Monday, August 04, 2025
![]() |
| Photo by Markus Winkler |
How was your week?
Sebuah kalimat sederhana yang sering banget jadi pembuka keran cerita. Kalimat yang pada akhirnya membuat aku flashback ke satu minggu kebelakang. Kalimat yang bikin aku akhirnya cerita ngaler ngidul, dari mulai hal yang bikin bahagia sampe ke hal yang bikin aku kesel setengah mati, nangis, habis itu refleksi sambil ngusapin diri sendiri dan bilang,
"It's ok. You handled it well. You got through it."
Kalimat yang selalu aku nantikan kalau lagi telfonan sama dia hehee. Sesederhana itu, tapi hangatnya luar biasa.
So, talking about this week...
Anxiety and overthinking aku kambuh lagi. Tiba-tiba datang, kayak tamu gak diundang. Semuanya berawal pada saat aku harus menghadapi kelas baru dengan materi yang belum pernah aku ajarkan sebelumnya. Stress? Oo tentu saja. Seperti biasa, instead of doing, aku malah mikir panjang. Buku udah ada di tangan, raga udah duduk rapi di kursi dan siap mengeksekusi ide-ide yang ada, eh si jiwa yang malah melayang-layang entah ke mana.
Mamah di rumah sampe pusing sendiri sama keadaan aku. Bukan aku gak bersyukur sih, aku cuma mikir kayak busyet di Indonesia buat dapet lima puluh rebu sehari kudu jungkir balik ke sana ke mari. Susah bener cari duit. Aku bukannya pesimis ya, tapi memang itu kenyataannya. Bagi kita rakyat biasa, biar bisa punya duit sehari lima puluh rebu tuh luar biasa pengorbanannya. Makannya kalau ada yang bilang angka kemiskinan di Indonesia menurun, hmm hmm. Tolong cek. Biaya hidup aja makin melejit, nyekik banget rasanya.
Satu hal yang akhirnya kembali menyadarkan aku: semua itu butuh proses, butuh waktu, dan gak ada yang instan. Apalagi saat kamu dilahirkan sebagai seorang perintis bukan pewaris. Gak apa-apa kalau saat ini kamu belum punya pencapaian seperti yang dianggap "sukses" oleh masyarakat sekitar. Gak apa-apa banget kalau kamu masih pengen eksplorasi banyak hal, bahkan saat harus mengulang lagi dari nol. Gak ada yang salah kok. Setiap orang yang punya jalannya masing-masing. Dan semua pilihan, pada akhirnya kembali kepada diri kita sendiri.
Aku juga belajar bahwa kita gak usah nunggu momen sempurna untuk memulai. Nanti yang ada malah gak mulai-mulai. It's ok to make mistakes. Justru dari sana kita belajar untuk terus memperbaiki. Karena sampai kapanpun gak akan ada yang sempurna. Pasti selalu ada kurangnya. Nah jangan sampai, kamu nunggu terus kesiapan tanpa mau mencoba langkah pertama. Tahu kok, langkah pertama selalu berat, iya. Wajar banget. Tapi nanti setelahnya kamu akan terbiasa dan sudah bisa membaca pola sekitar.
Minggu ini juga, aku sempat mengalami situasi yang bikin aku kembali ingin menyalahkan diri sendiri. Aku sempat bilang apa aku gak cukup bener kerja ya, pada saat rekan kerjaku bilang aku gak ngecek pr muridnya waktu aku harus gantiin kelas dia. Padahal jelas banget aku ngecek pr muridnya dia minggu lalu itu. Tapi sayangnya di buku murid-muridnya dia gak ada sign aku. Ya memang aku gak kasih sign, lagian udah gede gitu. Udah anak SMP kelas 3 sama anak SMA juga.
Perdebatan sore itu cukup sengit, sampai beberapa rekan kerja yang lain memilih diam. Aku dengan keteguhan diri sendiri, terus bilang bahwa aku mengecek. Tapi karena tidak ada bukti fisik, aku tahu aku sadar posisiku aku lemah. Sampai kemudian tak aku lanjutkan kembali. Udahlah aku teacher baru, ya kalau difikir siapa juga yang mau percaya sama aku. Beberapa rekan juga justru banyak berpihak kepada dia. Rasanya gak adil, tapi ya sudah, aku memilih diam. Bukan berarti aku kalah, aku cuma milih untuk menunggu kebenaran yang nantinya akan membuktikan sendiri.
Sampai akhirnya, ketika aku kembali menggatikan dia di kelas, aku menyelipkan sindiran halus soal PR. Mereka semua diam dan saling menoleh satu sama lain. Aku berusaha tetap tenang, mencoba mengatur emosi aku biar gak meledak saat itu juga. Mengajar seperti biasa dengan senyuman, dan dalam hati aku terus memohon,
"Yallah, please help me. Prove it! That I didn't a mistake. I did it. I checked it last week."
Gak usah nunggu lama, satu orang murid tiba-tiba nyeletuk, "Nanti kalau ditanyain prnya dicek apa enggak, kita bilang aja gak dicek ya."
Aku langsung menegur dengan tenang. Mereka semua terdiam. Lalu ada satu murid yang membela diri, katanya aku salah karena aku gak ngasih sign. Aku jawab, aku emang gak pernah ngasih sign di kelas yang sudah besar. Mereka akhirnya terdiam, malu.
Aku kabarin itu ke yang lain. Mereka pun akhirnya kaget dengan hal itu. Bahkan ada yang mengaku, pada saat perdebatan itu mereka ngira aku ini denial. Dan betul dugaanku. Hahahaa. Aku luruskan aja, aku kalau salah ya ngaku salah, kalau bener ya terus aku akan suarakan itu.
Dari setelahnya, aku cuma pengen meluk diri sendiri. Aku ingat betul, setelah kejadian itu disampaikan di hadapan orang lain, aku sempat menyalahkan diri sendiri. Ada ketakutan dan keraguan pada saat itu. Tapi aku terus menepis suara-suara buruk itu dan terus menguatkan diri sendiri,
"Iya, aku udah ngerjain itu kok. Tapi nanti lagi, harus lebih teliti. Harus ada bukti."
When I told him about what happened, he smiled and said I had done the right thing. "As long as you're doing the right thing and others still doubt you, keep going. Keep fighting for it. Don't be afraid."
He knows me so well. So instead of giving long advice, he just listened quietly, occasionally chuckling as I told the story with fire in my voice.
"Teenagers are annoying, sometimes," he added with a laugh.
Dan aku lega bisa menyampaikan itu semua. Hehee.
Proses menanamkan mindset ini dan juga menguatkan diri memang bukan hal yang mudah. Aku juga terkadang kalau udah kambuh si overthinking dan anxiety ya suka jadi hilang fokus dan fikiran ke mana-mana. Tapi aku tahu ini bagian dari proses penyembuhan. Proses mencintai diri sendiri.
Aku benar-benar sedang berada di fase yang aku gak tahu arah hidup ini akan membawa aku kemana. Aku kadang gak faham, apa maksud dari semua ini. Tapi ya semakin difikirkan justru malah semakin membuat kita gila gak sih? Hahahaa. Karena memang ada beberapa hal yang gak harus selalu kita tanyakan terus soal hidup ini.
Kenapa ini terjadi?
Kenapa aku?
Kenapa harus aku?
Instead of asking "why me?" saat ini aku sedang mencoba untuk mengubahnya menjadi,
"Allah lagi mau ngajarin aku apalagi ya?"
Belajar untuk menerima, hadapi, dan stop asking.
Meski pada praktinya itu gak mudah, tapi aku sedang belajar untuk percaya dan menerima atas takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk aku.
Di sinilah iman itu benar-benar menyelamatkan kita. Kalau aku gak punya iman, kayaknya ide-ide gila untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri bisa jadi datang kembali. Dan aku gak mau itu kembali lagi.
Ternyata iman itulah yang pada akhirnya menguatkan diri saat hati mulai ragu akan kenyataan yang harus dihadapi. Saat hati mulai ragu dengan kemampuan diri, padahal semua yang terjadi tidak lepas dari izin dan ridho-Nya.
Allah gak minta kita untuk suskes di dunia. Allah gak minta kita untuk jadi kaya raya. Yang Allah lihat adalah prosesnya dan bagaimana kita tetap memilih kembali kepada-Nya dalam kondisi apapun.
Karena kita benar-benar lemah tanpa pertolongan Dia.
Ya Allah, maafkan aku.
Ternyata selama ini aku masih saja khawatir atas hal-hal yang belum terjadi. Maafkan hamba-Mu ini yang ceroboh, yang terkadang meremehkan potensi yang Engkau titipkan pada diri ini. Kuatkan iman ini, agar mampu merobohkan suara-suara jahat yang ingin menghancurkan rasa percayaku pada diri sendiri dan juga keyakinanku atas takdir-Mu.
Love,
Solihat
Tuesday, July 29, 2025
![]() |
| Photo by Photo By: Kaboompics.com |
On July 26th, I turned 28. It was a beautiful day – for the first time in my life, my friends celebrated and prayed for me. As you may know, I’ve never been someone who makes a big deal out of birthdays; I’ve always chosen to keep it simple and personal.
It’s not about the celebration itself. I’ve always preferred to spend my birthday reflecting on what I’ve learned over the past 365 days.
A lot has changed in my life this year. I unexpectedly left a job I loved and decided to move back to my hometown to live with my parents. I focused on getting to know myself better, deepened my connection with family, and made many new friends. During this time, I experienced a lot of contradictions – moments of light and moments of darkness and doubt.
As I grow older, it feels like the years go by faster. It’s a little depressing, but it’s true. I often ask myself: What is my purpose in life? Am I truly living the life I want? What really matters to me? Am I giving enough to others and to the world?
These are heavy questions, and I don’t have all the answers yet. But as I look back on the past year, I’m deeply grateful for all the growth and learning that came with it.
I know this past year has been one of the hardest I've ever faced. But it has taught me a lot — especially about embracing change and uncertainty. Life is unpredictable, and that’s okay. I’ve had to deal with many changes — in my career, my personal relationships, and my mindset. I’ve learned to sit with the discomfort and grow through it.
I moved from Bandung to Tasikmalaya. It took me almost a year to fully convince myself to take that step. The decision to relocate was both exciting and intimidating. I was happy to live with my parents again, but I was afraid of the limited job opportunities in a smaller town. Eventually, I realized that embracing change opens the door to growth. Now, I’m eager to see what this new chapter holds.
This year, I also learned to say no. In the past, saying no was one of the hardest things for me. As a result, I often felt overwhelmed. But I’ve come to understand that saying no is not selfish — it’s necessary. It helps me set healthy boundaries, prioritize what truly matters, and focus on what brings me joy.
This year also taught me the art of letting go — letting go of expectations, past hurts, and the need to control everything. I used to strive for perfection and tried to control every outcome. It was exhausting. Slowly, I’m learning to release that pressure and find peace in letting go.
Instead of complaining, I’ve learned to find joy in the little things: riding my bicycle in the morning, enjoying a warm cup of tea, or sharing stories and laughter with my family. I’ve realized that happiness isn’t something to chase — it’s something to notice and appreciate in the present moment.
And with that awareness comes gratitude. Even in small ways, I try to reflect on what I’m thankful for. Practicing gratitude helps me find contentment and recognize the abundance already present in my life.
I remember how, in the past year, I often felt like I wasn’t enough. I blamed myself for my failures, called myself stupid, and doubted my worth. But this year, I’ve made an effort to understand myself more deeply. I’ve spent time reflecting on who I am, what I truly want, and what really matters to me. It hasn’t been an easy journey — but I want to love myself better, and I’m committed to learning how.
As I begin my 28th year, I tell myself this: I don’t know what challenges, opportunities, or lessons lie ahead, but I’m ready. I have Allah, and He is always with me — guiding me and helping me through every moment.
Life is a beautiful, messy, and unpredictable adventure. As I step into this new year, I’m ready to embrace it all — the highs and the lows, the joys and the challenges, the knowns and the unknowns.
What you have right now does not define you; your job, your money, your status, or your circumstances. These are only parts of your life, not the whole of it.
Thank you for reading my birthday reflection. This year hasn’t been perfect, but it has brought me closer to discovering who I truly am, and for that, I am deeply grateful.
With Love,
Solihat
Monday, July 21, 2025
![]() |
| Photo by Franklin Peña Gutierrez |
Pulang ke kampung halaman, akhirnya membawaku bertemu dengan teman-teman lama. Obrolan pun mengalir, mulai dari nostalgia masa lalu, aktivitas yang sedang dijalani, hingga rencana-rencana hidup selanjutnya. Tak ketinggalan juga, membahas pertanyaan-pertanyaan "klasik" dari masyarakat yang membuat kita mengumpat sekaligus tertawa karena saking udah seringya ditanya hal yang sama.
Obrolan malam itu berakhir di pukul 11. Banyak hal disampaikan yang pada akhirnya membuat aku diam-diam merenung. Aku kembali diingatkan bahwa setiap pekerjaan yang kita pilih dan yang kita tekuni pasti akan selalu ada tantangannya tersendiri. Kita gak bisa membandingkan satu dengan yang lainnya. Kita hanya bisa memilih, lalu menerima segala kosekuensinya dengan sadar. Karena kita gak bisa hanya mengambil enaknya doang. Gak bisa. Kalau memilih, ya harus siap dengan semua isi paketnya: baik dan buruknya.
Keesokan harinya, aku bertemu dengan sahabat kecilku. Sahabat dari pas zaman SD yang sekarang memilih untuk berkarier sendiri. Hal yang ingin aku highlight dari pertemuan kita kemarin adalah ketika ia sedang menyetir dan tiba-tiba bagian bawah mobilnya menyentuh aspal cukup keras. Entah bempernya atau bagian yang lain, yang jelas dia kesal dan mengumpat. Karena ia tahu akan ada biaya lagi yang harus dikeluarkan untuk untuk perbaikan.
Aku jadi teringat satu obrolan dulu, saat aku masih bekerja di Bandung. Seorang drivernya bilang bahwa kalau kita memilih untuk punya mobil, siap-siap saja dengan biaya perawatannya yang gak murah. Mana di jalanan kamu harus siap antara "nabrak" dan "ditabrak." Ia bahkan mengaku harusnya mobilnya itu sudah diservis, tapi karena biayanya besar dan mobilnya juga masih bisa berjalan, jadi ya ditunda dulu.
Obrolan dengan sahabatku itu menyadarkan aku bahwa barang-barang mewah sekalipun tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Di awal, mungkin ada rasa bangga, puas dan bahagia karena pada akhirnya kita mampu membeli barang tersebut. Tapi setelahnya, ada tanggung jawab untuk merawat. Dan kalau kita bicara soal mobil, jelas biaya perwatannya tidak sedikit.
Dari situ aku belajar bahwa penting untuk membeli barang sesuai dengan kemampuan kita. Jangan sampai kita memaksakan diri hanya demi gengsi atau rasa ingin dianggap "mampu." Contohnya, kalau masih bisa naik transportasi umum, dan itu cukup memenuhi kebutuhan kita, kenapa tidak? Bukankah akan jauh lebih tenang kalau hidup kita sesuai dengan kapasitas finansial kita?
Hal ini juga mengingatkan aku pada obrolan dengan temanku dua minggu yang lalu. Saat temannya memutuskan untuk tidak memiliki rumah karena pekerjaannya yang membuat dia harus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Temannya itu sampai bilang bahwa kalau beli rumah itu gampang, tapi setelahnya itu yang bikin ruwet. Biaya perawatan, pajak, dekorasinya, dan lain-lain.
Dari semua pertemuan dan obrolan ini, aku makin sadar, bahwa hidup adalah tentang pilihan. Setiap orang punya prioritas dan alasannya masing-masing. Ada yang lebih memilih punya A dibandingkan B, dan sebaliknya. Tapi satu hal yang menjadi bahan refleksi aku adalah jangan sampai kita memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang berada di luar kemampuan kita, hanya demi memuaskan ego sesaat.
Bukan berarti temanku itu tidak mampu. Tapi kejadian-kejadian ini membuat aku sadar bahwa semua yang kita miliki, seberapa mahal dan mewah pun itu, akan datang juga dengan konsekuensinya, dengan biaya tambahan-tambahan lain yang mungkin enggak nampak di awal.
Instant gratification. Kalau kata Philip Mulyana di bukunya Personal Finance 101.
Kita sering terjebak dalam instant gratification - keinginan untuk merasakan kebahagiaan secara instan. FOMO, takut tertinggal, membuat kita membeli barang-barang yang hanya menyenangkan sesaat. Bahkan, sering kali kita gak benar-benar menghitung kebutuhan jangka panjangnya. Kita pun jadi bingung untuk membedakan mana needs and wants.
Pada akhirnya semua kembali pada kesadaran: bahwa kedewasaan finansial itu ternyata bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita beli, tapi seberapa bijak kita bisa memilah, memilih dan menerima konsekuensinya.
Love,
Ihat
Thursday, July 17, 2025
![]() |
| Photo by Kinga Longa |
Siang ini entah kenapa aku merasa sangat mengantuk. Tubuhku seolah meminta waktu istiriahat yang lebih panjang dari biasanya. Aku pun memutuskan untuk tidur siang. Awalnya aku terbangun di 30 menit pertama, namun karena rasa kantuk yang masih menyelimuti, aku kembali memejamkam mata. Tapi, tidur keduaku malah membawaku ke sebuah mimpi yang aneh, penuh kecemasan, dan membuatku terbangun dengan jantung berdebar keras.
Dalam mimpi itu, aku tertinggal kereta. Rasanya seperti menggambarkan bahwa aku terlambat dari sesuatu hal yang menjadi standar masyarakat pada umumnya. Lalu entah bagaimana, aku malah terdampar di sebuah rumah sakit yang mengharuskan aku menjalani pemeriksaan di sana. Ketika pulang, aku lupa membawa barang yang diberikan oleh pihak rumah sakit yang mengharuskan aku untuk kembali ke ruang tersebut.
Di sinilah mimpi mulai terasa aneh. Aku mencoba mengingat lift mana yang aku pakai dan juga lantai berapa tempat aku berobat tadi. Setelah aku yakin, aku menaiki lift tersebut dan ketika keluar dari lift tersebut ternyata aku salah lantai. Aku kembali lagi memasuki lift dan begitu masuk aku salah memencet tombol. Malah ke lantai yang paling atas. Aku panik, aku kembali memencet tombol 1. Lift melesat begitu cepat, karena tidak ada yang naik di lantai atas tersebut, lift turun begitu cepat membawa aku ke lantai 1. Begitu aku sampai di lantai satu, aku terus mencari tempat aku berobat sebelumnya untuk mengambil barang yang tertinggal. Tidak ada di lantai tersebut, aku kembali mengingat-ngingat sepertinya di lantai 3. Aku menaiki lift tersebut lagi menuju lantai 3, lalu aku mencari dengan susah payah dan akhirnya aku menemukan barang yang aku tinggalkan. Tapi kemudian muncul kecemasan yang lain, bagaimana cara aku keluar dari rumah sakit ini?
Aku memilih sebuah lift. Tapi begitu pintu lift tersebut terbuka, di dalamnya ada telfon genggam yang berasap, seperti akan meledak. Selain itu, ada juga seorang perempuan dengan pakaian urakan yang sedang makan sambil menatap ku sinis. Aku langsung panik dan menutup pintu lift secepat mungkin.
Aku memilih lift lain yang ada di sebarangnya. Aku langsung masuk ke dalam lift itu sembari ketakutan. Lalu memenceti tombol 1. Tapi lift ini malah turun dengan kecepatan tinggi dan ternyata lift itu rusak. Bukannya sampai di lantai 1, aku justru sampai di lantai dasar. Dengan jantung berdebar dan tubuh yang lelah, aku langsung keluar dan berjalan ngesot di atas lantai. Lalu saat melihat sekitar, di sekelilingku dipenuhi oleh jeruji besi berwarna hijau. Aku merasa terjebak kembali
Dan setelah terbangun, aku mencoba untuk menenangkan diri sekaligus merenung.
Iya. Aku merasakan ketertinggalan itu. Perasaan tertinggal dari teman-teman seusiaku. Meski aku sering meyakinkan diri bahwa hidup bukan perlombaan, tetap saja rasa iri dan rendah diri kadang muncul tanpa diundang.
Hi, Ihat
Tolong, jangan bandingkan hidupmu dengan kehidupan orang lain ya. Setiap orang punya timeline nya masing-masing. Kamu masih baru. Adaptasi di tempat baru itu gak mudah. Kamu pasti akan mengalami banyak error, dan itu wajar. Tulis saja kekuranganmu dan jadikan sebagai bahan perbaikan untuk esok hari. Jangan menyerah ya, semangat!
Aku sedang berada dalam proses penyembuhan. Bisa berada di titik ini - mulai menerima diri, mulai memaafkan masa lalu - adalah sebuah pencapaian yang tidak kecil. Setahun ke belakang sangat berat untukku. Aku harus melewati malam yang panjang, penuh suara dalam kepala yang mengkritik, menakuti, bahkan membuatku ingin melukai diri sendiri. Aku lelah sekali waktu itu.
Sekarang frekuensi kesedihannya memang tidak sesering dulu. Tapi prosesnya masih panjang. Aku sadar, aku tidak bisa memaksa diriku untuk pulig dalam semalam.
Kadang aku masih mempertanyakan pilihan hidupku. Apakah keputusan untuk langsung bekerja adalah langkah yang tepat? Padahal orang tuaku sendiri meminta aku untuk istirahat dulu. Tapi aku tidak mau membebani mereka. Setelah dewasa, aku menyadari bahwa dalam kondisi apapun, aku tidak bisa terus-menerus menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk lari dari tanggung jawab.
Aku juga masih bergulat dengan diriku sendiri. Takut tampil di depan umum, takut salah, takut tidak cukup baik. Padahal ketika akhirnya aku memberanikan diri, semuanya berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan.
Dan kini, aku sedang mencari arah hidupku sendiri. Aku tahu, semua butuh proses. Tidak ada yang langsung jadi. Gak apa-apa kalau aku belum tahu semuanya sekarang. Yang penting, aku terus berjalan, gak apa-apa pelan-pelan juga. Karena aku percaya, setiap langkah kecil yang aku pilih hari ini akan membawaku menuju versi terbaik dari diriku di masa depan.
Kalau kamu juga pernah merasa tersesat seperti dalam mimpiku, mungkin kita sama-sama sedang dalam proses berjuang untuk keluar dari jeruji yang tak terlihat. Semoga kita bisa sampau di lantai yang kita tuju, dengan selamat.
Friday, July 11, 2025
![]() |
| Photo by Tim Mossholder |
Hi, bagaimana kabarnya?
Capek ya? Kamu masih harus mengejar banyak ketertinggalan kamu akhir-akhir ini. Tapi rasanya kenapa bisa lumayan lebih legowo ya? Kadang aku berpikir, apakah mengajar itu ingin aku? Apakah mengajar itu hal yang aku suka? Tapi aku ingat satu hal, manajerku pernah bilang bahwa satu tahun pertama pasti akan terasa berat dan itu wajar. Aku saat ini harus banyak mengulang materi-materi yang dulu pernah aku pelajari. Hanya saja perasaan aku entah mengapa ya tetap aja semangat. Aku mau melalui ini semua.
Aku hanya ingin berbagi apa yang aku fahami. Bukan untuk menjadi guru yang sempurna. Gak apa-apa banget. Soalnya kalau di otaknya kamu harus jadi sempurna, gak ada yang sempurna mau bagaimanapun juga.
Ihat.
Belajar memaafkan diri sendiri ya. Kamu udah terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kamu lupa kalau kamu gak ngasih jeda dan juga nafas untuk diri kamu sendiri. Apa yang mau dikejar, Hat? Capek. Sekemampuan kamu aja, gak usah tengok kiri kanan.
Ingat, apa yang Allah tunda saat ini adalah itu yang terbaik. Bisa jadi kalau kamu paham banget, kamu udah di luar negeri, kamu gak bisa sedekat itu sama Allah. Kamu gak bisa ngobrol, minta apapun sama Dia Yang Maha Segalanya. Tapi bukan berarti kamu malas ya, yuk lebih banyak praktiknya lagi, sabarnya diperluas, doanya dikencengin lagi. Fokus satu-satu dulu aja, asal konsisten.
Titip jangan nyerah, ya.
Kalau capek, berhenti sejenak. Gak usah memaksakan.
Jangan kasar, keras sama diri kamu sendiri.
Udah cukup dulu waktu kamu kecil kamu harus merasakan itu semua.
Saat ini udah ya. Jangan lagi.
Gak apa-apa banget kalau kamu hari ini belum sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Masih ada esok lagi yang bisa kamu perbaiki.
Semangat.
Semangat, ya.
Jangan menyerah.
Apalagi sekarang kamu udah tinggal sama orang tua lagi. Allah kasih mereka yang sayang sama kamu. Yang gak pernah menuntut apapun dari kamu.
Kalau kamu bisa memaafkan mereka, kenapa kamu gak bisa memaafkan dan juga memeluk diri kamu sendiri?
Udah cukup dia diberi tekanan dari luar, dari kamu jangan dong.
Percaya sama diri kamu sendiri, yakin ada Allah yang selalu bantu kamu.
Hai, Ihat.
Maafin aku ya, yang jahat sama kamu. Yang selalu menuntut kamu sempurna. Yang selalu membanding-dingkan diri kamu dengan orang lain.
Udah saatnya menghilang dulu di sosmed. Banyakin nulis dan ngobrol sama diri sendiri. Biar bisa makin akrab dan sayang sama diri sendiri.
Love you, Ihat.





Social Media
Search