Thursday, May 14, 2026

 All we ever have is now...*

Yesterday, I received the news that a former colleague of mine passed away. She was so young, only 36 years old. Our group chat is overflowing with messages of sympathy; everyone is in a state of disbelief.

The news made me reflect. Sometimes, we work too much and too hard. We become so consumed by achievements and the next goal on the horizon that we neglect what truly matters: our families, our children, and our soulmates. We focus on the climb and forget to look at the view right in front of us.

I’ve come to realize that the only thing we can truly hold onto is the present. We cannot live in the past, burdened by regret, nor can we live in the future, paralyzed by fear and anxiety.

Our time is a mystery, and its length is never guaranteed. Because of this, we must learn to be fully present. We need to appreciate the people who walk beside us—our family, our friends, and our partners. It is wonderful to strive for success, but please, do not forget to give your body and mind the pause they deserve.

To rest is not to give up. It is to honor the life you are working so hard to build. 

Take a breath. 

Be here. 

That is enough.

Good night!


*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)

Wednesday, May 13, 2026

What would be to good to believe if someone were to sit down and tell you what's coming next in your life?*

If someone could tell me my future, I’d want to hear two things: that my darkness is ending and that my soulmate is near.

It’s okay to admit that it’s lonely. It’s normal to feel a little jealous of the "happily ever afters" you see around you. I’ve spent this chapter learning how to be enough for myself, and I’m proud of that person I’m becoming. But I still hope for a heart that beats in sync with mine. Someone to accompany me through the shadows until we reach the light.


*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)

Tuesday, May 12, 2026

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: You Are Enough: A Guide To Self-Love and Be Kind To Yourself
Penulis: Rara Noormega
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2024
Halaman: 190 Halaman
Penerbit: Mediakita, Jakarta Selatan

Blurb

"...to feel,

to hurt,

to love,

and to heal

you were born to be a human being."

This book serves as a compaasionate reminder that, on your self-love journey, you are never truly alone. May its pages empower you with the courage to embrace and forgive every aspect of yourself, both inside and out. 

Tiga Insight Utama

1. As now you're recognizing your inner child or getting along with your inner voice, let's begin the journey of loving yourself. Let's give your inner voice a space to be heard. Let's give a chance for your emotions to be felt. The journey of embracing your inner voice will be challenging, but you'll be okay.

2. You are different, unique, and you have your own path. You don't have to be someone else to be successful dan happy. You don't have to follow other people's lives to be considered as someone who's worthy. Being you is enough.

3. Sometimes, not everything is your fault. Sometimes, bad things happened because it supposed to happen. And, no, you shouldn't blame and beat yourself up that hard. Because darling, there are many things out there which are beyond your control. Not everything is your fault. Please forgive yourself.

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini rasanya seperti sedang dipeluk dan dipahami tanpa sedikit pun dihakimi. Bahasanya sederhana namun sangat dalam, seolah setiap kalimatnya mampu menyentuh bagian paling rapuh dalam diri yang selama ini disembunyikan. Buku ini benar-benar mewakili suara hati kita yang sedang berjuang untuk menerima luka dan belajar mencintai diri sendiri kembali. Melalui buku ini, aku diingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah, dan tidak apa-apa jika proses sembuhku tidak secepat orang lain. Benar-benar sebuah teman perjalanan yang menenangkan bagi siapa pun yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu.

Monday, May 11, 2026

Hallo! Selamat pagi.

Selamat hari Senin.

Selamat memulai kembali hari untuk bekerja.

Enggak tahu kenapa rasanya happy aja nulis refleksi mingguan di hari Senin pagi. Serasa memberikan semangat dan energi untuk diri sendiri menghadapi minggu baru di bulan ini. 

Seminggu yang lalu, aku merasa aku bahagia dengan diriku sendiri. Aku senang dan bangga pada diriku sendiri karena mampu mempresentasikan materi dengan baik. Semula, aku nervous sekaligus anxious yang luar biasa sampai gerd. Tapi setelah hari H tiba dan selesai mempresentasikannya, perasaan aku lega dan sakit di perut perlahan hilang. 

Aku tahu. Ini efek dari pengalaman buruk aku ketika aku SMP. Pada saat itu aku mengikuti lomba speech dan aku tidak hafal dengan teksnya. Demam panggung. Begitu saat berdiri di hadapan umum aku gemetaran, panik, baru juga salam aku sudah turun panggung lagi karena aku tak bisa menyampaikan isi speech nya. Begitu turun, guru pendampingku hanya memalingkan muka. Tidak ada ucapan untuk menenangkan diriku yang panik luar biasa pada saat itu. Apalagi setelah diumumkan juara-juaranya, guru tersebut lebih membanggakan yang juara-juara saja. 

Maka dari itu, aku ingin memutus rantai ini. Menghentikannya bahwa ini sudah berlalu dan kejadian tersebut akan berbeda dengan kejadian yang akan aku alami nanti. 

Hallo Ihat remaja, usia SMP yang masih labil.

Terima kasih sudah berani untuk maju ke atas panggung, walau kamu belum hafal teksnya dan kamu sadar pada saat itu tidak ada guru satupun yang membimbingmu. Kamu berlatih seadanya dan sendirian. Tidak apa-apa. Tenang. Kamu aman bersamaku di sini. Jangan merasa bersalah. Tidak apa-apa. Itu pengalaman pertama kamu dan semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi ya. Berhenti menyalahkan diri sendiri karena itu sudah berlalu lama sekali. Terima kasih karena setelah kejadian itu, kamu jadi lebih well prepared. Sehingga setiap kamu tampil, kamu bisa dan mampu memberikan yang terbaik. Buang suara-suara buruk itu. Kamu berharga, kamu mampu, kamu cukup, dan kamu bisa. 

Terakhir, aku juga senang karena dosis obatku kini mulai dikurangi oleh psikiaterku. 

Semangat melanjutkan hidup! 

Hai, Ihat!

Terima kasih sudah berjuang minggu ini. Terima kasih karena kamu memilih untuk berjuang daripada membiarkan dirimu tenggelam dalam lubang hitam. Terima kasih karena saat ini kamu sudah tidak segan untuk meminta tolong, menyampaikan perasaan kamu, dan juga menerima seluruh perasaan yang hadir dalam hidupmu. Terima kasih karena perlahan cahaya itu mulai menerangi hatimu yang sempat gelap gulita. Terima kasih karena selalu melihat hal-hal kecil yang ada di sekitarmu untuk dijadikan refleksi rasa syukurmu. Terima kasih karena kamu lebih memilih untuk hidup. Karena nyatanya hidup menawarkan dua hal, senang dan sedih. Itu sepaket. Dan tak bisa kita memilih salah satunya saja. Terima kasih sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada waktunya. Kini. kamu bisa lebih tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dalam hidupmu. Karena kamu sudah sadar, semua akan berlalu dan berganti dengan yang baru. 

Terima kasih. Mari berjuang kembali di minggu ini. Aku sayang kamu!


Demi menarikmu keluar dari emosi merusak diri, 

aku mencebur ke dalamnya, menyelami dan menemukan kata-kata untuk menyelamatkanmu.

Kata-kata yang belum pernah kuucapkan. 

"Tolong aku."

Tapi ternyata kata-kata yang kutemukan itu justru menyelamatkan diriku. 

Saat kau keluar dari situasi terburuk, tiba-tiba prespektif baru terbuka, dan semua hal yang dulu menyusahkan mulai terasa sepele. 

Kesuksesan?

Debut?

Persetan semua.

Jika aku cuma ada satu permintaan dalam hidup, aku ingin mati karena usia tua.

Semoga kucing, pohon, dan semua makhluk hidup mati karena usia tua. 

Bukan karena penyakit, bukan karena derita.

Semoga semuanya mati karena usia tua, seperti daun yang gugur sendiri. 

Hwang Dong-Man (We Are All Trying Here)

Monday, May 04, 2026

Selamat malam, selamat hari Senin!

Gimana hari Seninnya? Berjalan lancar? Atau belum sesuai dengan apa yang ditargetkan? Gak apa-apa. Masih ada esok, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Yang penting tutup hari kamu dengan pelukan hangat untuk diri kamu sendiri. Berterima kasihlah pada dirimu karena sudah menemani dirimu sejauh ini.

Sebenarnya ini tuh terlambat sih ya buat nulis refleksi mingguannya. Iya, harusnya kemarin hari Minggu. Tapi gak apa-apa lah ya. 

Mm, seminggu kemarin yang ingin aku syukuri adalah aku mau berterima kasih sama diri aku sendiri karena sudah memilih berjuang daripada menyerah. Curiosity akan musim yang sedang aku alami ini akhirnya membawaku duduk di hadapan seorang psikolog. 

Sesi konseling pertama selama 1,5 jam itu berhasil memperlihatkan sisi lain dari diriku. Dari rangkaian cerita yang kusampaikan, ternyata ada satu pola yang tidak kusadari telah membentukku selama ini:

MELARIKAN DIRI.

Iya, melarikan diri. Tanpa sadar, setiap ada masalah, aku cenderung menghindar. Entah itu dengan cara mengalah padahal aku punya hak membela diri, atau hal kecil seperti menunda membalas pesan karena takut membukanya, padahal isinya biasa saja. Bahkan sampai pada titik memilih tidak masuk kerja hanya karena enggan menghadapi sesuatu.

Psikologku sempat berujar bahwa keputusanku pulang ke kampung halaman pun mungkin bentuk dari pelarian. Namun, aku memilih untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan itu. Aku tahu persis kenapa aku keluar dari pekerjaan sebelumnya: mental yang sudah tidak sehat dan realita yang tak lagi sejalan dengan cita-cita. Aku teringat pesan seorang teman: “Tidak semua perkataan ahli harus kamu cerna bulat-bulat, karena ada bagian dari dirimu yang hanya kamu sendiri yang paham.” Apalagi ini baru pertemuan pertama; 1,5 jam tentu tak cukup untuk merunut semua luka, apalagi ditambah episode menangisnya, kan? :D

Meski begitu, pernyataan itu membekas. Aku sadar tidak bisa terus berada dalam pola yang sama. Sekarang, aku belajar untuk mengomunikasikan hal-hal yang tidak enak, alih-alih menutup diri dan membuat kesimpulan sendiri. Siapa tahu dengan bicara baik-baik, ada jawaban yang menenangkan? Setidaknya, aku tidak lagi menerka-nerka dalam penyesalan.

Aku tahu ini tidak mudah. Memutus pola komunikasi dan problem solving yang tidak sehat itu butuh waktu. Menariknya, aku merasa "melarikan diri" bukanlah akar masalahku yang sebenarnya. Mungkin itu hanya faktor pendukung dari beban masa lalu—di mana aku terbiasa berada "di puncak". Dari ranking 1-3 selama SD, ketua OSIS di SMP dan SMA, hingga mendapat kepercayaan besar dari petinggi di tempat kerja. Ketika akhirnya aku bertemu dengan satu kasus berat yang proses penyelesaiannya panjang dan terasa buntu, mentalku jatuh sejatuh-jatuhnya karena merasa gagal.

Intinya, jika kamu punya sesuatu yang ingin disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang baik. Jangan terlalu lama dipendam. Takutnya, jika terus ditumpuk, suatu saat ia akan meledak.

Selamat malam!

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi