Saturday, December 20, 2025

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya
Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Tahun Terbit: Cetakan kedepalan, Juli 2025
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Jawab dengan cepat: Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa? Berikut beberapa jawaban unik yang pernah kudengar baik dalam ruang praktik maupun ketika ngobrol santai dengan teman-teman:

"Aku ingin menjadi ubur-ubur, melayang bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial,"

"Aku ingin menjadi pohon pinus, karena tinggi dan keren."

"Aku ingin menjadi ikan mas koki. Katanya memorinya cuma bertahan lima detik, jadi aku tidak akan overthinking."

Suatu hari, seorang pasien perempuan mengatakan bahwa ia ingin terlahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. "Aku ingin menjadi pohon semangka di kehidupa berikutnya." Kehidupan seperti apa yang dia alami sampai berpikir lebih baik menjadi pohon semangka?

Ini adalah buku tentang kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempuranaan. Buku ini cocok untuk kalian yang sering dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi minimarket di akhir hari, yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti dari kata kebahagiaan. 

Tiga Insight Utama

1. Kita bisa mati kapan saja. Bukankah sangat rugi bila kita mati, hal terakhir yang ada dalam pikiran kita adalah hal negatif? Apalagi pikiran negatif itu adalah tentang seseorang yang sungguh tidak penting dalam hidup kita! (p. 5)
2. Kadang memang kita perlu belajar untuk menjadi orang jahat dalam cerita orang lain. Bukan tugasmu untuk membuat mereka senang dengan keberadaaanmu. Tugas mereka adalah untuk membecimu dan menyebarkan berita buruk tentangmu. Tugasmu adalah untuk membuktikan pada orang-orang lain, terutama yang masih netral, bahwa kamu tidak seperti itu. (p. 40)
3. Menginginkan sesuatu membuatmu bergerak dan memperjuangkannya. Tapi, kita juga perlu sadar bahwa hasrat itu tidak sempurna dan tidak menetap. Ada saatnya perasaan itu begitu kuat dan kita sangat menginginkannya, seolah bila mendapatkannya, maka hidup kita akan sempurna. Di saat lain, ada waktunya perasaan tersebut akan meluruh, berganti menjadi perasaan lain. (p. 188)

Refleksi Pribadi

Banyak tulisan dalam buku ini menyadarkanku bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah benar-benar lepas dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Dan pada kenyataannya, kita juga tidak sepenting itu dalam hidup orang lain, sehingga kita bisa lebih fokus pada apa yang ingin dan perlu kita lakukan.

Sebagai manusia, kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang bahagia. Akan selalu ada yang menjadikan kita tokoh jahat dalam cerita versinya sendiri. Semua kembali pada sudut pandang. Dan tugas kita hanyalah tetap melakukan kebaikan, meski kebaikan itu tidak selalu dipandang baik oleh orang lain.

Hal lain yang membuatku menyukai buku ini adalah caranya mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan sekitar, memperlambat ritme hidup, dan benar-benar hadir. Sebab ternyata, hal-hal kecil yang selama ini kita lewati begitu saja bisa menumbuhkan rasa syukur yang luar biasa.

Penutup

Mungkin, keinginan untuk menjadi pohon semangka bukan tentang ingin kabur dari hidup, melainkan tentang lelah menjadi manusia yang terus dituntut untuk kuat, sempurna, dan selalu tahu jawabannya.

Buku ini mengajakku berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu indah, dan itu tidak apa-apa. Bahwa kecewa, menyesal, dan merasa tidak cukup bukanlah tanda gagal, melainkan bagian dari proses menjadi manusia.

Dan setelah menutup buku ini, aku pulang dengan satu pengingat sederhana: tidak semua hari harus luar biasa. Kadang, bertahan saja sudah cukup. Kadang, duduk diam, menarik napas, dan mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita adalah bentuk kebahagiaan yang paling jujur.

Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul: Surat untuk Putriku: 37 Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu

Penulis: Han Sung Hee

Tahun Terbit: Cetakan kedua, Mei 2025

Penerbit: PT Gramedia, Jakarta


Blurb

Buku ini adalah surat cinta dari seorang ibu untuk seluruh anak perempuan di dunia. Ke -37 nasihat kehidupan di dalamnya terasa hangat dan jujur, sekaligus merangkul dan penuh wawasan yang penting, diantaranya:

  • Jadilah anak yang nakal
  • Tak ada yang memintamu menjadi superwoman
  • Jangan berusaha melakukan semuanya dengan sempurna
  • Depresi adalah sinyal untuk memulihkan keseimbangan hati yang hancur
  • Seperti apa pun hidup yang kau jalani, jangan menunda cinta
  • Hiduo tidaklah serumit itu, jadi nikmati saja prosesnya
Kehidupan adalah perjalan tanpa henti yang terus bergerak maju. Dengan nasihat bijak yang tulus dari Ibu, apa pun yang terjadi, kita pasti mampu melaluinya dengan hati yang kuat. 

Tiga Insight Utama

1. Mereka tahu bahwa meskipun gagal dan melakukan kesalahan, mereka tetap berharga untuk dicintai. (p.7)
2. Jika merasa lelah, makanlah makanan favoritmu, temui orang-orang yang kausukai, dan pergilah meliaht hal-hal yang indah. Jadi, anakku tertawalah dan menangislah dengan sepenuh hati. Biarkan semua perasaanmu mengalir sehingga kamu bisa mengalami sebanyak mungkin keragaman yang ditawarkan kehidupan. (p. 35)
3. "Mengapa hidup saya begitu susah sementara orang lain begitu mudah?" Namun, kita harus ingat bahwa mereka yang kita irikan harus mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan bakat, kesempatan, dan jaringan yang mereka dapatkan. Kita mungkin perlu mengubah pertanyaan menjadi, "Apa yang mereka korbankan untuk mendapatkan itu?"

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti diajak dialog oleh Ibu sendiri. Bagiamana petuah-petuah yang tertulis dalam buku ini semuanya pasti kita alami sendiri. 

Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini. 

Dari sekian banyak sosok yang lalu-lalang di sekitar pandanganku,

entah mengapa langkah batinku justru berhenti padamu.

Sosok yang tenang,

dengan senyum seperlunya dan wibawa yang tak perlu dijelaskan.


Tanpa banyak rencana,

sebuah kalimat meluncur begitu saja

lebih seperti bisikan hati daripada pengakuan.


Aku menyukainya,

tanpa pernah benar-benar tahu

bahwa dalam ketidaksadaranku,

ada doa-doa kecil yang diam-diam terucap.


Namun pagi berikutnya,

aku hanya belajar menahan rasa,

saat kenyataan memperlihatkan

bahwa hatinya telah lebih dulu berlabuh.


Tasikmalaya, 19 Desember 2025

Thursday, December 18, 2025

Ada banyak hal yang aku lewati dalam satu minggu kemarin. Dengan kondisi otakku yang sedang tidak baik-baik saja, ada kalanya aku ingin menyimpannya di kamar dan tidak membawanya ke mana-mana. Karena rasanya sakit, berat, dan sangat tidak nyaman untuk diajak hidup bersama.

Minggu lalu, aku akhirnya memutuskan untuk resign dari kegiatan mengajarku di sekolah formal. Aku sudah lelah. Aku butuh pagi yang tenang, tanpa debur langkah yang terburu-buru menuju sekolah, tanpa omelan, tanpa keluhan rekan kerja tentang siswa yang seolah tak pernah ada habisnya.

Beberapa rekan kerja menyayangkan keputusanku. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku tak lagi sanggup membohongi diri sendiri dengan terus berpura-pura terlihat baik-baik saja. Aku benar-benar lelah.

Lelah.

Terlalu banyak waktu yang selama ini aku habiskan hanya untuk bekerja. Terlalu banyak hal yang akhirnya terlewat. Tiga tahun di Bandung menjadi masa yang kini kusesali. Bukan karena tempatnya, tapi karena aku terlalu fokus dan memprioritaskan pekerjaan, sampai lupa memberi jeda dan istirahat untuk diriku sendiri.

Sepuluh tahun bekerja tanpa henti, sering kali mengabaikan alarm-alarm tubuh, akhirnya membawaku pada kondisi yang harus kuterima hari ini.

Baiklah, dengan berat hati aku akan mengatakannya.

Aku didiagnosis mengalami depressive episode dan saat ini sedang menjalani terapi obat.

Capek?

Jangan ditanya.

Aku juga lelah.

Lelah.

Lain kali, aku akan bercerita lagi.


Love,

Ihat

Wednesday, December 17, 2025

doc.pribadi

Identitas Buku

Judul: Loving the Wounded Soul
Penulis: Regis Machdy
Tahun Terbit: Cetakan enambelas, Mei 2024
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Depresi adalah penyakit yang sangat menganggu, bahkan dapat memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup bagi yang mengalaminya. Di tengah pergulatan orang dengan depresi, banyak stigma yang melabeli sehingga mereka kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. Regis, sebagai salah satu penyintas depresi dan akademisi psikologi, akan mengungkap apa itu depresi dan mengapa depresi rentan dialami manusia abad ini.

Buku Loving the Wounded Soul membahas depresi secara komprehensif, mulai dari aspek klinis dan budaya, faktor internal dan eksternal, serta higher meaning dari kehadiran depresi itu sendiri. Tak hanya menjadi pedoman bagi orang dengan depresi, buku ininjuga penting bagi pendamping dan siapa saja yang ingin memahami kompleksitas jiwa sekaligus menemukan sejati kehidupan. 

Tiga Insight Utama

1. Pikiran orang dengan depresi sangat kompleks dan dipenuhi narasi negatif. 
 Pikiran mereka seperti benang kusut, puzzle yang tak pernah lengkap, dan labirin yang tanpa jalan keluar. Mereka mengalami sedih yang tak berkesudahan, lalu pikiran mereka selalu mempertanyakannya. Setiap pengalaman dianalisis, setiap memori kami ingat sebagai luka, dan setiap kenangan kami anggap sebagai duka. Kami membungkus diri dalam kesedihan, memenjarakan pikiran kami sendiri dalam kegelapan. 
2. Pikiran bunuh diri bukanlah bentuk mencari perhatian. 
Siapapun yang memiliki pikiran bunuh diri, mereka bukan mencari perhatian atau sengaja menginginkannya. Orang dengan depresi yang memiliki pikiran bunuh diri pun tak pernah menginginkan kondisi tersebut. (p. 66-67)
3. Terapi bicara memegang peran penting dalam pemulihan depresi.
Terapi bicara dapat diutamakan dalam pemulihan depresi. Depresi harus dihadapi, maka kita yang mengalami depresi harus bisa keluar dari penjara pikiran yang kita buat sendiri. (p. 192)

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini membuatku semakin sadar bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang benar-benar normal lalu tiba-tiba ingin bunuh diri. Pikiran tersebut tidak muncul begitu saja.

Ini bukan semata soal kurang iman, kurang bersyukur, atau kurang kuat. Di baliknya, ada luka yang tidak terlihat, beban yang terlalu lama dipendam, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar mendapat ruang.

Mereka yang mengalami depresi sebenarnya hanya membutuhkan satu hal yang sangat manusiawi: ruang untuk dipahami. Didengarkan tanpa dihakimi. Diterima tanpa disudutkan. Buku ini mengajarkanku bahwa memanusiakan manusia adalah bentuk empati paling sederhana. Mengakui bahwa semua perasaan itu valid dan setiap peristiwa tidak bisa kita pukul rata kadarnya.

Setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing dalam menghadapi masalah. Dan memahami hal itu, barangkali, adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan seseorang atau bahkan diri kita sendiri.

Penutup

Buku ini tidak memberian aku jawaban instan tentang bagaimana caranya sembuh. Tetapi buku ini memberikan aku sesuatu yang jauh lebih penting: pengertian. Tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang luka yang sering kali tidak terlihat.

Aku belajar bahwa depresi bukanlah kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada bagian jiwa yang terlalu lama diabaikan. Dan mencintai jiwa yang terluka bukan berarti memaksa diri untuk segera baik-baik saja, melainkan berani berhenti sejenak, mengakui lelah, lalu perlahan mencari pertolongan.

Semoga setelah membaca buku ini, kita bisa lebih lembut pada orang lain, dan terutama pada diri sendiri. Karena barangkali, itulah langkah awal dari proses penyembuhan yang sesungguhnya.

Kamu tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.


Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi