Saturday, December 06, 2025

Photo by daniyal gh

Di kehidupan berikutnya kamu mau jadi apa?

Aku dapat pertanyaan ini dari buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya yang ditulis oleh dr. Andreasa Kurniawan, Sp.KJ. 

Kalau dipikir-pikir, dalam Islam setelah mati memang ada kehidupan selanjutnya, yaitu akhirat. Jadi, sebenarnya pertanyaan ini mungkin tidak terlalu relevan ya. Tapi baiklah, kalau seandainya ada “kehidupan berikutnya” dalam arti lain, aku ingin menjadi… burung.

Kenapa burung? Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar bebas. Terbang ke sana kemari tanpa batas, tanpa banyak hal yang mengikat. Melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari atas pohon, dari tanah, dari atap rumah. Menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Menikmati angin yang menyentuh tubuh tanpa harus memikirkan apa-apa. Sepertinya menyenangkan sekali menjadi burung.

Kadang aku membayangkan, betapa tenangnya hidup jika bisa berpindah tempat hanya dengan mengepakkan sayap. Enggak ada rencana yang rumit, gak ada tekanan untuk selalu kuat, atau beban untuk menjadi versi terbaik setiap saat. Hanya ada aku, udara, dan semesta yang luas. Betapa ringan hidup ketika yang perlu dipikirkan hanya terbang dan kembali pulang.

Kalau jadi manusia ya begini. Banyak aturan, banyak tanggung jawab, banyak hal yang harus dikerjakan dan diurusi. Ada lelah yang tak bisa dijelaskan. Ada ekspektasi, ada tuntutan, ada suara-suara dari luar yang kadang lebih keras dari suara hatiku sendiri. Ruang gerakku sering terasa sempit, seolah aku harus menyesuaikan diri terus-menerus.

Mungkin itu sebabnya bayangan menjadi burung terasa begitu menenangkan; seru, ringan, dan bebas. Seolah aku bisa beristirahat sebentar dari ributnya dunia, dan kembali mengingat bahwa hidup juga bisa sesederhana menikmati angin yang berhembus di antara sayap.

Jadi gimana? Hmm...

Sebenarnya ketika menulis ini aku gak tahu arah tulisannya ke mana. Tapi tulisan ini juga jadi mengingatkan aku bahwa gak semua manusia bisa menikmati angin yang berhembus kan? Kadang kita banyak melewatkannya tanpa sadar. Padahal beberapa waktu lalu, saat aku mencoba menikmati angin secara sadar, rasanya luar biasa… bagaimana angin membelai lembut pipiku, seperti mengingatkan bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan sesuatu.

Ternyata banyak hal yang kita lewati dalam hidup hanya karena kita terlalu fokus pada hal-hal besar. Padahal mungkin, kebahagiaan yang kita cari selama ini tersimpan di momen-momen kecil yang selama ini tak sempat kita hiraukan. 


Cheers, 

Ihat

Saturday, November 29, 2025

Aula SMP tempat lomba olimpiade Fisika tingkat kota itu riuh oleh suara langkah dan peserta yang berbisik-bisik. Nadia duduk di kursinya sambil memeluk tas, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak pagi dag-dig-dug tak beraturan. 

Meski gugup, ada sedikit kebanggaan dalam dirinya. Guru Fisika memilihnya untuk mewakili sekolah. Itu bukan hal kecil untuk anak SMP kelas 2 yang biasanya lebih sibuk dengan komik dan tugas kelompok.

"Duh, dingin ya ruangannya," gumam Sari, sahabat Nadia , sambil mengusap lengan.

Nadia mengangguk. Namun perhatiannya langsung teralih saat melihat seseorang kakak panitia lewat di depan pintu. Usianya mungkin SMA. Tubuhnya lebih tinggi, lebih dewasa, dengan papan nama ... Sayangnya terbalik tergantung di lehernya. Ia membawa tumpukan map sambil bergegas. 

Entah kenapa, Nadia malah terpaku. 

"Kamu lagi liat apa sih?" Sari mencondongkan tubuhnya, mencoba mengikuti arah padangan Nadia.

Nadia buru-buru menunduk. "Enggak... enggak lihat apa-apa, kok."

Sari mengangkat alis curiga.

Tak lama panitia itu kembali lewat. Rambutnya sedikit berantakan, tapi itu justru yang membuatnya terlihat... berbeda. Tidak seperti cowok sebayanya. Lebih keren. Lebih tenang. Lebih... menarik. 

Sari menekan bibirnya, menahan tawa. "Kamu suka, ya?"

Nadia mencubit lengan Sari, "Apaan sih! Enggak!"

Tapi pipinya merah terbantahkan oleh omongannya sendiri. 


***


Setelah lomba selesai, para peserta bubar. Nadia dan Sari berjalan menuju gerbang sekolah, sesekali membahas soal yang rumit dan bagaimana Nadia yakin ia salah menjawab soal terakhir.

Di sudut halaman, para panitia sibuk mengumpulkan perlengkapan. Panitia itu ada di sana, menunduk sambil membereskan kertas pendaftaran. Nadia melintas sambil menundukkan kepala, berusaha tidak ketahuan mencuri pandang lagi.

Sari menahan tawa kecil. "Halah, sok malu."

"Udah jangan bahas..." gumam Nadia, mendorong Sari ke arah angkot.

Hari itu berakhir begitu saja. 

Atau setiddaknya Nadia pikir begitu.


***

Pengumuman hasil lomba baru saja diumumkan tadi pagi setelah upacara selesai. Butuh dua minggu untuk Nadia dan Sari menunggu hasil lomba Fisika tersebut. Sayangnya keduanya gagal melaju ke tingkat provinsi. 

Malamnya, saat Nadia sedang mengerjakan PR Matematika, HP Nokia 3310 miliknya bergetar pelan. Nada SMS masuk berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Hai. Ini Reza, panitia olimpiade Fisika tingkat Kota. Apakah ini dengan Nadia Putri Anindya?

Jantung Nadia langsung berdebar tak menentu. 

Jangan-jangan mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya? Fikir Nadia. 

Ia membaca ulang SMS itu setidaknya empat kali, sebelum akhirnya Sari menelfon untuk menanyakan soal PR.

"Ada SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal." Ucap Nadia begitu ia menjawab telfon dari Sari.

"Dari siapa?"

"Bilangnya dari panitia olimpiade Fisika tingkat kota kemaren. Namanya Reza."

Sari diam sesaaat. "Jangan-jangan yang kamu taksir itu lagi!"

"Enggak tahu juga sih, barangkali mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya?" Jawab Nadia santai walau sebenarnya hatinya masih berdebar tak karuan. 

Sambil ngalor-ngidul membahas PR, fikiran Nadia masih ada di pesan baru itu.  Nadia menatap langit-langit kamarnya begitu telfon selesai dimatikan dan membiarkan pesan itu terbuka begitu saja. 

Iya betul. Ada apa ya Kak?

Balasan datang cepat.

Tadi saya beresin berkas pendaftaran, saya lihat tulisan kamu dan nomor kamu di sana. Pengen kenalan aja, boleh kan?

Percakapan lewat SMS pun berlanjut. Beruntung Nadia punya gratisan SMS sampai jam dua belas malam. Reza ternyata ramah. Menanyakan sekolah Nadia, kemudian tentang olimpiade itu, dan hal-hal kecil yang membuat Nadia tersenyum tanpa sadar.

Malam itu, Nadia tidur dengan pesan yang ia sengaja buka.

Ya udah, gih tidur sana. Besok kan sekolah. Selamat tidur, Nadia. Mimpi yang indah ya.


***


Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Nadia dan Sari sepakat untuk pergi ke warnet sebrang sekolah. Tak henti-hentinya Nadia bercerita soal sms semalam itu pada Sari. 

"Udah tahu nama lengkapnya kan? Kita cek di Facebook!" Ucap Sari begitu mereka masuk ke dalam warnet. Siang itu entah kenapa banyak sekali anak-anak lain yang datang ke sana. Niat Nadia dan Sari akan menggunakan komputer secara terpisah, namun karena tersisa satu bilik yang kosong, akhirnya terpaksa mereka masuk ke bilik tersebut bersama.

"Ya udah kamu dulu yang login ke Facebook." 

Tanpa banyak bicara, Nadia langsung login ke Facebooknya sembari melihat dulu ke buku kecilnya untuk memastikan bahwa email dan passwordnya itu sama. Setelah berhasil login, dengan hati yang berharap-harap cemas, ia mengetikan nama lelaki itu.

Reza Pratama.

Jari-jarinya gemetar.

Dan ketika hasil pencarian itu muncul....Urutan pertama adalah ....!

Itu dia! Kakak panitia yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama.

Nadia menahan napas keras-keras.

"Ya ampun, itu dia beneran Nadd!!" Sari yang duduk di samping Nadia tak kalah ikut kaget juga. 

Nadia menutup mulutnya, menahan senyum lebar.

Nadia memeluk Sari erat.

Hari itu, tanpa Nadia sadari, sesuatu dimulai.

Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

Sesuatu yang... mungkin akan lama membekas. 

Friday, November 21, 2025


Blurb

Tahun 2012, Nadia pernah terikat dengan seseorang yang tidak pernah ia temui-Reza, teman sms dan chat FB yang menghilang begitu saja di tengah kedekatan mereka.

Bertahun-tahun kemudian, di sebuah Event Organizer tempat Nadia bekerja, Reza muncul kembali. Tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf. Hanya satu kalimat yang diucapkan:

"Iya kenal, tapi dulu."

Nadia ingin melupakan semuanya, sampai Dika datang, rekan kerja baru yang justru melihat sesuatu yang bahkan Nadia sembunyikan dari dirinya sendiri.


***


Hai semuanya! 

Mulai minggu ini aku akan rutin upload cerita terbaru di blog pribadi dan ini adalah cerita pertama aku setelah sekian lama hiatus dari menulis cerita. 

Jadwal upload: setiap Sabtu malam pukul 20.00 WIB.

Jangan lupa mampir ya! Siapa tahu ceritanya bisa jadi teman malam Minggu kalian.

Sampai ketemu di postingan berikutnya! 


Cheers,

Solihat


Monday, November 10, 2025

Photo by Andrea Piacquadio

Menulis itu berarti mengingat ulang, dan tidak semua ingatan itu menyenangkan. Rintik Sedu. 

Semalam aku membaca blognya Rintik Sedu dan menemukan kalimat itu. Rasanya iya betul banget. Kadang yang membuat kita enggan menulis bukan karena menulisnya, tapi karena kita harus siap berhadapan dengan ingatan yang tidak semuanya menghadirkan senyum. Ada bagian dari diri yang masih perih, yang belum siap disentuh, apalagi dituangkan ke dalam kata.

Aku teringat ketika tahun lalu mengikuti sesi konseling bersama psikolog sekolah. Beliau berkata, “Untuk bisa mengenal luka inner child, cobalah banyak mengobrol dengan diri sendiri atau menulis.”

Satu dua kali aku mencobanya. Tapi setiap kali sampai di titik harus mengingat momen yang menyakitkan, aku menarik diri. Aku berhenti menulis. Seolah tubuh dan pikiranku bersekongkol untuk melindungiku dari rasa sakit itu.

“Bu, rasanya menyesakkan setiap kali ingat momen itu,” kataku pelan. “Aku gak sanggup melihat diri aku di sana, apalagi memeluknya.”

Beliau tersenyum lembut.

“Kalau orang sakit terus minum obat, gimana rasanya?”

“Pahit, Bu.”

“Tapi demi sembuh, tetap harus diminum, kan?”

Aku terdiam.

“Sama seperti jiwa kita. Sesakit apa pun, tetap harus dihadapi. Memang terasa sesak saat menuliskan pengalaman yang tak kita inginkan, tapi setelah itu semuanya akan lebih ringan.”

Beberapa waktu setelahnya, sekolah mengadakan IHT bertema “Deep Secret and Inner Child Healing: Learn How to Make Peace with Your Inner Child and Create A Trauma Free Environment for Your Kids to Grow.” Kami diajarkan berdialog dengan diri sendiri, lewat kata-kata, doa, dan tulisan sambil menatap foto masa kecil kami.

Aku mencobanya.

Tapi baru melihat foto itu saja, air mataku sudah jatuh. Dadaku terasa sesak. Aku gagal lagi menjalani sesi terapi menulis itu. Sampai akhirnya kondisiku makin tidak stabil. Emosiku berantakan, pikiranku mudah kalut. Seorang rekan kerja bahkan berkata lembut, “Kamu kayaknya udah butuh bantuan profesional.” Dan benar saja, aku kembali menemui psikolog sekolah.

Sebenarnya aku tahu apa yang harus kulakukan: mendengarkan diri sendiri, journaling, olahraga, beristirahat. Tapi semua itu selalu kuhindari karena aku tak siap menghadapi rasa sakit setiap kali harus mengingat masa lalu. Hingga suatu hari aku sadar: jika ingin sembuh, aku tidak bisa terus berlari dari hal-hal yang menyakitkan.

Aku pun memulai lagi.

Menulis sambil memandangi foto masa kecilku.

Rasanya seperti membuka kembali luka lama yang belum benar-benar kering. Dua jam lamanya aku habiskan hanya untuk menelusuri ingatan-ingatan yang dulu sengaja kupendam. Keesokan harinya, aku mengabari psikologku. Dan beliau membalas dengan kalimat yang membuatku menangis:

“Subhanallah, Solihah. Dengan lembut Allah berkata kepada teteh:
Aku menulis namamu sebelum bumi ini tercipta. Aku merawatmu, menemanimu, menjagamu, dan tak akan meninggalkanmu meski sekejap matapun. Maka maafkanlah segala hal yang menurutmu tak lengkap dan tak sempurna, karena hanya Aku yang Maha Sempurna.”

Sejak saat itu, aku belajar berdialog dengan diri sendiri. Perlahan, setiap kali aku menulis, rasa sakitnya tak lagi sesedih dulu. Setiap huruf yang kutulis seperti menjadi doa kecil untuk jiwaku sendiri. Aku mulai bisa melepaskan, menerima, dan memaafkan terutama memaafkan diriku sendiri.

Perlakuan orang tuaku pun kini berubah. Lebih hangat, lebih menerima, dan lebih penuh kasih. Perubahan itu membuat proses penyembuhanku semakin mudah. Aku merasa Allah memang bekerja lewat cara-cara yang lembut: melalui orang-orang di sekitarku, melalui rasa sakit yang dulu aku benci, dan melalui tulisan-tulisanku sendiri.

Lucunya, kini aku justru kecanduan menulis. Setiap kali perasaan datang dan aku tak tahu harus berbicara pada siapa, aku menulis. Kadang tanpa arah, tapi selalu berakhir dengan kelegaan. Aku sadar, menulis bukan sekadar kegiatan menuangkan pikiran, melainkan proses berdamai dengan masa lalu, dengan diri sendiri, dan dengan takdir.

Menulis itu memang mengingat ulang. Tapi dari setiap ingatan yang kutulis, aku belajar satu hal: bahwa Allah tidak pernah salah menempatkanku di jalan hidup ini. Ada rasa sakit, ada kehilangan, ada luka tapi di antara itu semua, ada pertumbuhan. Dan setiap kalimat yang kutulis adalah bentuk kecil dari kepercayaanku bahwa setelah setiap perih, ada kesembuhan; setelah setiap tangis, ada ketenangan. 

Kini aku tak lagi menulis untuk melarikan diri, tapi untuk pulang. Pulang kepada diriku sendiri.


Love,

Ihat




Saturday, November 08, 2025

Photo by Saeid Anvar

Aku paham

Ada batas yang tak bisa dilangkahi

Ada garis tipis yang harus tetap dijaga meski hati ingin menyeberanginya

Sialnya, justru jarak yang semestinya menjauhkan malah membuatku terus mengingatmu

Mengulang kembali setiap kebaikan tulusmu yang dulu kupikir hanya sebatas peran yang kau jalani sehari-hari

Ternyata tidak sesederhana itu.


Kita sama-sama terbunuh oleh rindu yang tak pernah bisa diucapkan

Kamu menyiratkannya dalam nada yang meredup

Sementara aku membiarkan diriku tenggelam dalam huruf-huruf yang berantakan

Satu-satunya cara agar perasaanku tak pecah di dalam diam.


Dua orang yang sama-sama terperangkap dalam luka yang tak pernah terbagi

Namun entah bagaimana justru saling mengobati.


Izinkan aku mengungkapkan semua sendu

Semua rindu yang tak pernah selesai ini,

Dalam bentuk kata-kata yang mungkin tidak rapi, tapi jujur.


Aku tahu aku membutuhkanmu

Tapi aku juga tahu aku tak bisa terus menggantungkan hatiku padamu.


Kita sama-sama paham itu.


Terima kasih telah memberi ruang untukku

Ruang untuk menenangkan luka-luka kecil yang tak pernah sempat kupahami,

Ruang untuk tetap percaya padaku dalam hal-hal yang tak pernah kuminta,

dan ruang untuk terus melangkah sementara kamu tetap mengawasiku dari jauh.


Namun masa melangkah dalam satu arah telah berakhir

Meski di hidupmu “selamat tinggal”

Tidak pernah sungguh-sungguh terucap

Ada harap tipis bahwa kelak kita bertemu lagi dengan cerita yang berbeda.


Kebaikanmu meninggalkan jejak yang tak bisa kuabaikan

Aku baru memahaminya

Ketika langkahku sudah menjauh

Ketika aku sadar bahwa tak akan ada lagi ruang untuk bersua ataupun berjumpa kembali

Dengan alasan apapun.


Dan akhirnya semua itu hanya bisa kusimpan dalam hati

Menahan apa pun yang hadir dalam diam

Memeluknya dalam kesunyian

Membiarkan semuanya mereda dengan tenang.


Hingga pada saat nanti tiba waktunya

Yang ditakdirkan untukku akhirnya tiba

Dan tentangmu tak lagi menyisakan resah

Hanya berupa jejak yang menjelma pelajaran. 


Tasikmalaya, 8 November 2025

Seusai hujan reda.

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi