![]() |
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: Welcoming Feelings
Penulis: Rara Noormega
Cetakan: Cetakan kedua, Februari 2024
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Hey, how are you feeling?
Don't be ashamed of the feelings you have inside of you.
Those tears look pretty on you too. It makes you see things clearer from a different point of view.
Don't be scared to look so blue: even the ocean has the same color, and its waves are still crashing so proudly into the cliff - and you should be proud yourself too.
As long as you breathe, you will feel so many things. Because since the day you were born, you survived because you're able to feel.
This book will remaind you about the strength that you were born with. This book will remind you about the love and kindness that grows inside your heart. Let us dive into your mixed feelings, and may the words within this book ease your heavy heart.
This book is your safe space.
This book will accept you exactly as you are.
Dear you,
welcome home.
Tiga Insight Utama
- But at least try to say, "Dear self, I forgive you." Please remember that holding on the past will make your heart heavy. Not everything is your fault. Having heartbreak is a part of being human. (p. 16)
- Letting go is nevery easy, but holding on to the things you can't control is harder. It's time to surrender and allow yourself to let go. Your mind deserves to take a rest, and your heart deserves to feel serene. Allow yourself to believe. To trust. To have faith. (p. 33)
- The kind of acceptance which makes you realize that not everyone will accept you, and that's totally okay. (p. 90)
Refleski Diri
Kalimat ini benar-benar membuat aku meneteskan air mata. Sadar bahwa selama ini aku sudah sering menyalahkan diri sendiri atas kegagalan apa pun yang terjadi. Bahkan ketika kesuksesan menghampiri, jarang sekali aku memberikan diri ini sebuah apresiasi yang layak. Aku terus terpacu untuk bisa mendapatkan yang lebih, bahkan lebih lagi. Hingga akhirnya aku sendiri kelelahan. Kesalahan di masa lalu malah kembali menyeruak, karena aku sendiri tidak pernah memberi ruang untuk memaafkan diri sendiri. Hingga tanpa sadar, kesalahan-kesalahan itu terus aku bawa sampai detik ini.
Aku pernah ada di posisi di mana semua harus berada dalam kendali aku. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku ini adalah makhluk, bukan Al-Khaliq (Sang Pencipta). Jika hal yang sudah aku rencanakan serapi mungkin lalu berantakan, dengan mudah aku akan menyalahkan diri sendiri dan menganggap bahwa diri ini tidak layak, tidak mampu. Begitu membaca buku ini, banyak sekali kalimat-kalimatnya yang menyadarkan aku bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa aku kontrol dalam hidup ini. Kita hanya perlu memiliki iman yang kuat bahwa apa pun hasilnya nanti, pasti akan selalu menjadi yang terbaik bagi kita.
Lalu terkadang, aku selalu ingin diterima oleh orang-orang sampai akhirnya aku lupa dengan kebutuhan diriku sendiri. Apa yang sebenarnya aku butuhkan? Apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan kini aku belajar sedikit demi sedikit untuk menerima diriku sendiri apa adanya. Aku juga mulai sadar bahwa tidak semua orang bisa menerima aku, dan ternyata itu bukan tugasku. Aku tidak harus terus-menerus berusaha menjadi seseorang yang bisa diterima oleh semua orang. Dan itu tidak apa-apa.

Post a Comment