Wednesday, January 14, 2026

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write your goals for the next 1 month

Gak muluk-muluk dan gak besar juga sih. Cukup simple tapi aku tahu gak semua orang juga bisa. Goals aku di satu bulan kedepan adalah sering nulis di blog, satu hari satu tulisan, bisa baca minimal 2 buku. Buku apapun itu. Bebas yang penting bisa beres dibaca. Sama rajin olahraga pagi. Mau jalan kaki, sepedahan, lari apapun itu yang penting gerak di pagi hari. 

Entahlah untuk saat ini aku gak punya target yang besar-besar. Semuanya aku coba runut menjadi hal-hal kecil yang bisa aku lakukan setiap hari tapi konsisten. Nah ini sih, di konsistennya. Karena untuk bisa konsisten kan gak melulu soal mood gak mood. Mau dalam keadaan apapun yang tetap dikerjakan karena itu sudah komitmen dengan diri sendiri. Ini sih terutama modalnya disiplin juga ya. 

Yah gitu sih gak muluk-muluk. Kelihatannya mudah, tapi gak semua orang bisa melakukannya dengan konsisten kan? Huhuuu

Tuesday, January 13, 2026

Hai readers! Maaf terlambat untuk menulis reklefsi minggu kemarin. Aku sakit dari hari Sabtu kemarin. Alhamdulillahnya sekarang sudah membaik. 

Hari Sabtu lebih tepatnya. Sabtu shubuh, tiba-tiba aku sakit perut tak tertahankan. Langsung pergi ke Puskesmas diantar Bapak dan setelah diperiksa ternyata aku didiagnosis gejala usus buntu. Aku menghela napas panjang. Yallah, apalagi ini? 

Aku berjalan gontai menuju tempat parkir begitu selesai pemeriksaan. Rasa sakit di perutku masih terasa, tapi masih bisa ku tahan. 

Kalau sudah gak kuat nahan sakitnya, langsung ke IGD saja. 

Terngiang-ngiang suara dokter di telingaku dan segera ku tepis. Amit-amit sampai dibawa ke IGD.

Selama perjalanan pulang ke rumah aku terus mikir. Ini kok tiba-tiba sakit begini ya? Habis makan apa? Padahal makan pedes suka dikit, udah dikurangi levelnya. Apa jangan-jangan karena keseringan kali ya? Ditambah jarang makan sayur dan buah. Ya sudahlah. Aku terdiam dan mengakui bahwa aku salah. 

Begitu sampai rumah, aku langsung makan bubur lalu minum obat. Beberapa menit setelah itu rasa sakit kembali lagi datang menyerang bahkan sampai muntah. Hampir di hari itu apa yang aku makan kembali lagi dimuntahkan. Malamnya ketika akan tidur, aku melihat ke langit-langit kamar.

Ya Allah, aku gak mau mati karena aku sakit ini. Aku mau sembuh, aku mau sehat.

Tiba-tiba aku terdiam lagi. Hah? Serius? Bukannya beberapa minggu lalu dipikiran kamu hanya ada kalimat gimana caranya mati? 

Tak lama dari itu, air mata menetes. Enggak Ya Allah, aku masih mau hidup, masih mau melakukan banyak hal, tolong angkat penyakit ini, jangan biarin aku mati. 

Sampai akhirnya aku tertidur, walau sedikit-sedikit terbangun karena rasa sakitnya masih terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. 

Pada awalnya, aku udah ngeluh kayak kenapa sih, Allah kasih aku ujian lagi? Belum juga selesai masalah mental aku, sekarang fisik aku juga kena. Aku capek. Tapi setelah sadar aku jadi berpikir, ternyata dengan didatangkannya rasa sakit ini justru muncul semangat baru dalam hidup agar aku sehat dan bisa hidup lebih lama. 

Yah begitulah. Intinya harus back to real food, forget fast food and friends. 

See you!


Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write about the three most important people you’ve ever met

Ini harus banget tiga ya. Okay. Aku akan menulis tiga orang ini berdasarkan nama-nama yang muncul begitu aja di kepala dan mempengaruhi cara pandang aku soal hidup. 

1. Pak Mus (Mantan Rekan Kerja sekaligus Atasan Aku)

Hidup aku mulai jungkir balik dengan segala perspektif baru setelah beliau menunjuk aku untuk menjadi Pembina OSIS. Luar biasa darderdor nya dengan aku yang minim ilmu mengenai leadership. Berbekal pengalaman berorganisasi selama di sekolah dulu dan di pondok satu persatu bisa dilalui. Satu hal yang selalu aku ingat dari perkataan beliau setiap kenyataan tak sesuai dengan harapan adalah,

"Gak apa-apa Bu. Kita cuma bisa berencana, semua yang terjadi itu di luar kuasa kita."

Atau,

"Gak apa-apa, Bu. Gak harus nunggu sempurna buat mulai. Yang penting mulai aja dulu, nanti kurangnya dievaluasi dan diperbaiki."

Dari sana perlahan aku belajar untuk lebih legowo tentang hidup. Mau sehebat apapun kita merancang, tetap ada yang lebih Maha Hebat lagi, yaitu Allah. Jadi setelah banyak berusaha dan berdoa, sisanya serahkan ya.

2. Bu Risma 

Teman, sahabat, sekaligus alarm aku tentang akhirat heheheee. Dari dia aku belajar bahwa saat terjadi sesuatu yang tidak sesuai perbanyak istighfar, deketin Allah, minta sama Allah, jangan jauh sama Allah. Pokoknya apa-apa Allah dulu, Allah lagi, Allah terus lah gitu. Yang selalu menyemangati aku di kala aku sedang down. Atau dia akan mengajak kita untuk merenung sejenak alih-alih banyak scrolling gak jelas. Selain itu kadang kalau aku lagi grasak-grusuk gak jelas dia akan mengingatkan aku untuk lebih bersabar lagi. 

"Sabar, Ceu. Gak usah buru-buru. Mau ke mana sih?"

3. Kak Anwar

Pertama kali bertemu di English Volunteers, orang yang peka banget sama perasaan orang, orang yang untuk pertama kalinya tiba-tiba nyuruh aku nangis, mengingatkan aku kalau lagi gak baik-baik aja dan jangan semunya dipendam sendiri. Awalnya tersinggung sih, kayak ngapain sih nih orang baru aja kenal udah sok tahu hahahaaa. Tapi lambat laun memang aku sedang tidak baik-baik saja dan selalu berusaha untuk terlihat kuat padahal sebenarnya udah mulai hancur dari dalam. 

Teman mengobrol untuk hal-hal random sampai hal-hal yang harus dipikirin. Apalagi semenjak didagnosis depressive episode aku serasa punya teman untuk sama-sama mengobrol hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang gila wkwkwk. Perspektifnya soal hidup membuat aku bisa memiliki harapan baru lagi, apalagi dia sering jalan-jalan ke luar negeri bikin aku mikir, 

"Ok, aku gak mau mati sekarang. Aku pengen bisa jalan-jalan ke luar negeri kayak dia."


Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

Write a letter to a close friend that you lost contact with

Dear Silmi,

Kamu apa kabar? Udah lama banget ya kita gak ketemu. Terakhir ketemu ya waktu kita masih TK. Meski begitu aku akan selalu mengingat kamu karena kamu orang baik dan orang yang pertama kali mengajak kenalan denganku ketika aku masih malu menjadi murid baru. 

Kamu di mana sekarang? Kira-kira kalau kamu ketemu aku, kamu bakal ingat aku enggak? Kalau kamu lupa kayaknya aku bakal nangis sih. Hahahaaa.

Aku ingat banget gimana kamu suka traktir aku jajan susu karena uang bekal aku sedikit. Atau kamu bagi makanan kamu sama aku. Main bareng sepulang sekolah, sampai aku ingat banget waktu Mamah kamu datang buat jenguk Mamah aku yang pada saat itu sama-sama sedang mengandung.

Oh iya, terakhir aku dengar, Mamah kamu sudah tidak ada. Aku sedih mendapat kabar itu. Bagaimana pun, Mamah kamu itu baik banget sama aku. 

Gak banyak yang ingin aku sampaikan sama kamu, aku cuma pengen bilang aku rindu dan ingin bertemu. Semoga kamu di sana sehat dan bahagia ya!

Masih di episode #30DaysWritingChallenge yang terinspirasi dari blognya Kak Kevin Anggara www.kevinanggara.com  untuk topik perharinya juga aku mengambil semua dari blognya beliau.

What is the biggest lesson you learned till now?

"Jangan jadi gak enakan. Nanti malah ditindas orang seenaknya."

"Jangan apa-apa iya-iya terus. Sesekali harus belajar bilang "enggak."

"Jangan membenani diri sendiri dengan kata iya, kalau gak sanggup bilang daripada menyiksa diri."

Dari beberapa teman dekatku selalu saja bilang begitu. Aku tahu dan aku kenal diriku yang begitu people pleasure sampai apapun yang diminta orang aku turuti dan aku terima. 

Sampai suatu ketika pernah rekan kerjaku yang sudah agak kesal denganku langsung menolak beberapa pekerjaan yang tadinya akan diberikan padaku. Aku hanya melongo pada saat itu. Dari sana aku berpikir, orang lain aja bisa paham kalau kamu itu sudah kesulitan dan tak perlu lagi menambah beban, lalu kenapa diri kamu sendiri yang selalu mengiyakan keinginan mereka semua?

Semenjak kejadian itu aku mulai belajar untuk berkata tidak. Meski di awal rasanya gak enak ya tapi justru bikin lega. Makin ke sini makin belajar lagi untuk memprioritaskan diri sendiri. Karena aku paham aku gak bisa terus bergantung sama rekan kerjaku itu untuk membelaku berkata tidak. 

Dan sampai sekarang aku masih belajar soal ini. Aku menikmati prosesnya sampai suatu hari nanti aku akan terbiasa bilang tidak pada sesuatu yang aku sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Karena pada akhirnya kita gak bisa menyenangkan semua orang kan?

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi