Friday, November 07, 2025
![]() |
| Photo by Jan Kroon |
Aku selalu mengira jarak akan menghapus semua yang pernah ada.
Obrolan ringan yang kusangka sepele, diskusi hangat yang sering kuanggap rutinitas, hingga pertemuan singkat yang tak pernah benar-benar kupikirkan maknanya.
Kupikir jarak akan menjauhkan kita untuk selamanya.
Tapi ternyata aku naif.
Justru jaraklah yang membuka mataku
Bahwa kebaikanmu selama ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bahasa halus dari perasaan yang bahkan mungkin tak kau sadari tumbuh di hatimu.
Di tempat yang berbeda, aku belajar satu hal:
Perlakuanmu ternyata tidak pernah biasa.
Kebaikanmu memiliki warna yang tak pernah kutemukan di mana pun aku berada.
Aku terlalu kaku menerima perhatian.
Terlalu beku untuk percaya pada kebaikan tanpa syarat.
Terlalu kelu menjawab pujian yang kau ucapkan dengan nada berat dan sungguh-sungguh.
Namun jarak justru membuatku sadar
Aku terlambat memahami semua itu.
Bahwa kebaikan dan perhatian tulusmu telah lama mengetuk dinding pertahananku, mendengar luka-luka yang belum sembuh, membuatku merasa hidup, utuh, dan manusiawi.
Dan anehnya… aku bersyukur atas keterlambatan ini.
Karena ia menyelamatkanku dari kemungkinan-kemungkinan yang tak seharusnya terjadi.
Mungkin kau sudah lama menyadarinya.
Mungkin kau pandai menyembunyikan asa yang pelan-pelan tumbuh di hatimu.
Kita sama-sama tahu ada batas yang tak boleh dilewati.
Ada rasa ingin yang tak akan pernah menjadi nyata.
Kini aku memilih diam.
Memendam semuanya dengan tenang.
Menyimpan kenangan baikmu di sudut hati terdalam
Tempat yang tak akan tersentuh jarak ataupun waktu.
Karena bagiku, kau adalah orang pertama yang membuatku percaya lagi
bahwa aku layak diperlakukan dengan baik,
bahwa mimpiku tidak terlalu besar,
bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya.
Bahwa menjadi manusia berarti punya ruang untuk tumbuh dan memperbaiki.
Terima kasih.
Untuk segalanya yang pernah kau berikan, meski tanpa pernah benar-benar kau ucapkan.
Love,
Ihat
Sunday, November 02, 2025
![]() |
| Photo by Andrew Neel |
Tepat dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengan dia. Seperti yang ditulis Brianna Wiest dalam bukunya 101 Essays that will Change the way You Think,
It's intersting to think about how we make people who used to be everything into nothing again.
Dan mungkin inilah bagian paling berat dari proses melupakan: meski tidak bisa benar-benar ada yang lupa, tapi tentang membiasakan diri dengan kondisi baru. Dia yang dulunya sangat berarti dan hadir setiap hari, kini tidak ada lagi dan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilakukan bersama tentu harus berhenti.
Sudah dititik lelah dan kami memang tidak memiliki tujuan yang sama. Dia yang hanya ingin sekedar menjadi teman saja tanpa melibatkan perasaan, sedangkan aku? Tentu, perasaan itu terlanjur tumbuh seiring dengan banyak hari yang dilalui bersama dengan cerita dan pengalaman yang sering dibagi satu dengan yang lainnya.
Ini bukan yang pertama kalinya aku memutuskan untuk meninggalkan dia. Dulu pun sempat begitu, namun aku tergoda untuk kembali menghubungi dia dan kami menjadi akrab kembali. Dengan harapan dia bisa berubah perasaannya.
Sayang seribu sayang, I wasted my time. Dengan berat hati dan belajar untuk memprioritaskan diri sendiri akhirnya aku kembali memutuskan itu. Meski terkadang di awal terasa berat karena tidak terbiasa dengan rutinitas yang baru, aku terus memaksakan diri aku untuk mulai terbiasa dengan itu semua. Yang biasanya cerita dan berkeluh kesah, atau sekedar mengirim foto tentang pekerjaan kini tak ada lagi notifikasi tentang itu. Yang biasanya perasan-perasaan aku divalidasi oleh dia, kini mau tidak mau aku harus belajar untuk memvalidasi perasaan aku sendiri oleh diri aku sendiri tentunya. Aku tak bisa terus menerus bertumpu dan bersandar pada orang lain. Meski orang itu memberikan kamu kenyamanan, mampu memahami kamu dengan baik, selalu ada kapanpun kamu membutuhkan dia, kalau pada akhirnya dia tidak memiliki niat baik untuk hidup bersama dengan kamu buat apa? Aku tahu aku sadar. He is my type. But then, once again. We haven't both got same intention.
Even we ended, the memories: there are always those bits that linger, on the places you went and the things yous said, and the songs you listened to remain.
Sabtu kemarin, tidak sengaja aku mendengar lagu We Don't Talk Anymore - Charly Puth, Selena Gomez di teachers room. Aku terdiam. Yang dulunya terbiasa saling mengabari, kini hanya saling melihat di story instagram. Aku akui, ada perasaan menyusup yang kadang mendorong aku untuk menghubunginya kembali.
Setelah dihubungi, terus mau apalagi?
Mau melukai diri kamu sendiri sama harapan yang kamu buat sendiri?
Jelas-jelas dia hanya ingin berteman sama kamu. Gak lebih. Kalaupun dia sebaik itu sama kamu, seperhatian itu sama kamu, ingat. Hatinya masih ragu sama kamu, dan tidak pernah mau memperjuangkan kamu. Bukankah jika kedua orang ditakdirkan untuk bisa bersatu, keduanya akan saling memperjuangkan bukan?
Aku kembali mengurungkan niat itu. Dan hanya melihat profil instagramnya sesekali. Meski tidak ada new udpate. Karena memang dia tidak suka update terkait kehidupan dia di sana. Tapi saat ini aku bersyukur pada diri aku sendiri karena aku bisa meredam keinginan itu.
Aku tahu, aku terima, dan aku sadar. Aku tak akan pernah bisa benar-benar melupakan dia. Apalagi dia adalah laki-laki pertama yang mampu membuat aku merasa dihargai, dilihat, dan didengar. Meski begitu, aku yakin. Kita yang pada awalnya asing, akan kembali menjadi asing. Bedanya dulu tanpa kenangan, kini kenangannya akan tetap melekat ada. Walau begitu, semuanya akan pudar seperti sebelumnya. Kelak, jika kita bertemu ataupun harus kembali berkomunikasi kita akan memulai seperti sebelumnya tidak kenal satu sama lain.
We all start as strangers, but we forget that we rarely choose who ends up a stranger, too. - Brianna West -
Dari dia aku belajar, bahwa sampai kapanpun ternyata hanya diri sendiri yang mampu menemani dan tidak akan pernah meninggalkan.
Hi,
I miss you.
And how are you? Hope you're doing well.
Thank you for coming into my life.
Thank you for being my best friend for two years.
Talking, sharing, laughing, and crying with you are such beautiful memories that will be kept in my heart. Event hough, I have to learn to let you go and I know I'm not good at it.
I write it because I miss you.
I realize that we don't share the same intention, and thus why we couldn't meet at the same point and fight for it together.
Hope you can find the right one for you, and I do, too.
Love,
Solihat
Monday, October 27, 2025
![]() |
| Photo by Pixabay |
Hari Minggu sebentar lagi berakhir, dan itu artinya Senin sudah menunggu di depan mata. Kembali lagi bekerja, kembali lagi ke rutinitas.
Ada beberapa hal yang ingin aku highlight selama satu minggu ini.
Pertama, perasaan aku yang mudah berubah. Apalagi kalau si anxiety ini kambuh. Rasanya kayak aku gak bisa fokus sama apa yang harus aku kerjakan atau yang ingin aku sampaikan.
Kedua, kalau mood aku lagi bagus, biasanya akan lebih mudah buat aku untuk menghadapi hari dengan lebih tenang. Rasanya semua if if an dalam kepala itu berhenti sejenak dan hilang entah pergi ke mana.
Ketiga, selalu saja ada momen yang menjengkelkan, bahkan di saat kita udah berusaha untuk menjaga sikap kita sebaik mungkin.
Keempat, tentang usia aku yang 28 tahun dan belum juga menikah. Tentang doa dari senior aku di tempat kerja, dan juga tentang perceraian para artis yang entah kenapa ikut memantul di pikiranku.
Tentang Mood Swing dan Anxiety
Entahlah. Aku juga sedang tidak faham dengan diriku sendiri. Kadang ada aja hal yang bikin aku merasa kayak degdegan gak karuan, panik gak jelas, atau cemas berlebihan setiap kali menghadapi tantangan baru.
Semakin aku belajar menerima tentang perasaan ini, semakin aku sadar dan faham bagaimana hal ini bisa muncul dan bagaimana cara meng-handlenya.
Contoh kecilnya, setiap kali aku mendapatkan tugas baru, otakku langsung overthinking kayak aku tuh merasa aku udah ada di moment itu dengan kejadian-kejadian yang mengerikan dan itupun dibuat oleh fikiran aku sendiri. Alhasil, bukannya aku siap-siap, aku malah banyak menunda. Alasannya?
"Ah susah."
"Ribet." Atau, "nanti aja."
Dan itu tuh terus menerus berputar-putar di kepala gak berhenti. Makannya sedikit demi sedikit setiap ovethinking aku kambuh, termasuk anxiety nya aku paksa diri aku dengan cara memulai untuk membuat persiapan. Daripada bingung di kepala dan tidak ada action yang ada malah overthinking dan anxiety ternyata dengan cara kita melakukan hal-hal tersebut untuk persiapan justru perasaan-perasaan itu berkurang dan aku bisa menemukan cara dan solusinya bagaimana. Nah dari hal tersebut, pada akhirnya membuat aku sadar, setiap kali perasaan aneh itu muncul mau tidak mau aku harus menuliskan apapun dalam selembar kertas, agar semua perasaan-perasaan negatif itu bisa terkendali.
Terakhir aku kasih afirmasi untuk diri aku.
Ingat, yang bisa aku kendalikan hanyalah aapa yang aku persiapkan dan aku sampaikan. Sisanya, apakah orang akan faham atau tidak, komentar orang baik atau bagus, berhasil atau tidak itu di luar jangkuanku. Fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan. Jangan ambil peran Tuhan.
Menjaga Mood
Agar mood nya bagus jangan lupa bangun lebih awal, salat tahajud, sat-set di pagi hari, menyisihkan waktu 20 menit untuk ngobrol sama orang tua, dan jangan lupa ucapkan alhamdulillah walau kamu tahu perasaan-perasaan negatif itu selalu datang.
Kuncinya tetap sama: Fokus pada apa yang bisa aku kendalikan.
Tentang Pertanyaan "Kapan Nikah?"
Entah kenapa, seminggu ini beberapa orang menyinggung aku soal "menikah." Senin lalu, senior di tempat kerja memberi aku sebuah doa untuk meminta jodoh yang didapatkannya dari seorang ustadz setelah pengajian semalam. Satu hal yang membuat aku bisa menerima adalah beliau tidak menjudge aku dengan hal lain, atau menyudutkan aku lantaran aku belum menikah. Beliau dengan sopan menasihati aku untuk terus mengamalkan doa itu dan tidak menutup peluang untuk siapapun yang datang.
Tapi pengalaman yang paling bikin aku kesal di minggu ini dan bikin aku uring-uringan di jalan adalah saat bertemu sahabat lama di toko buku. Momen yang seharusnya menjadi momen temu rindu ini malah jadi momen yang menyakitkan.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut dia setelah kami saling sapa tanya kabar adalah,
"Kamu udah nikah belum?"
Meski agak kaget dan langsung ditodong pertanyaan ini, okay. Ini pertanyaan basi dan aku sudah sering mendapatkannya. Dan pertanyaan ini masih bisa aku toleransi. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan soal sahabat-sahabat kami yang lain yang semuanya udah punya dua anak. Dari empat orang yang dulunya bersahabat ketika SMA, hanya aku yang masih single, belum menikah dan tentunya juga belum punya anak. Dalam hati, ini maksudnya apa sih ngomong-ngomong begini? Terus dia bilang intinya serba kapan. Belum lagi nyinggung soal pakaian aku yang pada saat itu aku pakai celana jeans longgar, sementara memang dia sudah berpakaian syar'i. Dalam hati ngapain sih udah lama gak ketemu malah bahas ginian, orang aku juga gak bahas yang aneh-aneh. Cuma nanya anaknya siapa namanya, kabar dia. Malah dia yang banyak nyeroscos. Sampai pas aku pamitan pulang duluan, dia malah bilang,
"Sibuk ngejar karir mulu ya." Rasanya bak dihantam palu, aku tak menggubris ucapannya dan langsung bersalaman pulang. Begitu pulang dan selama di jalan rasanya aku udah pengen meledak nangis. Ini orang setelah hampir bertahun-tahun gak ketemu, eh sekalinya ketemu malah ngobrol gitu?
Hei! You have no idea what I've been through. Emangnya perkara cari jodoh cuma nunggu di rumah, cari laki sana sini tanpa bekerja? Sorry to say, but I've been living on my own financially. If I want to treat myself, I need to work for it.
Sebegitu sampai di rumah, aku nyeroscos gak karuan di hadapan orang tua aku sambil nangis. Aku kesal dengan perkataan orang tentang hidup aku. Sampai bisa dititik ini juga butuh perjuangan besar untuk aku bisa melewatinya. Bisa tetap hidup, tetap waras, masih inget Allah dan yakin sama apa yang sudah digariskan-Nya juga itu sudah pencapaian besar buat aku. Dan akupun gak perlu membeberkan itu semua kepada dunia bukan?
Destinasi dari hidup juga bukan hanya soal menikah, banyak kebaikan lainnya yang bisa kita lakukan. Kenapa sih orang-orang tuh rese kalau lihat kita belum menikah atau masih jomlo gitu? Kayak aib banget kelihatannya. Bantuin cariin jodoh aja kagak, apalagi bantuin biaya resepsi sama nanggung biaya kehidupan pasca menikahnya.
Mana ngobrolin soal yang lain udah punya dua anak sedangkan aku belum. Ini akan menjadi momen yang sangat menyakitkan kalau posisinya aku sudah menikah dan belum punya anak. Huhuuu.
Mana isu perceraian semakin meningkat. Dari selebritis aja, Raisa misalnya. Kadang aku sadar gitu ya, pernikahan itu bukan hanya soal status: pindah dari single jadi married, bukan. Tapi soal tanggung jawab, komitmen, dan kerja sama.
Aku tumbuh dengan melihat Bapak yang bisa masak, beres-beres rumah, gak pernah ribut sama mamah di depan anak-anaknya, selalu menomor satukan keluarga, act of service, gak banyak nuntut ke istri, urusan rumah itu dikerjakan bersama, tidak merokok, membuat aku punya standar tertentu dalam memilih pasangan. Dan aku rasa, itu bukan sesuatu yang salah.
Terima Kasih, Diri Sendiri
Aku mau mengucapkan terima kasih buat diri aku yang terus menerus mau belajar untuk mengenali diri sendiri dan tetap bertawakal kepada Allah. Karena pada hakikatnya kita ini lemah dan butuh sekali sandaran kepada dzat yang tidak pernah mengecewakan yaitu Allah SWT.
Dan juga jaga lisan. Jangan pernah judge kehidupan orang lain. Kita gak pernah tahu seberat apa mereka memperjuangkan hidup mereka.
Ketiga, aku pengen bilang: I really love my parents. Terima kasih karena selalu ada dan mendengarkan. Tidak pernah menyudutkan atau menyuruh aku untuk cepat-cepat menikah meski aku tahu jauh di lubuk hati mereka pasti mereka khawatir, namun mereka percaya bahwa menikah bukan soal cepat, melainkan soal kesiapan dan pilihan yang tepat.
Love,
Ihat
Monday, October 20, 2025
![]() |
| Photo by Yelena from Pexels |
Three things I'm grateful for today...
When I came out from my house to go to school, I saw that my basket on my bicycle had been fixed! It was broken before, and I immediately knew who had repaired it. My father.
I felt so happy to see that. And without saying anything, my father fixed it yesterday. I had told him that I would bring it to a repair shop, but I got sick and forgot about it. This morning felt like a sweet surprise. Now, I can carry my things more easily, but more than that, I carry the feeling of being cared for.
The second thing I'm so grateful for is being able to wake up early, prepare early, and have time to talk with my parents while they sell their goods things in the morning. They keep supporting me as a teacher, even though they know about how small a teacher's salary can be. They have never blamed me for the major I chose in university. Instead, they always remind me that sincerity and hard work will bring barakah. I feel deeply thankful for their constant support, patience, and faith in me.
The third one is being grateful and proud of myself. Thank you for doing your best today, for trying to let go of things you can't control, for recieving kind prayers from your seniors about your future husband, and ignoring what others say about you. You've focused on what you can handle, put Allah in every single steps you take, and fought against your worries about things that might never happen.
Thank you.
Thank you.
Thank you Allah for giving me small but meaningful moments of sweetness in this limited life. I know through this journey is not easy. And I'm still finding about myself, my desires, my intentions. Thank you for pouring me with blessings and love. I love my parents endlessly. I love them so much. Please, give them happiness in this dunya and akhirah.
Love,
Ihat
Saturday, October 11, 2025
![]() |
| Photo by Anna Tarazevich |
Yesterday was a hard day for me. I felt out of sorts, sluggish, unable to open my hand to the day’s offerings. Perhaps it was just the cumulative weight of things unknown and things missing. I couldn’t name it and that’s why I went to write. Not to clarify things, but simply to release them.
Sometimes, I feel like I spend my days living with my head in the past or the future, forgetting about the present. When I do this, I miss out on the moment that’s right in front of me. A moment that could be filled with joy or peace. A moment where I could be fully engaging with my family or friends, focusing completely on what I’m doing, or simply observing the beauty of the world around me.
Maybe that’s why I often find myself complaining about life.
One of my friends once said,
“Don’t fight the current. Just follow the flow, be sincere, and let go. The more you fight it, the more exhausted you’ll become.”
Another friend told me,
“Why don’t you allow yourself to be a beginner? Try to accept who you are and where you are now. If you’re in a new environment, it’s normal to be a beginner who doesn’t know much yet.”
“Everyone starts somewhere. The people who seem to be doing well today also went through this phase before. Don’t compare your journey with others. Focus on your own process. Everything takes time.”
I went silent after hearing their words. The more I resisted my current situation, denying where I was and forcing myself to be capable right away, the heavier I felt. I didn’t give myself the space to move slowly. I couldn’t run, and even walking felt difficult.
Learning to accept what I have now hasn’t been easy. It took days, even weeks, to train myself to truly accept and make peace with the destiny that Allah has planned for me. But when I finally did, something magical happened. Life that once felt heavy slowly became lighter. Small things started to feel meaningful again, like the presence and support of my parents. Maybe it’s because I’ve learned to say, “Okay, this is just a part of my life, part of my process. Nothing is permanent, and everything in this dunya is temporary.”
Of course, I’m still learning. There are days when I face old triggers and start blaming myself again. But the intensity has decreased, and now I can handle those uncomfortable emotions better.
I’ve started to accept both my strengths and weaknesses. I’ve realized that everyone has their own flaws. No one is truly “better” than others, because in the end, we are all just Allah’s creation: we are weak.
Learning to enjoy the process is hard. There are still moments when I ask myself, “What if I fail? What will people say?” But now, those doubts are answered with calm: “If you fail, it’s okay. Try again.”
No one succeeds in just one try. It takes dozens, hundreds, or even thousands of attempts before success finally comes.
So for now, I remind myself
Just live in the present moment. You can’t live in the past because you can’t change it. And you can’t live in the future either because it’s not guaranteed to come.
Love,
Solihat




.jpg)
Social Media
Search