Tentang Rencana dan Pintu-pintu Lain

Aku sedih, aku kecewa, aku marah, dan juga kesal. Sesuatu yang sangat ingin aku dapatkan, ternyata belum bisa diwujudkan saat ini. Aku terpaksa harus mengalah pada keadaan. Aku tahu, melangkah nekat pun belum tentu menjadi jalan terbaik, karena kondisi mentalku belum benar-benar dinyatakan pulih sepenuhnya oleh psikiater—meski terkadang ego di kepalaku merasa bahwa aku baik-baik saja.

Beberapa teman di tempat kerja mulai menyadari perubahanku. Sikapku kini lebih banyak diam. Terkadang, aku memilih untuk melipat tangan dan tidur sejenak di atas meja kerja, sekadar mengistirahatkan pikiran sembari menunggu jadwal kelas berikutnya. Aku pun merasakannya; ada bagian dari diriku yang berubah sejak depresi itu bertamu ke hidupku. Aku tidak lagi seberisik dulu. Kini, aku lebih nyaman diam dan mendengarkan ketimbang mengobrol ramai ke sana kemari. Energi mental yang kupunya terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa arti.

Di tengah kesunyian ini, riuh kecemasan tentang masa depan kerap datang mengetuk. Namun, aku segera tersadar: siapakah aku? Aku hanyalah manusia yang hanya mampu menyusun rencana di atas kertas, sementara Allah adalah Sang Maha Pembuat Skenario, penentu mutlak yang memegang kendali atas setiap ketukan takdir. Lantas, kenapa aku harus merisaukan hari esok secara berlebihan?

Keinginan yang harus tertunda hari ini bisa jadi adalah cara lembut Allah untuk menyelamatkanku dari jurang-jurang tak terlihat, yang mungkin saja menyeretku kembali ke lembah gelap yang mengerikan. Allah begitu menyayangiku. Pintu itu ditutup rapat agar aku berbelok arah, mencari pintu-pintu lain yang lebih aman, tanpa harus memaksa mentalku hancur dan jatuh ke lubang luka yang sama.

Walau hati kecil terkadang goyah dan tergiur oleh nominal angka, aku mengingatkan diriku lagi: jika kupaksakan, prosesnya akan jauh lebih menyakitkan. Aku bisa saja terhempas lebih keras hingga sulit untuk kembali ke titik normal. Tidak apa-apa jika dunia melihatku terlambat. Bisa jadi, keterlambatan yang selama ini kutangisi justru adalah pelindung yang sedang menuntunku pada peluang-peluang baru yang jauh lebih indah.

Menangis dan bersedihlah jika hari ini terasa berat, tapi jangan pernah putus asa. Tertutupnya satu pintu hanyalah tanda bahwa perjalananmu belum selesai; kamu hanya diminta untuk mencari dan mengetuk pintu-pintu lain. Tenanglah, Allah menjagamu dengan teramat sangat. Ingat itu selalu.

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi