Monday, May 04, 2026
Selamat malam, selamat hari Senin!
Gimana hari Seninnya? Berjalan lancar? Atau belum sesuai dengan apa yang ditargetkan? Gak apa-apa. Masih ada esok, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Yang penting tutup hari kamu dengan pelukan hangat untuk diri kamu sendiri. Berterima kasihlah pada dirimu karena sudah menemani dirimu sejauh ini.
Sebenarnya ini tuh terlambat sih ya buat nulis refleksi mingguannya. Iya, harusnya kemarin hari Minggu. Tapi gak apa-apa lah ya.
Mm, seminggu kemarin yang ingin aku syukuri adalah aku mau berterima kasih sama diri aku sendiri karena sudah memilih berjuang daripada menyerah. Curiosity akan musim yang sedang aku alami ini akhirnya membawaku duduk di hadapan seorang psikolog.
Sesi konseling pertama selama 1,5 jam itu berhasil memperlihatkan sisi lain dari diriku. Dari rangkaian cerita yang kusampaikan, ternyata ada satu pola yang tidak kusadari telah membentukku selama ini:
MELARIKAN DIRI.
Iya, melarikan diri. Tanpa sadar, setiap ada masalah, aku cenderung menghindar. Entah itu dengan cara mengalah padahal aku punya hak membela diri, atau hal kecil seperti menunda membalas pesan karena takut membukanya, padahal isinya biasa saja. Bahkan sampai pada titik memilih tidak masuk kerja hanya karena enggan menghadapi sesuatu.
Psikologku sempat berujar bahwa keputusanku pulang ke kampung halaman pun mungkin bentuk dari pelarian. Namun, aku memilih untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan itu. Aku tahu persis kenapa aku keluar dari pekerjaan sebelumnya: mental yang sudah tidak sehat dan realita yang tak lagi sejalan dengan cita-cita. Aku teringat pesan seorang teman: “Tidak semua perkataan ahli harus kamu cerna bulat-bulat, karena ada bagian dari dirimu yang hanya kamu sendiri yang paham.” Apalagi ini baru pertemuan pertama; 1,5 jam tentu tak cukup untuk merunut semua luka, apalagi ditambah episode menangisnya, kan? :D
Meski begitu, pernyataan itu membekas. Aku sadar tidak bisa terus berada dalam pola yang sama. Sekarang, aku belajar untuk mengomunikasikan hal-hal yang tidak enak, alih-alih menutup diri dan membuat kesimpulan sendiri. Siapa tahu dengan bicara baik-baik, ada jawaban yang menenangkan? Setidaknya, aku tidak lagi menerka-nerka dalam penyesalan.
Aku tahu ini tidak mudah. Memutus pola komunikasi dan problem solving yang tidak sehat itu butuh waktu. Menariknya, aku merasa "melarikan diri" bukanlah akar masalahku yang sebenarnya. Mungkin itu hanya faktor pendukung dari beban masa lalu—di mana aku terbiasa berada "di puncak". Dari ranking 1-3 selama SD, ketua OSIS di SMP dan SMA, hingga mendapat kepercayaan besar dari petinggi di tempat kerja. Ketika akhirnya aku bertemu dengan satu kasus berat yang proses penyelesaiannya panjang dan terasa buntu, mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya karena merasa gagal.
Intinya, jika kamu punya sesuatu yang ingin disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang baik. Jangan terlalu lama dipendam. Takutnya, jika terus ditumpuk, suatu saat ia akan meledak.
Selamat malam!
Thursday, April 30, 2026
Amalia pulang ke Tasikmalaya bukan untuk mencari kenangan, melainkan untuk melarikan diri dari suara-suara di kepalanya. Namun, di kota kecil yang tenang ini, ia justru didiagnosis depresi. Di saat ia berjuang untuk tetap "waras", sebuah kabar datang: pria yang dulu menghancurkan masa SMA-nya dengan perundungan kejam, kini kehilangan kewarasan di Rumah Sakit Jiwa.
Ironi itu memuncak saat mereka bertemu. Pria itu tak lagi ingat siapa dirinya sendiri, tak lagi ingat dunia yang ia tinggalkan. Hanya satu memori yang tersisa di kepalanya: Nama Amalia.
Sanggupkah Amalia memaafkan seseorang yang bahkan tidak ingat pernah menyakitinya?
Setelah hiatus hampir beberapa tahun, akhirnya saya kembali mencoba menulis non-fiksi berjudul Breathing Through the Noise. Kamu bisa membacanya dengan klink link berikut ini ya. Saran dan komentar sangat saya tunggu!
Monday, April 20, 2026
Sudah memasuki hari Senin lagi.
Hallo semuanya. Selamat kembali beraktifitas!
Sebenarnya aku ini terlambat untuk menulis refleski mingguan, biasanya kan di hari Minggu ya, tapi ini malah di Senin pagi. Tapi gak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali kan?
Aku sangat bersyukur atas minggu ini, atas hidup ini, dan juga semua hal yang terjadi dalam hidupku. Hubungan aku dengan orang tua semakin membaik; mereka lebih memahami kondisi aku saat ini. Maka dengan itu, akupun lebih mudah untuk memahami diriku sendiri, memeluk semua luka yang terjadi di masa lalu, terus belajar untuk memaafkan dan juga let go atas apa yang telah terjadi. Karena aku tidak mau terus menerus membawa serta hidup dalam bayang-bayang amarah dan kecewa. Aku berhak bahagia, damai, dan tenang dalam menjalani hidup ini.
Selain itu, aku pun mau mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri karena sudah berani untuk mendaftar beasiswa AAS. Meski efek samping obat membuat cara berpikirku sedikit melambat dan mudah lupa, aku bangga karena tetap mencoba.
Aku merasa seperti menemukan kembali titik-titik cahaya dalam hidupku. Semua itu dimulai saat aku kembali belajar sedikit-demi sedikit. Aku merasa aku kembali hidup dan bersemangat.
Semoga titik-titik terang ini akan terus bertambah setiap harinya sehingga aku dapat menemukan kembali cahaya dalam hidupku.
Tuesday, April 14, 2026
Sudah hampir satu bulan lebih aku tidak menulis. Bahkan proyek menulis Ramadan Journaling tak bisa aku selesaikan. Bulan lalu aku relapse setelah tidak lagi minum obat secara sepihak. Pertama karena BPJS aku dinon-aktifkan, kedua sempat berdebat dengan orang tua karena orang tua tidak setuju aku minum obat. Ketiga, orang tua masih denial dengan kondisi aku.
Dua minggu pertama setelah lepas obat, aku merasa baik-baik saja. Baru di minggu ketiga, keempat aku kesulitan untuk bisa memejamkan mata, isi kepala rasanya lebih berisik dari sebelumnya, mood ku berantakan, emosiku lebih sensitif.
Di minggu ini aku relapse. Kembali memukul-memukul diri sendiri, mencaci maki, bahkan sempat kalap mencari gunting. Namun aku patut berbangga diri pada diri sendiri, karena di tengah kondisi aku yang kacau, masih ada sisi dari diri aku yang lain untuk meminta menghentikannya.
Lalu aku melihat karet rambut. Aku mengenakan karet rambut itu dipergelangan tanganku sebagai pengganti benda tajam.
Memasuki minggu kelima, aku sudah tak bisa lagi menahan akan kondisiku. Maka dari itu, aku putuskan untuk pergi ke kantor BPJS, mengurus BPJS aku yang tidak aktif, lalu kembali mengambil rujukan.
"Iya, Ibu itu sudah terlalu lama memendam semuanya sendirian. Makannya ini dikategorikan berat," ucap psikiater aku ketika aku kembali berkunjung.
"Ini kita kembali lagi ke nol ya. Soalnya sudah lebih dari satu minggu gak kontrol."
"Dok, tapi orang tua saya tidak mendukung saya untuk berobat."
"Nanti kalau kontrol selanjutnya, orang tua Ibu boleh kok diajak ke sini. Biar nanti saya jelaskan kondisi Ibu."
Setelah itu aku tidak pernah berhenti berdoa agar orang tua aku bisa memahami kondisiku. Dan doa itu dikabulkan.
Beberapa hari kemudian, datang salah satu dari orang dinas sosial berkunjung ke rumah didampingi oleh mantan RT setempat. Orang dari dinsos itu bilang aku lagi berobat apa, aku jawab kondisi aku. Ternyata mantan RT setempat pun pernah berada di posisi yang sama dulu.
Setelah diceritakan oleh mantan RT tersebut, barulah kedua orang tuaku paham tentang kondisi aku sebenarnya. Barulah setelah itu mereka mendukung aku untuk berobat sampai tuntas.
Rasanya gimana ya. Nano-nano gitu. Senang iya akhirnya keluarga tahu dan mensupport aku untuk bisa sembuh.
"Ingat ya Bu, tidak semua orang faham tentang kesehatan mental."
Dari pengalaman ini aku belajar bahwa aku harus mempercai diriku sendiri, kata hatiku, dan juga menerima kondisiku bahwa memang betul aku sedang tidak baik-baik saja. Kalau harus mengobati, ya lanjutkan. Tak perlu menunggu persetujuan orang lain ataupun mendengar omongan mereka karena yang merasakan dan yang melaluinya adalah dirimu sendiri.
Wednesday, March 25, 2026
Ternyata yang bikin aku susah lupa dan move on itu bukan karena perasaan aku yang masih tertinggal di sana, atau karena aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Bukan. Bukan itu.
Tapi amarah aku, kekecewaan aku, dan kesedihan aku yang tak pernah aku terima kehadirannya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Harusnya saat itu aku marah, aku kecewa, aku sedih. Alih-alih berteriak kesurupan dan berlinang air mata, aku malah memilih untuk tersenyum: menekan semua perasaan yang sebenarnya hadir.
Akhirnya apa? Jadi bom waktu juga kan?
Maka dari itu, setiap kali memori itu hadir, sebenarnya itu bukan tanda kalau aku lagi kangen momen itu. No. Bukan. Tapi ada perasaan lama yang sudah aku tekan dan aku kubur bertahun-tahun, yang kini minta untuk didengarkan, dikeluarkan, dan diekspresikan.
Jadi kalau saat ini mau nangis, ya nangis. Mau marah ya marah. Gak usah dipendam lagi. Gak usah diganti dengan senyum dan tawa lebar seolah semuanya baik-baik aja. Pengen terlihat kuat padahal sebenarnya udah hancur banget di dalam. Iya kan?
Jadi ngapain pura-pura kuat kalau pada akhirnya semua ini harus kamu tanggung sendiri akibatnya?
Enggak enak kan, berjalan sendirian di labirin hitam yang kamu sendiri gak tahu akan ketemu cahayanya di mana?
Enggak enak kan, sama gedoran di dalam hati dan bisikan di kepala yang seolah tidak pernah berhenti?
Enggak enak kan, ketika semua warna-warni dalam hidup tiba-tiba berubah menjadi hitam putih kayak hasil foto copyan?
Apalagi yang enggak enak?
Oh, tidur kamu. Kamu jadi sering terbangun tengah malam kan? Tiba-tiba nangis tanpa alasan yang jelas. Isi kepala yang terus menerus aktif, berlari-lari dari masa lalu ke masa depan. Heningnya malam yang seharusnya bisa menenangkan, ini justru malah menikam diam-diam.
Saat semua orang minta kamu buat semangat untuk menjalani hidup, padahal kamu sendiri sedang kewalahan dengan diri kamu sendiri.
Lalu tanpa sadar, kamu ingin mengakhiri semua keributan di isi kepala kamu dan ingin mengembalikan warna di hidup kamu bukan?
Sayang, yang terdengar bukan itu.
Yang didengar bukan itu.
Yang diikuti bukan itu.
Kamu justru malah semakin jauh dan memilih untuk menyalakan api di tubuhmu sendiri.
“Kamu tuh kuat di luar, tapi rapuh di dalam.”
Kata seseorang sambil menatapku tajam, seolah ingin menembus benteng pertahananku. Tapi aku memilih untuk menghindar saat itu. Memilih untuk tidak mendengar ucapannya dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.
Maaf. Aku terlalu dungu untuk kalimatmu di tahun-tahun yang telah berlalu, yang kini sempat kusesali. Kenapa dulu aku begitu egois untuk terlihat baik-baik saja?
Belum lagi aku muak pada lingkungan yang terkadang menertawakan apa yang sedang kurasa. Dibilang lebay lah, gitu aja cengeng, harus kuat. Tanpa mau benar-benar memahami atau hanya sekedar diam, mendengarkan sepenuhnya, dan hadir.
Disaat itu pula aku memutuskan untuk menutup semua perasaan yang hadir. Menggantinya dengan senyum dan tawa keras nan sumbang. Aku kira, dengan begitu aku akan kuat. Tak lagi dianggap cengeng dan lebay.
Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, hingga akhirnya bertahun-tahun hal buruk ini menjadi kebiasaanku.
Sampai di titik ketika hati dan jiwaku sudah lelah dengan topeng busuk ini. Di waktu yang tak pernah ku duga, semuanya meledak. Tak bisa lagi ditahan.
Kini, aku diberi teguran keras oleh diriku sendiri.
Berjalan sendirian di tengah kegelapan yang tak pernah ada ujungnya dan cahaya itu pergi entah ke mana.

Social Media
Search