Rencana yang Tidak Terwujud

Sudah direncanakan, sudah diusahakan dengan seluruh tenaga, tapi kalau takdirnya belum tiba, selalu saja ada jalan penghalang yang menghentikan langkah. Namun, di sinilah aku belajar: tertutupnya satu pintu bukan aba-aba untuk menyerah pada keadaan. Aku menolak untuk berhenti mengetuk pintu lain hanya karena satu ruang telah mengunci harapanku.

Tidak, aku tidak ingin menyerah. Aku memilih percaya bahwa pintu yang tertutup itu adalah cara Allah menyelamatkanku agar tidak kembali jatuh ke lubang luka yang sama. Mungkin itu cara-Nya membelokkan jalanku menuju pintu-pintu lain yang jauh lebih lapang, yang perlahan akan mengantarkanku pada mimpi-mimpiku yang sebenarnya.

Hari ini, aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menikmati rezeki yang sudah Allah beri dengan penuh syukur. Walau jujur, di sudut hati yang paling sunyi, kadang terselip rasa sesak—perasaan takut tertinggal karena di usia ini rasanya aku belum memiliki apa-apa dibandingkan orang lain. Namun, aku mengingatkan diriku lagi, bahwa "memiliki" tidak selalu tentang pencapaian materi yang terlihat. Mungkin, apa yang aku miliki hari ini adalah ketabahan, napas yang masih bertahan, dan hati yang terus belajar menyembuhkan diri. Dan itu lebih dari cukup.

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi