Saturday, August 09, 2025


Photo by Anna Tarazevich

I really didn't know myself at that time.

When I got the invitation, my first thought was, I can't do both at the same time. So, I chose to let one go. 

Then, I made a decision. One so reckless that it made my manager angry with me. When she asked to discuss it again, she eventually uncovered something I had been hiding, something even I didn't fully understand. 

I cried in front of her. I poured out all of my fears about the future. The fears that might never even happen. She just listened. She understood the reasons behind my decision, reasons I counld't even put it into words before. 

Afterward, my friend told me, "You live in the future." She was right. I was overthinking things that weren't even certain. She had been in my position before, so she understood me deeply. She reminded me  to live in the present. Not in the past. Not in the future.  She said that I was putting everything on my plate at once. And that's way I felt so suffocated. 

Later, when I called him yesterday, I was so angry about his decision. I tried to calm myself, but deep down, the only things I wanted to hear from him was.

"Will you wait for me? So I'll save what I have and find a way to bring you here."

When I started talking about random things, he told me I was overthinking. At that moment, I denied it. But eventually, I realized. He was right. I was overthinking. Overthingking means I've been living in the future. 

"All these decisions that I implemented are for you. You shouldn't lie to yourself. Think about it wisely and clearly. It's about you and your future. Think wisely and see what works for you."

What makes me so grateful is that he never leaves me. No matter what state I'm in. I know my life feels messy. I'm trying to fix it, to embrace it, and to accept it. But, it's not as easy as people say. I still go through trial and error, but he always says, "That's okay."

Now, I'm teaching myself to stay in the present. To aprreciate what I have right now. To focus on what I'm doing now. Not to worry too much about the future, and not to regret what has already happened in the past. Because I can't control the future and I can't change the past. 

Hi, Ihat

I know this isn't easy for you. Please, be patient. Everything will bloom in the right time. Don't rush. Slow down. Accept what is, focus on what matters now.  You don't have to compete with anyone else's life. It's just you! Only you. Compare yourself only with you were yesterday. Keep going, even if it's just one small step each day.

"It doesn't matter if there are mistakes. What matters is that you are on the right path. We all make mistakes, but we must not fail. We must continue moving forward."

Then, he said,

"The nice thing I like about you is that you accept advice."

Hmm..hm...


Love.

Ihat





Photo by Wendelin Jacober

I know.

I know what I feel. 

I was angry when reality slapped me again. When he said that we would never meet in real life. Because for him,  the problem is our financial situation, our distance, and how hard everything would be.

Yes, he is a realistic person. Very different from me. I'm a dreamer.

Maybe last week, I enjoyed sharing everything with him over the phone. I still remember when he told me for the first time that he was comfortable with me. He even said that I was part of his private life, something he never shares with others. We talked for almost two hours.

But, tonight. I don't know why. Our conversation shifted to us, about the future. I asked him again, "Is it okay if I'm with someone else?" And he said, "Yes."

We know, we hurt each other. We know, we need each other to support. But again, reality reminded us that wanting something and making it happen are two different things. 

I do understand all of that. But deep down, the only things I wanted to hear from him was.

"Will you wait for me? So I'll save what I have and find a way to bring you here."

Just that. Then, I would wait.

But for him, it's not that simple.

He's so realistic. He doesn't want to make a promise he can't keep.

Again.

I asked him, courious about his feelings.

I know that he has another friend from another country. He said that he rarely texts her. Then, I asked  something more personal. He said,  he only shares that kind of thing with me. 

So I asked him, "Am I special to you?"

I knew it would be  hard for him to admit it. He tried to change the subject, but in the end... yes, he admitted I am special to him. 

Argh, I don't know what to feel. I'm happy with him, but deep down I know. In the end, I have to say goodbye and let him go.

I care about him so much. I feel comfortable with him. I feel safe with him. He's the only one who can truly understand my emotions and my overthinking, listen without judging. Always be there for me and support me.

Then, I realized something.

Maybe he is a lesson for me. That in the end,  I can only rely on myself and on Allah. Not on him.

I know, I'm sad about it. But again, I have to turst Allah's plan for my relationship. He is good, he is nice, and something I can learn from him is: don't worry about the future, don't overthink everyhting that comes your way. Just surrender, because Allah has already set everything perfectly for you. I will never regret meeting you, because you have given me so much, for myself, for my self-love journey. And you are my flashlight. 


Love,

Solihat

Monday, August 04, 2025

Photo by Markus Winkler

How was your week?

Sebuah kalimat sederhana yang sering banget jadi pembuka keran cerita. Kalimat yang pada akhirnya membuat aku flashback ke satu minggu kebelakang. Kalimat yang bikin aku akhirnya cerita ngaler ngidul, dari mulai hal yang bikin bahagia sampe ke hal yang bikin aku kesel setengah mati, nangis, habis itu refleksi sambil ngusapin diri sendiri dan bilang,

"It's ok. You handled it well. You got through it."

Kalimat yang selalu aku nantikan kalau lagi telfonan sama dia hehee. Sesederhana itu, tapi hangatnya luar biasa.

So, talking about this week...

Anxiety and overthinking aku kambuh lagi. Tiba-tiba datang, kayak tamu gak diundang. Semuanya berawal pada saat aku harus menghadapi kelas baru dengan materi yang belum pernah aku ajarkan sebelumnya. Stress? Oo tentu saja. Seperti biasa, instead of doing, aku malah mikir panjang. Buku udah ada di tangan, raga udah duduk rapi di kursi dan siap mengeksekusi ide-ide yang ada,  eh si jiwa yang malah melayang-layang entah ke mana.

Mamah di rumah sampe pusing sendiri sama keadaan aku. Bukan aku gak bersyukur sih, aku cuma mikir kayak busyet di Indonesia buat dapet lima puluh rebu sehari kudu jungkir balik ke sana ke mari. Susah bener cari duit. Aku bukannya pesimis ya, tapi memang itu kenyataannya. Bagi kita rakyat biasa, biar bisa punya duit sehari lima puluh rebu tuh luar biasa pengorbanannya. Makannya kalau ada yang bilang angka kemiskinan di Indonesia menurun, hmm hmm. Tolong cek. Biaya hidup aja makin melejit, nyekik banget rasanya.

Satu hal yang akhirnya kembali menyadarkan aku: semua itu butuh proses, butuh waktu, dan gak ada yang instan. Apalagi saat kamu dilahirkan sebagai seorang perintis bukan pewaris. Gak apa-apa kalau saat ini kamu belum punya pencapaian seperti yang dianggap "sukses" oleh masyarakat sekitar. Gak apa-apa banget kalau kamu masih pengen eksplorasi banyak hal, bahkan saat harus mengulang lagi dari nol. Gak ada yang salah kok. Setiap orang yang punya jalannya masing-masing. Dan semua pilihan, pada akhirnya kembali kepada diri kita sendiri. 

Aku juga belajar bahwa kita gak usah nunggu momen sempurna untuk memulai. Nanti yang ada malah gak mulai-mulai. It's ok to make mistakes. Justru dari sana kita belajar untuk terus memperbaiki. Karena sampai kapanpun gak akan ada yang sempurna. Pasti selalu ada kurangnya. Nah jangan sampai, kamu nunggu terus kesiapan tanpa mau mencoba langkah pertama. Tahu kok, langkah pertama selalu berat, iya. Wajar banget. Tapi nanti setelahnya kamu akan terbiasa dan sudah bisa membaca pola sekitar. 

Minggu ini juga, aku sempat mengalami situasi yang bikin aku kembali ingin menyalahkan diri sendiri. Aku sempat bilang apa aku gak cukup bener kerja ya, pada saat rekan kerjaku bilang aku gak ngecek pr muridnya waktu aku harus gantiin kelas dia. Padahal jelas banget aku ngecek pr muridnya dia minggu lalu itu. Tapi sayangnya di buku murid-muridnya dia gak ada sign aku. Ya memang aku gak kasih sign, lagian udah gede gitu. Udah anak SMP kelas 3 sama anak SMA juga. 

Perdebatan sore itu cukup sengit, sampai beberapa rekan kerja yang lain memilih diam. Aku dengan keteguhan diri sendiri, terus bilang bahwa aku mengecek. Tapi karena tidak ada bukti fisik, aku tahu aku sadar posisiku aku lemah. Sampai kemudian tak aku lanjutkan kembali. Udahlah aku teacher baru, ya kalau difikir siapa juga yang mau percaya sama aku. Beberapa rekan juga justru banyak berpihak kepada dia. Rasanya gak adil, tapi ya sudah, aku memilih diam. Bukan berarti aku kalah, aku cuma milih untuk menunggu kebenaran yang nantinya akan membuktikan sendiri.

Sampai akhirnya, ketika aku kembali menggatikan dia di kelas, aku menyelipkan sindiran halus soal PR. Mereka semua diam dan saling menoleh satu sama lain. Aku berusaha tetap tenang, mencoba mengatur emosi aku biar gak meledak saat itu juga. Mengajar seperti biasa dengan senyuman, dan dalam hati aku terus memohon,

"Yallah, please help me. Prove it! That I didn't a mistake. I did it. I checked it last week."

Gak usah nunggu lama, satu orang murid tiba-tiba nyeletuk, "Nanti kalau ditanyain prnya dicek apa enggak, kita bilang aja gak dicek ya."

Aku langsung menegur dengan tenang. Mereka semua terdiam. Lalu ada satu murid yang membela diri, katanya aku salah karena aku gak ngasih sign. Aku jawab, aku emang gak pernah ngasih sign di kelas yang sudah besar. Mereka akhirnya terdiam, malu. 

Aku kabarin itu ke yang lain. Mereka pun akhirnya kaget dengan hal itu. Bahkan ada yang mengaku, pada saat perdebatan itu mereka ngira aku ini denial. Dan betul dugaanku. Hahahaa. Aku luruskan aja, aku kalau salah ya ngaku salah, kalau bener ya terus aku akan suarakan itu. 

Dari setelahnya, aku cuma pengen meluk diri sendiri. Aku ingat betul, setelah  kejadian itu disampaikan di hadapan orang lain, aku sempat menyalahkan diri sendiri. Ada ketakutan dan keraguan pada saat itu. Tapi aku terus menepis suara-suara buruk itu dan terus menguatkan diri sendiri,

"Iya, aku udah ngerjain itu kok. Tapi nanti lagi, harus lebih teliti. Harus ada bukti."

When I told him about what happened, he smiled and said I had done the right thing. "As long as you're doing the right thing and others still doubt you, keep going. Keep fighting for it. Don't be afraid."

He knows me so well. So instead of giving long advice, he just listened quietly, occasionally chuckling as I told the story with fire in my voice.

"Teenagers are annoying, sometimes," he added with a laugh. 

Dan aku lega bisa menyampaikan itu semua. Hehee. 

Proses menanamkan mindset ini dan juga menguatkan diri memang bukan hal yang mudah. Aku juga terkadang kalau udah kambuh si overthinking dan anxiety ya suka jadi hilang fokus dan fikiran ke mana-mana. Tapi aku tahu ini bagian dari proses penyembuhan. Proses mencintai diri sendiri. 

Aku benar-benar sedang berada di fase yang aku gak tahu arah hidup ini akan membawa aku kemana. Aku kadang gak faham, apa maksud dari semua ini. Tapi ya semakin difikirkan justru malah semakin membuat kita gila gak sih? Hahahaa. Karena memang ada beberapa hal yang gak harus selalu kita tanyakan terus soal hidup ini.

Kenapa ini terjadi?

Kenapa aku?

Kenapa harus aku?

Instead of asking "why me?" saat ini aku sedang mencoba untuk mengubahnya menjadi, 

"Allah lagi mau ngajarin aku apalagi ya?"

Belajar untuk menerima, hadapi, dan stop asking. 

Meski pada praktinya itu gak mudah, tapi aku sedang belajar untuk percaya dan menerima atas takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk aku.

Di sinilah iman itu benar-benar menyelamatkan kita. Kalau aku gak punya iman, kayaknya ide-ide gila untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri bisa jadi datang kembali. Dan aku gak mau itu kembali lagi. 

Ternyata iman itulah yang pada akhirnya menguatkan diri saat hati mulai ragu akan kenyataan yang harus dihadapi. Saat hati mulai ragu dengan kemampuan diri, padahal semua yang terjadi tidak lepas dari izin dan ridho-Nya. 

Allah gak minta kita untuk suskes di dunia. Allah gak minta kita untuk jadi kaya raya. Yang Allah lihat adalah prosesnya dan bagaimana kita tetap memilih kembali kepada-Nya dalam kondisi apapun.

Karena kita benar-benar lemah tanpa pertolongan Dia.

Ya Allah, maafkan aku.

Ternyata selama ini aku masih saja khawatir atas hal-hal yang belum terjadi. Maafkan hamba-Mu ini yang ceroboh, yang terkadang meremehkan potensi yang Engkau titipkan pada diri ini. Kuatkan iman ini, agar mampu merobohkan suara-suara jahat yang ingin menghancurkan rasa percayaku pada diri sendiri dan juga keyakinanku atas takdir-Mu. 


Love,

Solihat

Tuesday, July 29, 2025

Photo by Photo By: Kaboompics.com

On July 26th, I turned 28. It was a beautiful day – for the first time in my life, my friends celebrated and prayed for me. As you may know, I’ve never been someone who makes a big deal out of birthdays; I’ve always chosen to keep it simple and personal.

It’s not about the celebration itself. I’ve always preferred to spend my birthday reflecting on what I’ve learned over the past 365 days.

A lot has changed in my life this year. I unexpectedly left a job I loved and decided to move back to my hometown to live with my parents. I focused on getting to know myself better, deepened my connection with family, and made many new friends. During this time, I experienced a lot of contradictions – moments of light and moments of darkness and doubt.

As I grow older, it feels like the years go by faster. It’s a little depressing, but it’s true. I often ask myself: What is my purpose in life? Am I truly living the life I want? What really matters to me? Am I giving enough to others and to the world?

These are heavy questions, and I don’t have all the answers yet. But as I look back on the past year, I’m deeply grateful for all the growth and learning that came with it.

I know this past year has been one of the hardest I've ever faced. But it has taught me a lot — especially about embracing change and uncertainty. Life is unpredictable, and that’s okay. I’ve had to deal with many changes — in my career, my personal relationships, and my mindset. I’ve learned to sit with the discomfort and grow through it.

I moved from Bandung to Tasikmalaya. It took me almost a year to fully convince myself to take that step. The decision to relocate was both exciting and intimidating. I was happy to live with my parents again, but I was afraid of the limited job opportunities in a smaller town. Eventually, I realized that embracing change opens the door to growth. Now, I’m eager to see what this new chapter holds.

This year, I also learned to say no. In the past, saying no was one of the hardest things for me. As a result, I often felt overwhelmed. But I’ve come to understand that saying no is not selfish — it’s necessary. It helps me set healthy boundaries, prioritize what truly matters, and focus on what brings me joy.

This year also taught me the art of letting go — letting go of expectations, past hurts, and the need to control everything. I used to strive for perfection and tried to control every outcome. It was exhausting. Slowly, I’m learning to release that pressure and find peace in letting go.

Instead of complaining, I’ve learned to find joy in the little things: riding my bicycle in the morning, enjoying a warm cup of tea, or sharing stories and laughter with my family. I’ve realized that happiness isn’t something to chase — it’s something to notice and appreciate in the present moment.

And with that awareness comes gratitude. Even in small ways, I try to reflect on what I’m thankful for. Practicing gratitude helps me find contentment and recognize the abundance already present in my life.

I remember how, in the past year, I often felt like I wasn’t enough. I blamed myself for my failures, called myself stupid, and doubted my worth. But this year, I’ve made an effort to understand myself more deeply. I’ve spent time reflecting on who I am, what I truly want, and what really matters to me. It hasn’t been an easy journey — but I want to love myself better, and I’m committed to learning how.

As I begin my 28th year, I tell myself this: I don’t know what challenges, opportunities, or lessons lie ahead, but I’m ready. I have Allah, and He is always with me — guiding me and helping me through every moment.

Life is a beautiful, messy, and unpredictable adventure. As I step into this new year, I’m ready to embrace it all — the highs and the lows, the joys and the challenges, the knowns and the unknowns.

What you have right now does not define you; your job, your money, your status, or your circumstances. These are only parts of your life, not the whole of it.

Thank you for reading my birthday reflection. This year hasn’t been perfect, but it has brought me closer to discovering who I truly am, and for that, I am deeply grateful.


With Love,

Solihat

Monday, July 21, 2025

Photo by Franklin Peña Gutierrez

Pulang ke kampung halaman, akhirnya membawaku bertemu dengan teman-teman lama. Obrolan pun mengalir, mulai dari nostalgia masa lalu, aktivitas yang sedang dijalani, hingga rencana-rencana hidup selanjutnya. Tak ketinggalan juga, membahas pertanyaan-pertanyaan "klasik" dari masyarakat yang membuat kita mengumpat sekaligus tertawa karena saking udah seringya ditanya hal yang sama.

Obrolan malam itu berakhir di pukul 11. Banyak hal disampaikan yang pada akhirnya membuat aku diam-diam merenung. Aku kembali diingatkan bahwa setiap pekerjaan yang kita pilih dan yang kita tekuni pasti akan selalu ada tantangannya tersendiri. Kita gak bisa membandingkan satu dengan yang lainnya. Kita hanya bisa memilih, lalu menerima segala kosekuensinya dengan sadar. Karena kita gak bisa hanya  mengambil enaknya doang. Gak bisa. Kalau memilih, ya harus siap dengan semua isi paketnya: baik dan buruknya.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan sahabat kecilku. Sahabat dari pas zaman SD yang sekarang memilih untuk berkarier sendiri. Hal yang ingin aku highlight dari pertemuan kita kemarin adalah ketika ia sedang menyetir dan tiba-tiba bagian bawah mobilnya menyentuh aspal cukup keras. Entah bempernya atau bagian yang lain, yang jelas dia kesal dan mengumpat. Karena ia tahu akan ada biaya lagi yang harus dikeluarkan untuk untuk perbaikan.

Aku jadi teringat satu obrolan dulu, saat aku masih bekerja di Bandung. Seorang drivernya bilang bahwa kalau kita memilih untuk punya mobil, siap-siap saja dengan biaya perawatannya yang gak murah. Mana di jalanan kamu harus siap antara "nabrak" dan "ditabrak." Ia bahkan mengaku harusnya mobilnya itu sudah diservis, tapi karena biayanya besar dan mobilnya juga masih bisa berjalan, jadi ya ditunda dulu.

Obrolan dengan sahabatku itu menyadarkan aku bahwa barang-barang mewah sekalipun tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Di awal, mungkin ada rasa bangga, puas dan bahagia karena pada akhirnya kita mampu membeli barang tersebut. Tapi setelahnya, ada tanggung jawab untuk merawat. Dan kalau kita bicara soal mobil, jelas biaya perwatannya tidak sedikit. 

Dari situ aku belajar bahwa penting untuk membeli barang sesuai dengan kemampuan kita. Jangan sampai kita memaksakan diri hanya demi gengsi atau rasa ingin dianggap "mampu."  Contohnya, kalau masih bisa naik transportasi umum, dan itu cukup memenuhi kebutuhan kita, kenapa tidak? Bukankah akan jauh lebih tenang kalau hidup kita sesuai dengan kapasitas finansial kita?

Hal ini juga mengingatkan aku pada obrolan dengan temanku dua minggu yang lalu. Saat temannya memutuskan untuk tidak memiliki rumah karena pekerjaannya yang membuat dia harus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Temannya itu sampai bilang bahwa kalau beli rumah itu gampang, tapi setelahnya itu yang bikin ruwet. Biaya perawatan, pajak, dekorasinya, dan lain-lain.

Dari semua pertemuan dan obrolan ini, aku makin sadar, bahwa hidup adalah tentang pilihan. Setiap orang punya prioritas dan alasannya masing-masing. Ada yang lebih memilih punya A dibandingkan B, dan sebaliknya. Tapi satu hal yang menjadi bahan refleksi aku adalah jangan sampai kita memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang berada di luar kemampuan kita, hanya demi memuaskan ego sesaat. 

Bukan berarti temanku itu tidak mampu. Tapi kejadian-kejadian ini membuat aku sadar bahwa semua yang kita miliki, seberapa mahal dan mewah pun itu, akan datang juga dengan konsekuensinya, dengan biaya tambahan-tambahan lain yang mungkin enggak nampak di awal.

Instant gratification. Kalau kata Philip Mulyana di bukunya Personal Finance 101. 

Kita sering terjebak dalam instant gratification - keinginan untuk merasakan kebahagiaan secara instan. FOMO, takut tertinggal,  membuat kita membeli barang-barang yang hanya menyenangkan sesaat. Bahkan, sering kali kita gak benar-benar menghitung kebutuhan jangka panjangnya. Kita pun jadi bingung untuk membedakan mana needs and wants. 

Pada akhirnya semua kembali pada kesadaran: bahwa kedewasaan finansial itu ternyata bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita beli, tapi seberapa bijak kita bisa memilah, memilih dan menerima konsekuensinya. 


Love,

Ihat

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi