Thursday, April 30, 2026

 


Amalia pulang ke Tasikmalaya bukan untuk mencari kenangan, melainkan untuk melarikan diri dari suara-suara di kepalanya. Namun, di kota kecil yang tenang ini, ia justru didiagnosis depresi. Di saat ia berjuang untuk tetap "waras", sebuah kabar datang: pria yang dulu menghancurkan masa SMA-nya dengan perundungan kejam, kini kehilangan kewarasan di Rumah Sakit Jiwa.

Ironi itu memuncak saat mereka bertemu. Pria itu tak lagi ingat siapa dirinya sendiri, tak lagi ingat dunia yang ia tinggalkan. Hanya satu memori yang tersisa di kepalanya: Nama Amalia.

Sanggupkah Amalia memaafkan seseorang yang bahkan tidak ingat pernah menyakitinya?


Setelah hiatus hampir beberapa tahun, akhirnya saya kembali mencoba menulis non-fiksi berjudul Breathing Through the Noise. Kamu bisa membacanya dengan klink link berikut ini ya. Saran dan komentar sangat saya tunggu!

Monday, April 20, 2026

Sudah memasuki hari Senin lagi. 

Hallo semuanya. Selamat kembali beraktifitas!

Sebenarnya aku ini terlambat untuk menulis refleski mingguan, biasanya kan di hari Minggu ya, tapi ini malah di Senin pagi. Tapi gak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali kan?

Aku sangat bersyukur atas minggu ini, atas hidup ini, dan juga semua hal yang terjadi dalam hidupku. Hubungan aku dengan orang tua semakin membaik; mereka lebih memahami kondisi aku saat ini. Maka dengan itu, akupun lebih mudah untuk memahami diriku sendiri, memeluk semua luka yang terjadi di masa lalu, terus belajar untuk memaafkan dan juga let go atas apa yang telah terjadi. Karena aku tidak mau terus menerus membawa serta hidup dalam bayang-bayang amarah dan kecewa. Aku berhak bahagia, damai, dan tenang dalam menjalani hidup ini. 

Selain itu, aku pun mau mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri karena sudah berani untuk mendaftar beasiswa AAS. Meski efek samping obat membuat cara berpikirku sedikit melambat dan mudah lupa, aku bangga karena tetap mencoba.

Aku merasa seperti menemukan kembali titik-titik cahaya dalam hidupku. Semua itu dimulai saat aku kembali belajar sedikit-demi sedikit. Aku merasa aku kembali hidup dan bersemangat. 

Semoga titik-titik terang ini akan terus bertambah setiap harinya sehingga aku dapat menemukan kembali cahaya dalam hidupku.


Tuesday, April 14, 2026

Sudah hampir satu bulan lebih aku tidak menulis. Bahkan proyek menulis Ramadan Journaling tak bisa aku selesaikan. Bulan lalu aku relapse setelah tidak lagi minum obat secara sepihak. Pertama karena BPJS aku dinon-aktifkan, kedua sempat berdebat dengan orang tua karena orang tua tidak setuju aku minum obat. Ketiga, orang tua masih denial dengan kondisi aku. 

Dua minggu pertama setelah lepas obat, aku merasa baik-baik saja. Baru di minggu ketiga, keempat aku kesulitan untuk bisa memejamkan mata, isi kepala rasanya lebih berisik dari sebelumnya, mood ku berantakan, emosiku lebih sensitif. 

Di minggu ini aku relapse. Kembali memukul-memukul diri sendiri, mencaci maki, bahkan sempat kalap mencari gunting. Namun aku patut berbangga diri pada diri sendiri, karena di tengah kondisi aku yang kacau, masih ada sisi dari diri aku yang lain untuk meminta menghentikannya. 

Lalu aku melihat karet rambut. Aku mengenakan karet rambut itu dipergelangan tanganku sebagai pengganti benda tajam. 

Memasuki minggu kelima, aku sudah tak bisa lagi menahan akan kondisiku. Maka dari itu, aku putuskan untuk pergi ke kantor BPJS, mengurus BPJS aku yang tidak aktif, lalu kembali mengambil rujukan. 

"Iya, Ibu itu sudah terlalu lama memendam semuanya sendirian. Makannya ini dikategorikan berat," ucap psikiater aku ketika aku kembali berkunjung. 

"Ini kita kembali lagi ke nol ya. Soalnya sudah lebih dari satu minggu gak kontrol."

"Dok, tapi orang tua saya tidak mendukung saya untuk berobat."

"Nanti kalau kontrol selanjutnya, orang tua Ibu boleh kok diajak ke sini. Biar nanti saya jelaskan kondisi Ibu."

Setelah itu aku tidak pernah berhenti berdoa agar orang tua aku bisa memahami kondisiku. Dan doa itu dikabulkan. 

Beberapa hari kemudian, datang salah satu dari orang dinas sosial berkunjung ke rumah didampingi oleh mantan RT setempat. Orang dari dinsos itu bilang aku lagi berobat apa, aku jawab kondisi aku. Ternyata mantan RT setempat pun pernah berada di posisi yang sama dulu. 

Setelah diceritakan oleh mantan RT tersebut, barulah kedua orang tuaku paham tentang kondisi aku sebenarnya. Barulah setelah itu mereka mendukung aku untuk berobat sampai tuntas. 

Rasanya gimana ya. Nano-nano gitu. Senang iya akhirnya keluarga tahu dan mensupport aku untuk bisa sembuh. 

"Ingat ya Bu, tidak semua orang faham tentang kesehatan mental." 

Dari pengalaman ini aku belajar bahwa aku harus mempercai diriku sendiri, kata hatiku, dan juga menerima kondisiku bahwa memang betul aku sedang tidak baik-baik saja. Kalau harus mengobati, ya lanjutkan. Tak perlu menunggu persetujuan orang lain ataupun mendengar omongan mereka karena yang merasakan dan yang melaluinya adalah dirimu sendiri. 

Wednesday, March 25, 2026

Ternyata yang bikin aku susah lupa dan move on itu bukan karena perasaan aku yang masih tertinggal di sana, atau karena aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Bukan. Bukan itu.

Tapi amarah aku, kekecewaan aku, dan kesedihan aku yang tak pernah aku terima kehadirannya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Harusnya saat itu aku marah, aku kecewa, aku sedih. Alih-alih berteriak kesurupan dan berlinang air mata, aku malah memilih untuk tersenyum: menekan semua perasaan yang sebenarnya hadir. 


Akhirnya apa? Jadi bom waktu juga kan?


Maka dari itu, setiap kali memori itu hadir, sebenarnya itu bukan tanda kalau aku lagi kangen momen itu. No. Bukan. Tapi ada perasaan lama yang sudah aku tekan dan aku kubur bertahun-tahun, yang kini minta untuk didengarkan, dikeluarkan, dan diekspresikan.


Jadi kalau saat ini mau nangis, ya nangis. Mau marah ya marah. Gak usah dipendam lagi. Gak usah diganti dengan senyum dan tawa lebar seolah semuanya baik-baik aja. Pengen terlihat kuat padahal sebenarnya udah hancur banget di dalam. Iya kan? 


Jadi ngapain pura-pura kuat kalau pada akhirnya semua ini harus kamu tanggung sendiri akibatnya?


Enggak enak kan, berjalan sendirian di labirin hitam yang kamu sendiri gak tahu akan ketemu cahayanya di mana?

Enggak enak kan, sama gedoran di dalam hati dan bisikan di kepala yang seolah tidak pernah berhenti?

Enggak enak kan, ketika semua warna-warni dalam hidup tiba-tiba berubah menjadi hitam putih kayak hasil foto copyan? 


Apalagi yang enggak enak?


Oh, tidur kamu. Kamu jadi sering terbangun tengah malam kan? Tiba-tiba nangis tanpa alasan yang jelas. Isi kepala yang terus menerus aktif, berlari-lari dari masa lalu ke masa depan. Heningnya malam yang seharusnya bisa menenangkan, ini justru malah menikam diam-diam. 


Saat semua orang minta kamu buat semangat untuk menjalani hidup, padahal kamu sendiri sedang kewalahan dengan diri kamu sendiri.


Lalu tanpa sadar, kamu ingin mengakhiri semua keributan di isi kepala kamu dan ingin mengembalikan warna di hidup kamu bukan?


Sayang, yang terdengar bukan itu.

Yang didengar bukan itu. 

Yang diikuti bukan itu.


Kamu justru malah semakin jauh dan memilih untuk menyalakan api di tubuhmu sendiri.


“Kamu tuh kuat di luar, tapi rapuh di dalam.”


Kata seseorang sambil menatapku tajam, seolah ingin menembus benteng pertahananku. Tapi aku memilih untuk menghindar saat itu. Memilih untuk tidak mendengar ucapannya dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja.


Maaf. Aku terlalu dungu untuk kalimatmu di tahun-tahun yang telah berlalu, yang kini sempat kusesali. Kenapa dulu aku begitu egois untuk terlihat baik-baik saja? 


Belum lagi aku muak pada lingkungan yang terkadang menertawakan apa yang sedang kurasa. Dibilang lebay lah, gitu aja cengeng, harus kuat. Tanpa mau benar-benar memahami atau hanya sekedar diam, mendengarkan sepenuhnya, dan hadir. 


Disaat itu pula aku memutuskan untuk menutup semua perasaan yang hadir. Menggantinya dengan senyum dan tawa keras nan sumbang. Aku kira, dengan begitu aku akan kuat. Tak lagi dianggap cengeng dan lebay.


Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, hingga akhirnya bertahun-tahun hal buruk ini menjadi kebiasaanku.


Sampai di titik ketika hati dan jiwaku sudah lelah dengan topeng busuk ini. Di waktu yang tak pernah ku duga, semuanya meledak. Tak bisa lagi ditahan. 


Kini, aku diberi teguran keras oleh diriku sendiri.

Berjalan sendirian di tengah kegelapan yang tak pernah ada ujungnya dan cahaya itu pergi entah ke mana. 


Monday, March 16, 2026

Pola emosi apa yan terus berulang dalam hidupku?

Setiap pagi, matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar yang kusam, tapi aku tetap berbaring di atas kasur. Tubuhku berat, seperti ditindih beban tak kasat mata. "Bangunlah, ayo," bisik pikiranku, tapi semangat itu hilang entah ke mana. Hidup terasa seperti kabut abu-abu yang tak berujung, tidak ada warna, tidak ada tujuan. Sedih itu datang lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu muncul tanpa kenal waktu. Di tengah kekosongan itu, perasaan hampa merayap masuk, meninggalkan lubang di dada yang tak bisa diisi apa pun, bukan makanan, bukan hiburan, bahkan bukan pula sebuah pelukan. 

Siang hari, hal-hal kecil pun antara terasa menusuk atau sama sekali tak berarti. Aku bisa sangat numb atau bisa saja aku terlalu sensitif dengan apa yang terjadi. Kadang tertawa hanya ikut tertawa, diam melamun, lalu tiba-tiba air mata sudah menggenang tanpa alasan jelas. Dan aku merasa dunia terlalu kasar untuk bisa kufahami. 

Malam hari lebih parah. Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku menolak terpejam. Pikiran berputar-putar: kenangan masa lalu yang menyakitkan, kekhawatiran besok yang tak pasti, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, "Buat apa semua ini? Buat apa aku hidup?" Aku berguling-guling di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, atau kalau sudah kesal sekali lantaran tak bisa memejamkan mata pada akhirnya aku akan mengambil hp, scroll ini-itu berharap riuhnya isi kepala bisa teralihkan. Tapi setelah menit, jam berlalu semuanya tidak membantu. Bahkan dengan keheningan yang menyelimuti, justru itu terasa menyiksa diri bahkan disertai dengan air mata yang diam-diam tumpah. 

Ini pola yang kukenali sekarang. Sedih, hampa, sensitif pada hal kecil, sulit fokus, kehilangan semangat, susah tidur, susah bangun, sedih lagi. Lingkaran setan yang berulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Kadang aku coba lawan dengan minum latte: varian kopi favoritku, bersepedah, atau membaca buku. Tapi besoknya? Semuanya kembali. Seperti roda yang rusak, terus berputar di tempat. Semua ini kembali lagi terulang setelah aku berhenti minum obat anti depresan. Meski pola ini tak separah sebelumnya, namun sungguh tak nyaman untuk dirasakan dan dilalui. 

Suatu hari, aku menatap cermin, melihat pantulan wajahku di sana. "Kapan ini berhenti?" Lalu, dalam hening itu aku berdoa pelan, 

"Ya Allah, sekuat-kuatnya perasaan ini menguasaiku tolong jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah membiarkan aku putus asa dari rahmat-Mu dan meragukan kuasa-Mu."

"Ya Wali, be my closest friend when the world drifts away. Guard me with the grip that never slips. Guide me gently through what I don't understand and let every loss lead me back to You.

Ya Barr, keep me firm on the ground of Your goodness. Make my faith steady when my heart trembles. Let me love what brings me to Your stability and make me patient with what keeps me on its shore. 

Ya Rafiq, be tender with my soul as You unfold Your plan. Soften the path without removing its purpose. Make me gentle with others as You've been gentle with me. And when I am lonely, fill that space with Your Companion." (The Friend Who Never Leaves - Ep 4 Dr Omar Suleiman)




 

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi