia mengangguk. Namun perhatiannya langsung teralih saat melihat seseorang kakak panitia lewat di depan pintu. Usianya mungkin SMA. Tubuhnya lebih tinggi, lebih dewasa, dengan papan nama ... Sayangnya terbalik tergantung di lehernya. Ia membawa tumpukan map sambil bergegas.
Entah kenapa, Nadia malah terpaku.
"Kamu lagi liat apa sih?" Sari mencondongkan tubuhnya, mencoba mengikuti arah padangan Nadia.
Nadia buru-buru menunduk. "Enggak... enggak lihat apa-apa, kok."
Sari mengangkat alis curiga.
Tak lama panitia itu kembali lewat. Rambutnya sedikit berantakan, tapi itu justru yang membuatnya terlihat... berbeda. Tidak seperti cowok sebayanya. Lebih keren. Lebih tenang. Lebih... menarik.
Sari menekan bibirnya, menahan tawa. "Kamu suka, ya?"
Nadia mencubit lengan Sari, "Apaan sih! Enggak!"
Tapi pipinya merah terbantahkan oleh omongannya sendiri.
***
Setelah lomba selesai, para peserta bubar. Nadia dan Sari berjalan menuju gerbang sekolah, sesekali membahas soal yang rumit dan bagaimana Nadia yakin ia salah menjawab soal terakhir.
Di sudut halaman, para panitia sibuk mengumpulkan perlengkapan. Panitia itu ada di sana, menunduk sambil membereskan kertas pendaftaran. Nadia melintas sambil menundukkan kepala, berusaha tidak ketahuan mencuri pandang lagi.
Sari menahan tawa kecil. "Halah, sok malu."
"Udah jangan bahas..." gumam Nadia, mendorong Sari ke arah angkot.
Hari itu berakhir begitu saja.
Atau setiddaknya Nadia pikir begitu.
***
Pengumuman hasil lomba baru saja diumumkan tadi pagi setelah upacara selesai. Butuh dua minggu untuk Nadia dan Sari menunggu hasil lomba Fisika tersebut. Sayangnya keduanya gagal melaju ke tingkat provinsi.
Malamnya, saat Nadia sedang mengerjakan PR Matematika, HP Nokia 3310 miliknya bergetar pelan. Nada SMS masuk berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Hai. Ini Reza, panitia olimpiade Fisika tingkat Kota. Apakah ini dengan Nadia Putri Anindya?
Jantung Nadia langsung berdebar tak menentu.
Jangan-jangan mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya? Fikir Nadia.
Ia membaca ulang SMS itu setidaknya empat kali, sebelum akhirnya Sari menelfon untuk menanyakan soal PR.
"Ada SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal." Ucap Nadia begitu ia menjawab telfon dari Sari.
"Dari siapa?"
"Bilangnya dari panitia olimpiade Fisika tingkat kota kemaren. Namanya Reza."
Sari diam sesaaat. "Jangan-jangan yang kamu taksir itu lagi!"
"Enggak tahu juga sih, barangkali mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya?" Jawab Nadia santai walau sebenarnya hatinya masih berdebar tak karuan.
Sambil ngalor-ngidul membahas PR, fikiran Nadia masih ada di pesan baru itu. Nadia menatap langit-langit kamarnya begitu telfon selesai dimatikan dan membiarkan pesan itu terbuka begitu saja.
Iya betul. Ada apa ya Kak?
Balasan datang cepat.
Tadi saya beresin berkas pendaftaran, saya lihat tulisan kamu dan nomor kamu di sana. Pengen kenalan aja, boleh kan?
Percakapan lewat SMS pun berlanjut. Beruntung Nadia punya gratisan SMS sampai jam dua belas malam. Reza ternyata ramah. Menanyakan sekolah Nadia, kemudian tentang olimpiade itu, dan hal-hal kecil yang membuat Nadia tersenyum tanpa sadar.
Malam itu, Nadia tidur dengan pesan yang ia sengaja buka.
Ya udah, gih tidur sana. Besok kan sekolah. Selamat tidur, Nadia. Mimpi yang indah ya.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Nadia dan Sari sepakat untuk pergi ke warnet sebrang sekolah. Tak henti-hentinya Nadia bercerita soal sms semalam itu pada Sari.
"Udah tahu nama lengkapnya kan? Kita cek di Facebook!" Ucap Sari begitu mereka masuk ke dalam warnet. Siang itu entah kenapa banyak sekali anak-anak lain yang datang ke sana. Niat Nadia dan Sari akan menggunakan komputer secara terpisah, namun karena tersisa satu bilik yang kosong, akhirnya terpaksa mereka masuk ke bilik tersebut bersama.
"Ya udah kamu dulu yang login ke Facebook."
Tanpa banyak bicara, Nadia langsung login ke Facebooknya sembari melihat dulu ke buku kecilnya untuk memastikan bahwa email dan passwordnya itu sama. Setelah berhasil login, dengan hati yang berharap-harap cemas, ia mengetikan nama lelaki itu.
Reza Pratama.
Jari-jarinya gemetar.
Dan ketika hasil pencarian itu muncul....Urutan pertama adalah ....!
Itu dia! Kakak panitia yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Nadia menahan napas keras-keras.
"Ya ampun, itu dia beneran Nadd!!" Sari yang duduk di samping Nadia tak kalah ikut kaget juga.
Nadia menutup mulutnya, menahan senyum lebar.
Nadia memeluk Sari erat.
Hari itu, tanpa Nadia sadari, sesuatu dimulai.
Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sesuatu yang... mungkin akan lama membekas.
Friday, November 21, 2025
Blurb
Tahun 2012, Nadia pernah terikat dengan seseorang yang tidak pernah ia temui-Reza, teman sms dan chat FB yang menghilang begitu saja di tengah kedekatan mereka.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah Event Organizer tempat Nadia bekerja, Reza muncul kembali. Tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf. Hanya satu kalimat yang diucapkan:
"Iya kenal, tapi dulu."
Nadia ingin melupakan semuanya, sampai Dika datang, rekan kerja baru yang justru melihat sesuatu yang bahkan Nadia sembunyikan dari dirinya sendiri.
***
Hai semuanya!
Mulai minggu ini aku akan rutin upload cerita terbaru di blog pribadi dan ini adalah cerita pertama aku setelah sekian lama hiatus dari menulis cerita.
Jadwal upload: setiap Sabtu malam pukul 20.00 WIB.
Jangan lupa mampir ya! Siapa tahu ceritanya bisa jadi teman malam Minggu kalian.
Sampai ketemu di postingan berikutnya!
Cheers,
Solihat

Social Media
Search