Sunday, December 07, 2025
Sebenarnya sudah hampir 2-3 minggu aku hiatus dari menulis reflektif di blog, apalagi sejak aku didiagnosa dan harus menjalani konseling dengan psikiater. Awalnya aku marah dan sulit menerima kondisi itu. Namun entah mengapa, setelah aku mencoba berdamai dengan semuanya, perlahan perjalanan hidup ini terasa penuh dengan jeda. Penuh tarikan napas panjang, penuh dengan hal-hal kecil yang terus menerus mengajak aku untuk berhenti sejenak, dan terus mengajak aku untuk memperlambat langkah.
Ada banyak sekali momen yang mungkin bagi sebagian orang itu kecil, tapi menurutku itu besar. Momen-momen yang mengetuk hati dan terus memaksaku kembali melihat diri sendiri dengan lebih jujur.
Aku belum bisa cerita tentang kondisi detailnya kepada kalian. Yang jelas, saat ini aku tidak lagi denial bahwa aku memang sedang tidak baik-baik saja, sedang berobat ke psikiater, dan terus melakukan terapi menulis.
1. Apa tiga hal besar yang paling memengaruhi emosiku minggu ini, dan bagaimana aku meresponnya?
Tiga hal besar yang paling memengaruhi emoski minggu ini adalah hubungan dengan orang tua yang semakin terbuka sehingga membuat aku lebih cepat mengerti dan menerima masa lalu. Lalu tulisan jahil seorang teman yang entah mengapa berhasil membuat hatiku terenyuh walaupun aku tahu itu ia tidak benar-benar menuliskannya, dan rasa kesal saat seseorang mulai melewati batas yang sudah aku tetapkan.
2. Pelajaran penting apa yang Allah ingin tunjukkan kepadaku melalui minggu ini?
Minggu ini aku kembali menjalani konseling lagi ke psikiater. Entah mengapa, seharian setelah konseling itu rasanya lelah. Dari situ aku belajar satu hal: Allah sedang mengajari aku untuk bisa lebih berempati dan lebih sayang sama diri sendiri. Semua perasaan itu valid dan aku belajar untuk bisa menerima sekaligus merasakannya tanpa menghakimi diri.
Selain itu, aku juga sadar kalau aku tidak bisa menjadikan kondisiku saat ini sebagai alasan aku untuk berleha-leha atau mencari pembenaran. Meski aku tahu, aku tak bisa sefokus atau semaksimal dulu. Kini aku sedang belajar untuk hidup dalam mode "biasa-biasa saja." Aku lelah selalu berusaha menjadi yang terbaik. Jadi untuk saat ini, tugasku adalah hanya menjalankan tanggung jawab sebaik yang aku bisa, tanpa membenani diri dengan ekspektasi berlebih yang aku buat sendiri. Let yourself be a beginner.
3. Bagian mana dari diriku yang tumbuh, berubah, atau mulai kusadari sepanjang minggu ini?
Jika minggu-minggu sebelumnya aku merasakan numb, semuanya terasa abu-kelabu, kini perlahan entah mengapa seperti ada kepakan sayap kupu-kupu yang menari di dalam kepalaku. Aku mulai tersentuh oleh hal-hal kecil yang dulu, sewaktu aku kecil belum sempat aku nikmati.
Misalnya, diantar jajan ke alun-alun oleh Bapak, membeli es krim dan memakan bersama keluarga, atau membeli ayam goreng yang bisa dimakan tanpa nasi bersama keluarga. Sederhana, tapi menghangatkan hati. Walau aku tahu, berbicara soal uang tidak ada habisnya, tapi aku tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan esok hari untuk aku bisa berkumpul dan menghidupkan haarapan-harapan diriku sewaktu kecil yang belum bisa diraih.
4. Interaksi atau hubungan mana yang paling membekas minggu ini, dan mengapa?
Hubungan dengan kedua orang tua. Mereka bercerita soal masa lalu, tentang bagaimana mereka dulu dan alasan kenapa mereka memperlakukan aku begitu. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar.
Aku belajar untuk menerima seluruh kebaikan dan kekurangan mereka. Belajar untuk memahami bahwa dalam hidup semuanya datang dengan satu paket. Baik dengan buruknya, lebih dan kurangnya, cinta dan juga benci, bahagia dan juga tangis. Aku sudah menurunkan semua ekspektasi aku tentang orang tua yang dari dulu aku bangun. Tidak ada orang tua yang sempurna. Begitupun aku sebagai anak: tidak ada anak yang sempurna.
5. Apa satu langkah kecil yang ingin aku lakukan minggu depan agar hidupku lebih selaras dengan diri dan Tuhanku?
Aku ingin bangun lebih pagi dan bisa bercengkrama dengan Tuhanku. Aku ingin berdoa agar suatu saat nanti aku bisa lepas dari obat-obat ini, berolahraga di pagi hari, dan mensyukuri setiap nafas yang telah diberikan-Nya.
Aku tidak ingin lagi membebani diri dengan ekspektasi-ekspektasi yang terlalu tinggi, tidak ingin menyalahkan rencana-Nya yang jauh lebih indah dari apa yang sudah aku rancang sendiri, serta ingin terus belajar rendah hati dalam menerima dan menjalani apa yang sudah ditetapkan-Nya.
Sekarang giliran kamu, bagaimana kamu berhasil melalui minggu ini?
Love,
Ihat
What would you say if you could tell every single person in the world just one thing?
This morning, I got that question from 101 Essay that will Change the Way You Think written by Brianna Wiest
If I could tell every single person in the world just one thing, I would say:
“Let people have their space. Let them have their own time.”
There are many people in this world who can respect our choices. For example, when someone needs a moment alone or wants to sit quietly in a corner, others simply let them be without asking too many questions. They understand that needing space doesn’t mean pushing people away.
But in my case, it’s different.
When I take a step back or sit alone for a while, people around me think I’m avoiding them because I’m upset or I hate them. They misunderstand my silence. And in the end, I’m forced to sit in the same room again, pretend everything is fine, and ignore my own need for breathing space.
I don’t like that feeling.
Why is this person so bossy? Why does she feel the need to tell everyone that I “have a problem”? I just needed a moment. I just needed space. But she keeps making it bigger, louder, and more complicated than it is.
At work, there are days when I simply need to be by myself. To recharge, to breathe, to think. But it seems like they never understand that. They always want everyone to gather in the same room, no matter what.
And honestly… it’s exhausting.
Saturday, December 06, 2025
Nadia:
Kak, kalau FB kakak itu Reza Pratama bukan nama profilnya?
Reza:
Yap! 100 buat Nadia.
Nadia tersenyum bahagia sembari memeluk gulingnya erat. Semenjak berkenalan dengan Reza itulah hari-hari Nadia terasa seperti musim semi setiap hari. Ringan, hangat, dan penuh kejutan kecil.
Reza:
Jadi Nadia suka sama siapa nih?
Nadia:
Ah itu mah secret dong. Hahaa.
Reza:
Ayo dong, nanti sama Kakak dibantu kalau Kakak tahu orangnya.
Nadia:
Nggak ah, nanti juga Kakak tau sendiri.
Atau mungkin pesan yang dibuka Nadia setelah Nadia pulang sekolah.
Reza:
Udah pulang?
Gimana tadi sekolahnya? Seru gak?
Ketemu sama orang yang disuka gak?
Pesan-pesan itu datang hampir setiap hari.
Sampai suatu hari di sore yang cerah saat Nadia tengah mendengarkan radio dan menunggu request-annya dibacakan, ponsel Nokianya berdering. Tanda SMS masuk.
Reza:
Nad, lagi apa?
Nadia:
Lagi dengerin radio. Kakak sendiri lagi apa?
Reza:
Lagi nonton Persib.
Nadia membiarkan SMS itu terbuka begitu saja karena ia fokus mendengarkan SMSnya dibacakan oleh penyiar radio.
Reza:
Nad…
SMS baru masuk lagi berbarengan dengan selesai dibacakannya SMS Nadia di radio.
Nadia:
Eh iya Kak, gimana?
Reza:
Nadia suka Persib gak?
Nadia:
Mm, suka. Kenapa gitu Kak?
Reza:
Bisa temenin nonton?
Nadia menatap layar ponselnya lama sekali. Seperti ada sesuatu yang mengepak lembut dalam dadanya. Perasaan asing yang membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Nadia:
Temenin nonton gimana Kak?
Percakapan-percakapan itu menjadi bagian dari hari-harinya. Dan lama-lama, Reza mulai mengungkapkan sesuatu yang lebih jujur.
Sampai suatu malam, sebuah pesan dari Reza muncul di layar ponsel Nadia. Pesan yang pada akhirnya membekas di ingatan Nadia seumur hidupnya.
Reza:
Kakak boleh nanya gak?
Nadia:
Boleh, kak. Mau nanya apa?
Beberapa detik sunyi. Lalu muncul balasan yang membuat jantung Nadia terasa berhenti berdetak.
Reza:
Nadia, mau enggak saling percaya? Nadia percaya sama Kakak, Kakak percaya sama Nadia.
Nadia menatap layar lama.
Saling percaya? Apa maksudnya
Nadia:
Saling percaya?
Reza:
Iya. Harapan supaya kita bisa saling percaya.
Nadia:
Maksudnya?
Balasan berikutnya membuat Nadia terasa sesak.
Reza:
Perasaan Nadia sekarang ke Kakak gimana?
Jantung Nadia bagai dihantam. Jarinya kaku. Nadia tidak membalas. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena terlalu takut mengatakannya.
Beberapa menit kemudian, Reza mengirim pesan lagi.
Reza:
Iya sudah, kalau Nadia belum siap.
Kakak cuma mau bilang, Kakak punya harapan ke Nadia.
Supaya Nadia bisa terus menemani Kakak.
Nadia memandangi layar itu sepanjang malam. Tidak ada yang Nadia balas. Nadia membiarkan pesan itu terbuka.
***
Keesokan harinya…
Setelah mengumpulkan keberanian, Nadia akhirnya membalas dan berterus terang akan perasaannya.
Jadi, Kakak lagi menjalani hubungan spesial dong?
Jawaban Reza ringan, tetapi mengikat.
Sementara itu Nadia memeluk gulingnya erat dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Reza yang akhirnya menyebut hubungan mereka HTS-hubungan tanpa status. Hubungan yang berjalan seolah nyata, tetapi tidak pernah benar-benar diberi tempat untuk tumbuh.
Satu, dua, tiga hingga empat minggu semua berjalan seperti biasa. Nadia bahagia setiap kali mendapatkan pesan-pesan dukungan dari Reza. Nadia tidak benar-benar mengerti sebenarnya apa itu HTS. Tapi Nadia mengerti satu hal:
Reza perhatian.
Reza membuatnya merasa dilihat
Dan untuk pertama kalinya, Nadia merasa penting bagi seseorang.
Namun sayang, setiap awal selalu ada akhir. Hanya saja Nadia tidak pernah mengantisipasi itu. Sampai kemudian pesan itu mulai jarang datang.
Semakin jarang.
Lalu berhenti.
Nomornya tidak aktif.
Facebooknya hilang.
Seakan Reza menghapus diri dari dunia.
Nadia menunggu dalam diam.
Dan yang tersisa hanyalah pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Apa salahku?
Kenapa menghilang?
Kenapa tidak pamit?
Kenapa tidak ada kata selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap tinggal di hati Nadia, bertahun-tahun lamanya.
Di kehidupan berikutnya kamu mau jadi apa?
Aku dapat pertanyaan ini dari buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya yang ditulis oleh dr. Andreasa Kurniawan, Sp.KJ.
Kalau dipikir-pikir, dalam Islam setelah mati memang ada kehidupan selanjutnya, yaitu akhirat. Jadi, sebenarnya pertanyaan ini mungkin tidak terlalu relevan ya. Tapi baiklah, kalau seandainya ada “kehidupan berikutnya” dalam arti lain, aku ingin menjadi… burung.
Kenapa burung? Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar bebas. Terbang ke sana kemari tanpa batas, tanpa banyak hal yang mengikat. Melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari atas pohon, dari tanah, dari atap rumah. Menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Menikmati angin yang menyentuh tubuh tanpa harus memikirkan apa-apa. Sepertinya menyenangkan sekali menjadi burung.
Kadang aku membayangkan, betapa tenangnya hidup jika bisa berpindah tempat hanya dengan mengepakkan sayap. Enggak ada rencana yang rumit, gak ada tekanan untuk selalu kuat, atau beban untuk menjadi versi terbaik setiap saat. Hanya ada aku, udara, dan semesta yang luas. Betapa ringan hidup ketika yang perlu dipikirkan hanya terbang dan kembali pulang.
Kalau jadi manusia ya begini. Banyak aturan, banyak tanggung jawab, banyak hal yang harus dikerjakan dan diurusi. Ada lelah yang tak bisa dijelaskan. Ada ekspektasi, ada tuntutan, ada suara-suara dari luar yang kadang lebih keras dari suara hatiku sendiri. Ruang gerakku sering terasa sempit, seolah aku harus menyesuaikan diri terus-menerus.
Mungkin itu sebabnya bayangan menjadi burung terasa begitu menenangkan; seru, ringan, dan bebas. Seolah aku bisa beristirahat sebentar dari ributnya dunia, dan kembali mengingat bahwa hidup juga bisa sesederhana menikmati angin yang berhembus di antara sayap.
Jadi gimana? Hmm...
Sebenarnya ketika menulis ini aku gak tahu arah tulisannya ke mana. Tapi tulisan ini juga jadi mengingatkan aku bahwa gak semua manusia bisa menikmati angin yang berhembus kan? Kadang kita banyak melewatkannya tanpa sadar. Padahal beberapa waktu lalu, saat aku mencoba menikmati angin secara sadar, rasanya luar biasa… bagaimana angin membelai lembut pipiku, seperti mengingatkan bahwa aku masih hidup, masih bisa merasakan sesuatu.
Ternyata banyak hal yang kita lewati dalam hidup hanya karena kita terlalu fokus pada hal-hal besar. Padahal mungkin, kebahagiaan yang kita cari selama ini tersimpan di momen-momen kecil yang selama ini tak sempat kita hiraukan.
Cheers,
Ihat
Saturday, November 29, 2025
Aula SMP tempat lomba olimpiade Fisika tingkat kota itu riuh oleh suara langkah dan peserta yang berbisik-bisik. Nadia duduk di kursinya sambil memeluk tas, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak pagi dag-dig-dug tak beraturan.
Meski gugup, ada sedikit kebanggaan dalam dirinya. Guru Fisika memilihnya untuk mewakili sekolah. Itu bukan hal kecil untuk anak SMP kelas 2 yang biasanya lebih sibuk dengan komik dan tugas kelompok.
"Duh, dingin ya ruangannya," gumam Sari, sahabat Nadia , sambil mengusap lengan.
Nadia mengangguk. Namun perhatiannya langsung teralih saat melihat seseorang kakak panitia lewat di depan pintu. Usianya mungkin SMA. Tubuhnya lebih tinggi, lebih dewasa, dengan papan nama ... Sayangnya terbalik tergantung di lehernya. Ia membawa tumpukan map sambil bergegas.
Entah kenapa, Nadia malah terpaku.
"Kamu lagi liat apa sih?" Sari mencondongkan tubuhnya, mencoba mengikuti arah padangan Nadia.
Nadia buru-buru menunduk. "Enggak... enggak lihat apa-apa, kok."
Sari mengangkat alis curiga.
Tak lama panitia itu kembali lewat. Rambutnya sedikit berantakan, tapi itu justru yang membuatnya terlihat... berbeda. Tidak seperti cowok sebayanya. Lebih keren. Lebih tenang. Lebih... menarik.
Sari menekan bibirnya, menahan tawa. "Kamu suka, ya?"
Nadia mencubit lengan Sari, "Apaan sih! Enggak!"
Tapi pipinya merah terbantahkan oleh omongannya sendiri.
***
Setelah lomba selesai, para peserta bubar. Nadia dan Sari berjalan menuju gerbang sekolah, sesekali membahas soal yang rumit dan bagaimana Nadia yakin ia salah menjawab soal terakhir.
Di sudut halaman, para panitia sibuk mengumpulkan perlengkapan. Panitia itu ada di sana, menunduk sambil membereskan kertas pendaftaran. Nadia melintas sambil menundukkan kepala, berusaha tidak ketahuan mencuri pandang lagi.
Sari menahan tawa kecil. "Halah, sok malu."
"Udah jangan bahas..." gumam Nadia, mendorong Sari ke arah angkot.
Hari itu berakhir begitu saja.
Atau setiddaknya Nadia pikir begitu.
***
Pengumuman hasil lomba baru saja diumumkan tadi pagi setelah upacara selesai. Butuh dua minggu untuk Nadia dan Sari menunggu hasil lomba Fisika tersebut. Sayangnya keduanya gagal melaju ke tingkat provinsi.
Malamnya, saat Nadia sedang mengerjakan PR Matematika, HP Nokia 3310 miliknya bergetar pelan. Nada SMS masuk berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Hai. Ini Reza, panitia olimpiade Fisika tingkat Kota. Apakah ini dengan Nadia Putri Anindya?
Jantung Nadia langsung berdebar tak menentu.
Jangan-jangan mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya? Fikir Nadia.
Ia membaca ulang SMS itu setidaknya empat kali, sebelum akhirnya Sari menelfon untuk menanyakan soal PR.
"Ada SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal." Ucap Nadia begitu ia menjawab telfon dari Sari.
"Dari siapa?"
"Bilangnya dari panitia olimpiade Fisika tingkat kota kemaren. Namanya Reza."
Sari diam sesaaat. "Jangan-jangan yang kamu taksir itu lagi!"
"Enggak tahu juga sih, barangkali mau klarifikasi soal pemenangnya kali ya?" Jawab Nadia santai walau sebenarnya hatinya masih berdebar tak karuan.
Sambil ngalor-ngidul membahas PR, fikiran Nadia masih ada di pesan baru itu. Nadia menatap langit-langit kamarnya begitu telfon selesai dimatikan dan membiarkan pesan itu terbuka begitu saja.
Iya betul. Ada apa ya Kak?
Balasan datang cepat.
Tadi saya beresin berkas pendaftaran, saya lihat tulisan kamu dan nomor kamu di sana. Pengen kenalan aja, boleh kan?
Percakapan lewat SMS pun berlanjut. Beruntung Nadia punya gratisan SMS sampai jam dua belas malam. Reza ternyata ramah. Menanyakan sekolah Nadia, kemudian tentang olimpiade itu, dan hal-hal kecil yang membuat Nadia tersenyum tanpa sadar.
Malam itu, Nadia tidur dengan pesan yang ia sengaja buka.
Ya udah, gih tidur sana. Besok kan sekolah. Selamat tidur, Nadia. Mimpi yang indah ya.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah Nadia dan Sari sepakat untuk pergi ke warnet sebrang sekolah. Tak henti-hentinya Nadia bercerita soal sms semalam itu pada Sari.
"Udah tahu nama lengkapnya kan? Kita cek di Facebook!" Ucap Sari begitu mereka masuk ke dalam warnet. Siang itu entah kenapa banyak sekali anak-anak lain yang datang ke sana. Niat Nadia dan Sari akan menggunakan komputer secara terpisah, namun karena tersisa satu bilik yang kosong, akhirnya terpaksa mereka masuk ke bilik tersebut bersama.
"Ya udah kamu dulu yang login ke Facebook."
Tanpa banyak bicara, Nadia langsung login ke Facebooknya sembari melihat dulu ke buku kecilnya untuk memastikan bahwa email dan passwordnya itu sama. Setelah berhasil login, dengan hati yang berharap-harap cemas, ia mengetikan nama lelaki itu.
Reza Pratama.
Jari-jarinya gemetar.
Dan ketika hasil pencarian itu muncul....Urutan pertama adalah ....!
Itu dia! Kakak panitia yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Nadia menahan napas keras-keras.
"Ya ampun, itu dia beneran Nadd!!" Sari yang duduk di samping Nadia tak kalah ikut kaget juga.
Nadia menutup mulutnya, menahan senyum lebar.
Nadia memeluk Sari erat.
Hari itu, tanpa Nadia sadari, sesuatu dimulai.
Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sesuatu yang... mungkin akan lama membekas.

Social Media
Search