Thursday, June 18, 2026
Yesterday, right after I got home, a friend texted me out of the blue and asked me to join our school reunion. Without thinking twice, I agreed, got ready, and headed straight to her house so we could go together. Before we left, my mom mentioned that I might run into an old friend from senior high school. He is currently teaching at my old junior high, and my mom still remembers him fondly—he was the only boy who came to visit my father when he was in the hospital.
When we arrived, I didn't even notice him until he approached me first! His eyes lit up with genuine joy when he saw me. It has been almost 8 or 9 years since we last crossed paths. He smiled and greeted me enthusiastically, and we caught up for a moment. He asked what I was up to these days, and I told him that I teach English. Shortly after, I excused myself to go greet some other friends.
I don't know why, but his smile left me feeling so calm. I still remember how back in high school, we used to argue about absolutely everything; he was stubborn, but he was also a great leader. Yet, right beside him, I always felt like I could be completely myself. I don't know his current relationship status, but as far as I know, he hasn't married yet.
Am I falling in love? Is it love at first sight? Wait... after everything I’ve been through in my darkness era, am I really allowed to feel this again? Why does meeting him make me this happy?
My mind is spinning, and I don't fully understand what I'm feeling just yet. But I’ve decided to let it be. If we are destined to be in each other's lives, the universe will always find a way to bring us back together.
What is the most important things that must happen today?*
The most important thing is that I can teach my class about "family" well. To be honest, I am very nervous today. Sometimes I still get confused between cousin, nephew, and niece. I feel scared because I am not teaching children today; I am teaching teachers from another school.
But I believe that if I study hard, I can do it well. Teachers are human too. We are not always perfect or clever. Teachers can feel nervous, overthink, and make mistakes sometimes. However, we must face every problem. We can only control our preparation, and the rest is out of our control. Keep it up! You can do it!
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
Wednesday, June 17, 2026
Hari ini, tanpa rencana apa pun, seorang teman tiba-tiba mengajakku ikut acara reuni SMP. Sempat ada ragu, tapi akhirnya aku mengiyakan dan buru-buru mengganti baju.
Setibanya di sana, aku kembali bersua dengan wajah-wajah lama dari masa remaja. Kebanyakan dari mereka kini sudah menikah. Namun, hal yang paling menyentuh hatiku malam ini adalah sikap mereka: tidak ada satu pun yang menyudutkan aku atau temanku karena status kami yang belum menikah. Ada kehangatan yang tulus, sebuah penerimaan tanpa penghakiman.
Malam ini aku disadarkan kembali, bahwa setiap orang benar-benar memiliki garis waktunya masing-masing. Hidup ini tak pernah seindah apa yang dipamerkan di etalase media sosial.
Aku jadi teringat, dulu aku pernah berkata bahwa aku enggan datang ke acara reuni. Aku takut dihakimi, takut diberondong pertanyaan-pertanyaan yang sensitif. Namun faktanya? Kekhawatiran itu hanya riuh di dalam kepalaku sendiri. Nyatanya, realitas tak pernah semenakutkan apa yang kita bayangkan. Kita hanya perlu melangkah dengan hati yang santai.
Setiap manusia diuji dengan porsinya masing-masing. Tidak ada yang berhak merasa menjadi "si paling" dalam hidup ini. Semuanya sudah tertakar sempurna oleh-Nya, dan tidak akan pernah tertukar.
Btw, thanks Inaa for inviting me tonight. Kamu menuntun langkahku keluar dari ketakutan. Malam ini, aku pulang dengan harapan baru dalam memandang hidup. Ternyata, masa depanku tak semenakutkan yang sempat kurisaukan. Everything is gonna be okay.
Tuesday, June 16, 2026
Aku sedih, aku kecewa, aku marah, dan juga kesal. Sesuatu yang sangat ingin aku dapatkan, ternyata belum bisa diwujudkan saat ini. Aku terpaksa harus mengalah pada keadaan. Aku tahu, melangkah nekat pun belum tentu menjadi jalan terbaik, karena kondisi mentalku belum benar-benar dinyatakan pulih sepenuhnya oleh psikiater—meski terkadang ego di kepalaku merasa bahwa aku baik-baik saja.
Beberapa teman di tempat kerja mulai menyadari perubahanku. Sikapku kini lebih banyak diam. Terkadang, aku memilih untuk melipat tangan dan tidur sejenak di atas meja kerja, sekadar mengistirahatkan pikiran sembari menunggu jadwal kelas berikutnya. Aku pun merasakannya; ada bagian dari diriku yang berubah sejak depresi itu bertamu ke hidupku. Aku tidak lagi seberisik dulu. Kini, aku lebih nyaman diam dan mendengarkan ketimbang mengobrol ramai ke sana kemari. Energi mental yang kupunya terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa arti.
Di tengah kesunyian ini, riuh kecemasan tentang masa depan kerap datang mengetuk. Namun, aku segera tersadar: siapakah aku? Aku hanyalah manusia yang hanya mampu menyusun rencana di atas kertas, sementara Allah adalah Sang Maha Pembuat Skenario, penentu mutlak yang memegang kendali atas setiap ketukan takdir. Lantas, kenapa aku harus merisaukan hari esok secara berlebihan?
Keinginan yang harus tertunda hari ini bisa jadi adalah cara lembut Allah untuk menyelamatkanku dari jurang-jurang tak terlihat, yang mungkin saja menyeretku kembali ke lembah gelap yang mengerikan. Allah begitu menyayangiku. Pintu itu ditutup rapat agar aku berbelok arah, mencari pintu-pintu lain yang lebih aman, tanpa harus memaksa mentalku hancur dan jatuh ke lubang luka yang sama.
Walau hati kecil terkadang goyah dan tergiur oleh nominal angka, aku mengingatkan diriku lagi: jika kupaksakan, prosesnya akan jauh lebih menyakitkan. Aku bisa saja terhempas lebih keras hingga sulit untuk kembali ke titik normal. Tidak apa-apa jika dunia melihatku terlambat. Bisa jadi, keterlambatan yang selama ini kutangisi justru adalah pelindung yang sedang menuntunku pada peluang-peluang baru yang jauh lebih indah.
Menangis dan bersedihlah jika hari ini terasa berat, tapi jangan pernah putus asa. Tertutupnya satu pintu hanyalah tanda bahwa perjalananmu belum selesai; kamu hanya diminta untuk mencari dan mengetuk pintu-pintu lain. Tenanglah, Allah menjagamu dengan teramat sangat. Ingat itu selalu.
Sudah direncanakan, sudah diusahakan dengan seluruh tenaga, tapi kalau takdirnya belum tiba, selalu saja ada jalan penghalang yang menghentikan langkah. Namun, di sinilah aku belajar: tertutupnya satu pintu bukan aba-aba untuk menyerah pada keadaan. Aku menolak untuk berhenti mengetuk pintu lain hanya karena satu ruang telah mengunci harapanku.
Tidak, aku tidak ingin menyerah. Aku memilih percaya bahwa pintu yang tertutup itu adalah cara Allah menyelamatkanku agar tidak kembali jatuh ke lubang luka yang sama. Mungkin itu cara-Nya membelokkan jalanku menuju pintu-pintu lain yang jauh lebih lapang, yang perlahan akan mengantarkanku pada mimpi-mimpiku yang sebenarnya.
Hari ini, aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menikmati rezeki yang sudah Allah beri dengan penuh syukur. Walau jujur, di sudut hati yang paling sunyi, kadang terselip rasa sesak—perasaan takut tertinggal karena di usia ini rasanya aku belum memiliki apa-apa dibandingkan orang lain. Namun, aku mengingatkan diriku lagi, bahwa "memiliki" tidak selalu tentang pencapaian materi yang terlihat. Mungkin, apa yang aku miliki hari ini adalah ketabahan, napas yang masih bertahan, dan hati yang terus belajar menyembuhkan diri. Dan itu lebih dari cukup.
Social Media
Search