Friday, November 21, 2025


Blurb

Tahun 2012, Nadia pernah terikat dengan seseorang yang tidak pernah ia temui-Reza, teman sms dan chat FB yang menghilang begitu saja di tengah kedekatan mereka.

Bertahun-tahun kemudian, di sebuah Event Organizer tempat Nadia bekerja, Reza muncul kembali. Tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf. Hanya satu kalimat yang diucapkan:

"Iya kenal, tapi dulu."

Nadia ingin melupakan semuanya, sampai Dika datang, rekan kerja baru yang justru melihat sesuatu yang bahkan Nadia sembunyikan dari dirinya sendiri.


***


Hai semuanya! 

Mulai minggu ini aku akan rutin upload cerita terbaru di blog pribadi dan ini adalah cerita pertama aku setelah sekian lama hiatus dari menulis cerita. 

Jadwal upload: setiap Sabtu malam pukul 20.00 WIB.

Jangan lupa mampir ya! Siapa tahu ceritanya bisa jadi teman malam Minggu kalian.

Sampai ketemu di postingan berikutnya! 


Cheers,

Solihat


Monday, November 10, 2025

Photo by Andrea Piacquadio

Menulis itu berarti mengingat ulang, dan tidak semua ingatan itu menyenangkan. Rintik Sedu. 

Semalam aku membaca blognya Rintik Sedu dan menemukan kalimat itu. Rasanya iya betul banget. Kadang yang membuat kita enggan menulis bukan karena menulisnya, tapi karena kita harus siap berhadapan dengan ingatan yang tidak semuanya menghadirkan senyum. Ada bagian dari diri yang masih perih, yang belum siap disentuh, apalagi dituangkan ke dalam kata.

Aku teringat ketika tahun lalu mengikuti sesi konseling bersama psikolog sekolah. Beliau berkata, “Untuk bisa mengenal luka inner child, cobalah banyak mengobrol dengan diri sendiri atau menulis.”

Satu dua kali aku mencobanya. Tapi setiap kali sampai di titik harus mengingat momen yang menyakitkan, aku menarik diri. Aku berhenti menulis. Seolah tubuh dan pikiranku bersekongkol untuk melindungiku dari rasa sakit itu.

“Bu, rasanya menyesakkan setiap kali ingat momen itu,” kataku pelan. “Aku gak sanggup melihat diri aku di sana, apalagi memeluknya.”

Beliau tersenyum lembut.

“Kalau orang sakit terus minum obat, gimana rasanya?”

“Pahit, Bu.”

“Tapi demi sembuh, tetap harus diminum, kan?”

Aku terdiam.

“Sama seperti jiwa kita. Sesakit apa pun, tetap harus dihadapi. Memang terasa sesak saat menuliskan pengalaman yang tak kita inginkan, tapi setelah itu semuanya akan lebih ringan.”

Beberapa waktu setelahnya, sekolah mengadakan IHT bertema “Deep Secret and Inner Child Healing: Learn How to Make Peace with Your Inner Child and Create A Trauma Free Environment for Your Kids to Grow.” Kami diajarkan berdialog dengan diri sendiri, lewat kata-kata, doa, dan tulisan sambil menatap foto masa kecil kami.

Aku mencobanya.

Tapi baru melihat foto itu saja, air mataku sudah jatuh. Dadaku terasa sesak. Aku gagal lagi menjalani sesi terapi menulis itu. Sampai akhirnya kondisiku makin tidak stabil. Emosiku berantakan, pikiranku mudah kalut. Seorang rekan kerja bahkan berkata lembut, “Kamu kayaknya udah butuh bantuan profesional.” Dan benar saja, aku kembali menemui psikolog sekolah.

Sebenarnya aku tahu apa yang harus kulakukan: mendengarkan diri sendiri, journaling, olahraga, beristirahat. Tapi semua itu selalu kuhindari karena aku tak siap menghadapi rasa sakit setiap kali harus mengingat masa lalu. Hingga suatu hari aku sadar: jika ingin sembuh, aku tidak bisa terus berlari dari hal-hal yang menyakitkan.

Aku pun memulai lagi.

Menulis sambil memandangi foto masa kecilku.

Rasanya seperti membuka kembali luka lama yang belum benar-benar kering. Dua jam lamanya aku habiskan hanya untuk menelusuri ingatan-ingatan yang dulu sengaja kupendam. Keesokan harinya, aku mengabari psikologku. Dan beliau membalas dengan kalimat yang membuatku menangis:

“Subhanallah, Solihah. Dengan lembut Allah berkata kepada teteh:
Aku menulis namamu sebelum bumi ini tercipta. Aku merawatmu, menemanimu, menjagamu, dan tak akan meninggalkanmu meski sekejap matapun. Maka maafkanlah segala hal yang menurutmu tak lengkap dan tak sempurna, karena hanya Aku yang Maha Sempurna.”

Sejak saat itu, aku belajar berdialog dengan diri sendiri. Perlahan, setiap kali aku menulis, rasa sakitnya tak lagi sesedih dulu. Setiap huruf yang kutulis seperti menjadi doa kecil untuk jiwaku sendiri. Aku mulai bisa melepaskan, menerima, dan memaafkan terutama memaafkan diriku sendiri.

Perlakuan orang tuaku pun kini berubah. Lebih hangat, lebih menerima, dan lebih penuh kasih. Perubahan itu membuat proses penyembuhanku semakin mudah. Aku merasa Allah memang bekerja lewat cara-cara yang lembut: melalui orang-orang di sekitarku, melalui rasa sakit yang dulu aku benci, dan melalui tulisan-tulisanku sendiri.

Lucunya, kini aku justru kecanduan menulis. Setiap kali perasaan datang dan aku tak tahu harus berbicara pada siapa, aku menulis. Kadang tanpa arah, tapi selalu berakhir dengan kelegaan. Aku sadar, menulis bukan sekadar kegiatan menuangkan pikiran, melainkan proses berdamai dengan masa lalu, dengan diri sendiri, dan dengan takdir.

Menulis itu memang mengingat ulang. Tapi dari setiap ingatan yang kutulis, aku belajar satu hal: bahwa Allah tidak pernah salah menempatkanku di jalan hidup ini. Ada rasa sakit, ada kehilangan, ada luka tapi di antara itu semua, ada pertumbuhan. Dan setiap kalimat yang kutulis adalah bentuk kecil dari kepercayaanku bahwa setelah setiap perih, ada kesembuhan; setelah setiap tangis, ada ketenangan. 

Kini aku tak lagi menulis untuk melarikan diri, tapi untuk pulang. Pulang kepada diriku sendiri.


Love,

Ihat




Saturday, November 08, 2025

Photo by Saeid Anvar

Aku paham

Ada batas yang tak bisa dilangkahi

Ada garis tipis yang harus tetap dijaga meski hati ingin menyeberanginya

Sialnya, justru jarak yang semestinya menjauhkan malah membuatku terus mengingatmu

Mengulang kembali setiap kebaikan tulusmu yang dulu kupikir hanya sebatas peran yang kau jalani sehari-hari

Ternyata tidak sesederhana itu.


Kita sama-sama terbunuh oleh rindu yang tak pernah bisa diucapkan

Kamu menyiratkannya dalam nada yang meredup

Sementara aku membiarkan diriku tenggelam dalam huruf-huruf yang berantakan

Satu-satunya cara agar perasaanku tak pecah di dalam diam.


Dua orang yang sama-sama terperangkap dalam luka yang tak pernah terbagi

Namun entah bagaimana justru saling mengobati.


Izinkan aku mengungkapkan semua sendu

Semua rindu yang tak pernah selesai ini,

Dalam bentuk kata-kata yang mungkin tidak rapi, tapi jujur.


Aku tahu aku membutuhkanmu

Tapi aku juga tahu aku tak bisa terus menggantungkan hatiku padamu.


Kita sama-sama paham itu.


Terima kasih telah memberi ruang untukku

Ruang untuk menenangkan luka-luka kecil yang tak pernah sempat kupahami,

Ruang untuk tetap percaya padaku dalam hal-hal yang tak pernah kuminta,

dan ruang untuk terus melangkah sementara kamu tetap mengawasiku dari jauh.


Namun masa melangkah dalam satu arah telah berakhir

Meski di hidupmu “selamat tinggal”

Tidak pernah sungguh-sungguh terucap

Ada harap tipis bahwa kelak kita bertemu lagi dengan cerita yang berbeda.


Kebaikanmu meninggalkan jejak yang tak bisa kuabaikan

Aku baru memahaminya

Ketika langkahku sudah menjauh

Ketika aku sadar bahwa tak akan ada lagi ruang untuk bersua ataupun berjumpa kembali

Dengan alasan apapun.


Dan akhirnya semua itu hanya bisa kusimpan dalam hati

Menahan apa pun yang hadir dalam diam

Memeluknya dalam kesunyian

Membiarkan semuanya mereda dengan tenang.


Hingga pada saat nanti tiba waktunya

Yang ditakdirkan untukku akhirnya tiba

Dan tentangmu tak lagi menyisakan resah

Hanya berupa jejak yang menjelma pelajaran. 


Tasikmalaya, 8 November 2025

Seusai hujan reda.

Friday, November 07, 2025

Photo by Jan Kroon


Aku selalu mengira jarak akan menghapus semua yang pernah ada.

Obrolan ringan yang kusangka sepele, diskusi hangat yang sering kuanggap rutinitas, hingga pertemuan singkat yang tak pernah benar-benar kupikirkan maknanya.

Kupikir jarak akan menjauhkan kita untuk selamanya.
Tapi ternyata aku naif.

Justru jaraklah yang membuka mataku
Bahwa kebaikanmu selama ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bahasa halus dari perasaan yang bahkan mungkin tak kau sadari tumbuh di hatimu.

Di tempat yang berbeda, aku belajar satu hal:
Perlakuanmu ternyata tidak pernah biasa.
Kebaikanmu memiliki warna yang tak pernah kutemukan di mana pun aku berada.

Aku terlalu kaku menerima perhatian.
Terlalu beku untuk percaya pada kebaikan tanpa syarat.
Terlalu kelu menjawab pujian yang kau ucapkan dengan nada berat dan sungguh-sungguh.

Namun jarak justru membuatku sadar
Aku terlambat memahami semua itu.
Bahwa kebaikan dan perhatian tulusmu telah lama mengetuk dinding pertahananku, mendengar luka-luka yang belum sembuh, membuatku merasa hidup, utuh, dan manusiawi.

Dan anehnya… aku bersyukur atas keterlambatan ini.
Karena ia menyelamatkanku dari kemungkinan-kemungkinan yang tak seharusnya terjadi.

Mungkin kau sudah lama menyadarinya.
Mungkin kau pandai menyembunyikan asa yang pelan-pelan tumbuh di hatimu.
Kita sama-sama tahu ada batas yang tak boleh dilewati.
Ada rasa ingin yang tak akan pernah menjadi nyata.

Kini aku memilih diam.
Memendam semuanya dengan tenang.
Menyimpan kenangan baikmu di sudut hati terdalam
Tempat yang tak akan tersentuh jarak ataupun waktu.

Karena bagiku, kau adalah orang pertama yang membuatku percaya lagi
bahwa aku layak diperlakukan dengan baik,
bahwa mimpiku tidak terlalu besar,
bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya.
Bahwa menjadi manusia berarti punya ruang untuk tumbuh dan memperbaiki.

Terima kasih.
Untuk segalanya yang pernah kau berikan, meski tanpa pernah benar-benar kau ucapkan.


Love,

Ihat


Sunday, November 02, 2025

Photo by Andrew Neel

Tepat dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengan dia. Seperti yang ditulis Brianna Wiest dalam bukunya 101 Essays that will Change the way You Think,

It's intersting to think about how we make people who used to be everything into nothing again.

Dan mungkin inilah bagian paling berat dari proses melupakan: meski tidak bisa benar-benar ada yang lupa, tapi tentang membiasakan diri dengan kondisi baru. Dia yang dulunya sangat berarti dan hadir setiap hari, kini tidak ada lagi dan kebiasaan-kebiasaan yang pernah dilakukan bersama tentu harus berhenti. 

Sudah dititik lelah dan kami memang tidak memiliki tujuan yang sama. Dia yang hanya ingin sekedar menjadi teman saja tanpa melibatkan perasaan, sedangkan aku? Tentu, perasaan itu terlanjur tumbuh seiring dengan banyak hari yang dilalui bersama dengan cerita dan pengalaman yang sering dibagi satu dengan yang lainnya. 

Ini bukan yang pertama kalinya aku memutuskan untuk meninggalkan dia. Dulu pun sempat begitu, namun aku tergoda untuk kembali menghubungi dia dan kami menjadi akrab kembali. Dengan harapan dia bisa berubah perasaannya. 

Sayang seribu sayang, I wasted my time. Dengan berat hati dan belajar untuk memprioritaskan diri sendiri akhirnya aku kembali memutuskan itu. Meski terkadang di awal terasa berat karena tidak terbiasa dengan rutinitas yang baru, aku terus memaksakan diri aku untuk mulai terbiasa dengan itu semua. Yang biasanya cerita dan berkeluh kesah, atau sekedar mengirim foto tentang pekerjaan kini tak ada lagi notifikasi tentang itu. Yang biasanya perasan-perasaan aku divalidasi oleh dia, kini mau tidak mau aku harus belajar untuk memvalidasi perasaan aku sendiri oleh diri aku sendiri tentunya. Aku tak bisa terus menerus bertumpu dan bersandar pada orang lain. Meski orang itu memberikan kamu kenyamanan, mampu memahami kamu dengan baik, selalu ada kapanpun kamu membutuhkan dia, kalau pada akhirnya dia tidak memiliki niat baik untuk hidup bersama dengan kamu buat apa? Aku tahu aku sadar. He is my type. But then, once again. We haven't both got same intention. 

Even we ended, the memories: there are always those bits that linger, on the places you went and the things yous said, and the songs you listened to remain. 

Sabtu kemarin, tidak sengaja aku mendengar lagu We Don't Talk Anymore - Charly Puth, Selena Gomez di teachers room. Aku terdiam. Yang dulunya terbiasa saling mengabari, kini hanya saling melihat di story instagram. Aku akui, ada perasaan menyusup yang kadang mendorong aku untuk menghubunginya kembali. 

Setelah dihubungi, terus mau apalagi?

Mau melukai diri kamu sendiri sama harapan yang kamu buat sendiri?

Jelas-jelas dia hanya ingin berteman sama kamu. Gak lebih. Kalaupun dia sebaik itu sama kamu, seperhatian itu sama kamu, ingat. Hatinya masih ragu sama kamu, dan tidak pernah mau memperjuangkan kamu. Bukankah jika kedua orang ditakdirkan untuk bisa bersatu, keduanya akan saling memperjuangkan bukan? 

Aku kembali mengurungkan niat itu. Dan hanya melihat profil instagramnya sesekali. Meski tidak ada new udpate. Karena memang dia tidak suka update terkait kehidupan dia di sana. Tapi saat ini aku bersyukur pada diri aku sendiri karena aku bisa meredam keinginan itu. 

Aku tahu, aku terima, dan aku sadar. Aku tak akan pernah bisa benar-benar melupakan dia. Apalagi dia adalah laki-laki pertama yang mampu membuat aku merasa dihargai, dilihat, dan didengar. Meski begitu, aku yakin. Kita yang pada awalnya asing, akan kembali menjadi asing. Bedanya dulu tanpa kenangan, kini kenangannya akan tetap melekat ada. Walau begitu, semuanya akan pudar seperti sebelumnya. Kelak, jika kita bertemu ataupun harus kembali berkomunikasi kita akan memulai seperti sebelumnya tidak kenal satu sama lain.

We all start as strangers, but we forget that we rarely choose who ends up a stranger, too. - Brianna West -

Dari dia aku belajar, bahwa sampai kapanpun ternyata hanya diri sendiri yang mampu menemani dan tidak akan pernah meninggalkan.  

Hi,

I miss you. 

And how are you? Hope you're doing well. 

Thank you for coming into my life. 

Thank you for being my best friend for two years. 

Talking, sharing, laughing, and crying with you are such beautiful memories that will be kept in my heart. Event hough, I have to learn to let you go and I know I'm not good at it. 

I write it because I miss you. 

I realize that we don't share the same intention, and thus why we couldn't meet at the same point and fight for it together.

Hope you can find the right one for you, and I do, too. 


Love,

Solihat



Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi