Saturday, February 21, 2026
Topeng apa yang sering kupakai di depan manusia?
Pura-pura baik-baik saja. Pura-pura aku bisa. Pura-pura aku kuat. Pura-pura aku bisa sendiri. Padahal semuanya palsu. Semuanya hanya topeng belaka.
Di balik semua itu, aku lemah. Aku tak mampu mengerjakan seorang diri. Aku butuh teman. Aku butuh orang yang bisa membantuku, mendukung aku. Aku butuh kehadiran yang mengingatkan bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi kerasnya hidup.
Yang paling menyakitkan adalah kadang saat mengerjakan sesuatu, aku selalu ingin menampilkan yang terbaik. Memberikan yang terbaik agar aku dianggap mampu. Agar aku dianggap capable oleh manusia. Agar aku tak direndahkan. Padahal semuanya terjadi karena atas izin-Nya. Tanpa kehendak dan pertolongan dari Allah, aku tak akan mampu melakukan apa pun.
Kamu tahu? Saat aku haus akan pujian, tepuk tangan orang, dan ingin membuktikan bahwa aku mampu, di saat itu juga justru kegagalan yang menimpa aku. Sampai kemudian aku diingatkan bahwa berhasil atau tidak itu sudah bukan lagi tanggung jawabku. Sudah bukan dalam kendaliku lagi untuk bisa mewujudkannya sesuai dengan apa yang aku mau.
Aku lupa. Bahwa segala sesuatu itu sudah diatur. Sudah ada kadarnya. Aku tak bisa merubahnya sesuaid dengan keinginanku. Saat aku begitu serakah dengan semua itu, yang ada justru aku malah menyakiti diriku sendiri. Menyalahkan segala kemampuanku, usahaku. Menganggap bahwa aku tak layak, aku tak mampu, aku tak becus, hanya karena satu kegagalan yang menimpaku. Padahal jika aku mengembalikan semua itu kepada Rabbku, aku tak akan pernah menyakiti diriku sendiri dan percaya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik, hasil terbaik yang diberikan Allah untuk aku. Seandainya aja dulu aku punya keyakinan ini. Aku tak perlu menunggu sampai jatuh sakit secara mental seperti sekarang.
Kini, aku perlahan melepas topengku.
Saat ada orang yang bertanya kabarku dan saat kabarku sedang tidak baik-baik aja, aku akan jujur untuk bilang kalau aku sedang tidak baik-baik aja. Jika ada sesuatu hal yang tidak aku mengerti, kini aku tak lagi sungkan untuk bertanya meski dia usianya lebih muda dari aku.
Jika aku gagal pada hari itu, aku tak lagi menyalahkan diriku sendiri. Aku tak lagi menilai diriku dari kegagalan yang aku terima. Kini aku berprinsip bahwa gagal dan berhasil itu akan selalu datang mengiringi. Tak akan selamanya gagal dan tak akan selamanya berhasil.
Dan satu lagi, aku tak punya kendali atas hidupku seutuhnya. Aku punya Allah dan Dia yang sudah mengatur segalanya untukku. Aku yakin apa yang telah Dia gariskan untukku adalah yang terbaik untuk urusan dunia dan akhiratku.
Aku bisa bepikir seperti ini setelah mengalami masa-masa gelap dalam hidupku. Mungkin inilah cara Allah membuka mataku. Mungkin inilah yang dibutuhkan agar aku bisa bernapas lega.
Kini aku belajar untuk tidak peduli terhadap obrolan orang lain. Karena yang menjalani hidup adalah aku, bukan kamu ataupun mereka. Belajar lagi untuk tidak peduli pada pencapaian orang lain, fokus pada dirimu sendiri dan yakini bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tak ada gunanya membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Karena jalan kita semua berbeda.
Aku tak mau lagi berbuat sesuatu karena validasi orang lain. Aku hanya mau melakukan sesuatu atas validasi diriku sendiri dan tentunya rida Tuhanku. Karena mengejar validasi mereka yang fana justru perlahan membunuhku dan tanpa sadar aku kehilangan diriku sendiri: aku selalu ingin menyenangkan mereka tanpa mau mendengar apa yang diri sendiri inginkan. Tanpa membuat diriku sendiri senang.
Akhirnya, peralahan aku memilih untuk berjalan kembali kepada diriku sendiri.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah 263)
Thursday, February 19, 2026
Apa yang membuat hatiku lelah akhir-akhir ini?
Mungkin inilah pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi jiwaku saat ini. Hati yang lelah, bukan karena tubuh yang capek, melainkan karena terlalu lama membawa beban yang tidak seharusnya ditanggung: ekspektasi.
Ekspektasi tentang hidup dan harapan terhadap manusia yang pada akhirnya selalu membuat kecewa. Aku tahu, aku udah jahat banget sama diri aku sendiri dengan menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Menyalahkan diri saat kegagalan menghampiri dan lupa bahwa sesungguhnya segala sesuatu sudah ada yang mengatur, Allah SWT.
Lantas mengapa aku terus menguras seluruh tenagaku untuk urusan dunia ini? Bukankah sudah ada Allah yang mengatur? Mengapa aku tidak berusaha semampu yang aku bisa, berdoa, lalu bertawakal? Meletakkan sisanya kepada Allah?
Orang tuaku sendiri bahkan tidak pernah membebaniku soal pekerjaan harus berpenghasilan tertentu, atau harus menjadi ini-itu. Mereka mendukung aku untuk menjadi guru, bermanfaat bagi sesama. Hanya saja, mereka mengingatkan aku bahwa aku juga harus memikirkan diriku sendiri. Jangan terus menerus mengajar tanpa cukup untuk hidup. Karena untuk saat ini ya harus realistis saja. Hidup butuh makan, dan makan butuh uang, bukan pahala.
Maka, satu persatu yang memang tidak masuk akal dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupku, aku tinggalkan. Apalagi jalannya ribet dan aturannya sering berubah. Aku memilih mengerjakan yang pasti-pasti saja, yang penghasilannya mencukupi.
Di tahun ini, untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun aku bekerja, adalah tahun tersantai. Aku hanya bekerja dari jam satu siang sampai jam delapan malam. Aku tidak perlu lagi ribut-ribut di pagi hari karena harus masuk di jam tujuh pagi. Meski begitu, entah kenapa rasanya aneh saja. Mungkin aku belum terbiasa dengan ritme santai ini.
Beberapa lamaran sudah aku kirimkan untuk mengisi waktu pagiku, tapi tidak ada panggilan. Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu dari seluruh ambisiku yang tidak pernah ada habisnya. Lebih banyak mendengarkan diri sendiri dan lebih sering berdialog dengan Allah.
Satu pesan Mamah.
"Jangan sering lihat-lihat ke kehidupan orang yang ada di atas kamu. Karena itu bikin kamu sakit dan terus menerus gak bersyukur sama nikmat yang udah Allah kasih."
Aku terdiam. Aku tahu itu. Dan aku sedang berproses untuk menerima kondisiku, kehidupanku saat ini. Meski ujung-ujungnya, aku dibuat kesal juga sama Mamah karena Mamah bilang aku dinasehatin gitu gak ada hasilnya. Kayak masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Ya, aku gak terima dong digituin. Aku bilang, gak serta merta kita bisa menerima plek-ketiplek soal hidup kita. Itu butuh waktu, butuh proses. Dan aku pun gak perlu cerita soal proses penerimaan atas hidupku ke Mamah ataupun ke orang lain, bukan? Mereka gak akan pernah tahu dan faham soal pergolakan batin apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikiran kita.
Aku cuma ingat kata psikolog sekolah aku dulu,
"Jalan menuju penyucian jiwa itu tidak mudah, tapi ingat balasannya adalah surga."
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr 27-30)
Maka di bulan Ramadan ini aku terus menerus berdoa agar dilembutkan hatiku untuk menerima kondisi dan kehidupanku saat ini. Rida atas apa yang telah ditetapkannya untukku dan aku pun rida untuk terus beramal melakukan kebaikan karena-Nya, bukan lagi karena urusan dunia.
Ya Rahman, Your throne you wrote mercy upon yourself. You were merciful before there was anyone to receive mercy. Embrace every part of me with that mercy, my past with its scars, my present with its needs, my future with its uncertainty. Ya Rahim, let me taste the mercy you keep for those who return. Reward me with the mercy I have yet to know and raise me to the highest place in Paradise despite my lows. Ya Ra'uf, cover me from storms I don't see coming. mend me before I break. Spare me from trials of every kind. Let your mercy reach me in ways I'll only understand when I finally meet You. (How Merciful is the Most Merciful? Allah's Names Ep. 1. Dr. Omar Suleiman)
Wednesday, February 18, 2026
![]() |
| doc. pribadi |
Siapa diriku saat ini adalah...
Aku adalah orang yang sangat mudah lelah.
Sensitif.
Sulit tidur.
Dan terakhir aku didiagnosis depressive episode berat oleh psikiater.
Diriku saat ini adalah orang yang sulit untuk bisa menerima kenyataan tentang dirinya sendiri.
Seseorang yang masih memandang bahwa angka-angka adalah simbol dari kesuksesan.
Seseorang yang diam-diam masih mengukur harga diri dari pencapaian.
Hingga tanpa sadar melupakan bahwa akhirat adalah tujuan akhir dari semua perjalanan ini.
Kemudian ayat ini kembali mengingatkanku,
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18)
Astaghfiurllah.
Jadi selama ini apa yang membuat hatimu risau, hat?
Apa yang membuat pikiranmu berkecamuk hingga sulit untuk bisa memejamkan mata di malam hari?
Apakah karena pencapaian-pencapaian seusiamu yang ditampilkan di layar ponsel?
Apakah karena kamu merasa tertinggal?
Jika iya, mengapa mimpimu menjadi begitu pendek?
Mengapa ia hanya sebatas kebahagian dunia yang sesaat, dan bukan akhirat yang kekal?
Aku tahu, kamu marah dengan kondisimu saat ini. Karena secara tidak langsung kondisimu saat ini mengubah banyak hal dalam dirimu.
Kamu jadi mudah lelah.
Sulit berkonsentrasi.
Lebih sensitif.
Dan sering memandang segala sesuatu dari sisi yang paling gelap.
Kamu marah karena kamu tak bisa lagi berlari sekencang dulu.
Kamu merasa tertahan.
Merasa tertinggal.
Tapi coba tengok lagi, apa yang sudah kamu lakukan pada dirimu hingga tubuh dan jiwamu berakhir seperti ini?
Bukankah selama ini kamu terlalu keras?
Terlalu memaksa?
Terlalu mendengar ego dan ambisi, tapi jarang benar-benar mendengar isi hati?
Jangan-jangan ini bukan hukuman.
Jangan-jangan ini adalah panggilan.
Panggilan untuk memperbaiki niat, arah, dan juga untuk mendengar diri kamu sendiri lebih jernih lagi. Bukan egomu, bukan nafsumu. Tapi hatimu yang paling dalam.
Aku tahu, ini tak mudah bagi aku. Bagi orang yang kompetitif seperti aku. Yang terbiasa bergerak cepat, yang terbiasa mengukur diri dari pencapaian. Kini harus terbiasa belajar untuk menerima bahwa yang namanya hidup ada fasenya, ada masanya, ada waktunya.
Ada masanya berlari.
Ada masanya berhenti.
Ada masanya diuji agar kembali diluruskan.
Mungkin dengan ujian ini, Allah ingin mengingatkan aku bahwa aku hidup bukan hanya untuk mengejar angka-angka yang tidak pernah ada habisnya, bukan untuk memuaskan ego yang tak pernah bisa benar-benar kenyang.
Tapi Allah ingin agar aku hidup membawa makna dan manfaat sehingga bisa menyelamatkan aku di akhirat nanti. Dengan niat yang tulus, bukan karena urusan dunia lagi.
Ya Allah, bantu aku melewati fase ini. Bantu aku untuk melawan ego serta hawa nafsuku sendiri. Ingatkan aku selalu bahwa pencapaian dunia tak ada artinya jika hatiku tak pernah ditautkan kepada-Mu atau jika tujuanku hanya ingin membuat egoku puas. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri di tengah gemerlap dunia yang menipu ini, jauhkan aku dari pencapaian-pencapaian dunia yang bisa membuatku jauh dari Mu.
Dan jika fase ini adalah cara-Mu untuk menyelamatkanku, maka kuatkan aku untuk menjalaninya dengan sabar.
Karena mungkin, di Ramadan tahun ini yang perlu aku perbaiki bukan daftar targetku, tetapi hatiku.
Monday, February 16, 2026
![]() |
| doc.pribadi |
Ramadan sering kita sebut sebagai bulan kembali. Kembali kepada Al-Qur'an, kembali kepada masjid, kembali kepada doa.
Namun, pernahkah kita benar-benar kembali kepada diri sendiri?
Sering kali kita berpuasa dari makan dan minum, tetapi tidak pernah berpuasa dari luka lama, dari dendam, dari rasa tidak cukup yang terus menggerogoti hati. Kita sibuk memperbaiki amal, tetapi lupa memeriksa hati.
Tahun ini, aku tidak ingin hanya menjalani Ramadan sebagai rutinitas ibadah. Aku ingin menjadikannya perjalanan. Perjalan untuk mengenal siapa diriku sebenarnya di hadapan Allah. Perjalanan untuk berdamai dengan luka yang belum selesai. Perjalanan untuk menemukan kembali makna hidup yang mungkin sempat hilang di tengah lelahnya dunia.
Melalui seri #RamadanJournaling ini dengan tema Self Discovery, aku ingin menuliskan percakapan-percakapan sunyi antara aku dan Penciptaku. Tentang dosa yang masih membuatku takut. Tentang doa yang belum terjawab. Tentang harapan yang diam-diam masih kupeluk.
Ada lelah yang belum selesai
Ada luka yang belum sembuh
Ada doa yang masih menggantung di langit.
Aku sadar, mungkin selama ini aku lebih sibuk memperbaiki penampilanku di hadapan manusia daripada memperbaiki hatiku di hadapan-Mu.
Maka di bulan ini, izinkan aku belajar kembali. Belajar mengenal diriku sebagaimana Engkau mengenalkanku. Belajar menerima takdir yang tak selalu sesuai harapan. Belajar mencitai-Mu bukan hanya karena takut, tapi karena rindu.
Semoga tulisan ini bukan hanya menjadi catatam perjalan pribadiku, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi siapapun yang sedang mencari cahaya di bulan penuh ampunan ini.
![]() |
| doc.pribadi |
Identitas Buku
Judul: Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah
Penulis: Alfialghazi
Tahun Terbit: Cetakan kesebelas, 2022
Penerbit: Penerbit Sahima (Kelompok Penerbit PT Magenta Media), Depok, Jawa Barat
Blurb
Tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu. Pada satu waktu, impianmu akan dipukul mundur, harapanmu terpatahkan, dan langkahmu dihentikan paksa.
Dunia yang luas terasa begitu menyesakkan. Ramai, tapi sepi.
Ingin terus melangkah, takut terjatuh. Ingin putar balik, sudah tak mungkin tertempuh. Ingin menyerah, tetap saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Setiap pilihan nyaris tak mampu kamu tanggun konsekuensianya.
"Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah" akan menemanimu, untuk terus melangkah maju, menerabas segala keterbatasan, menikmati segala kekecewaan, melewati dunia yang penuh dengan kefanaan, menuju satu tempat bernama keabadian.
Untukmu, jiwa-jiwa kecil yang sedang mendamba bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya. Selamat menikmati!
Tiga Insight Utama:
1. Padahal, itu semua tak akan pernah menemui kata selesai, angka-angka tak akan pernah memuaskanmu, karena yang sedang kamu beri makan adalah nafsu, ia tak punya rasa kenyang. Sayangnya, kamu meletakkan kebahagiaan pada hal-hal semacam itu, pada deretan angka yang menipu. (p. 21)
2. Apabila pada masanya nanti kita menemu situasi-situasi sulit, bahkan sangat rumit untuk diselesaikan, ingatlah selalu bahwa langkah kita harus terus berlanjut, sebesar apa pun halangannya dan sesakit apa pun kenyataannya.
Walaupun kebahagiaan terasa begitu jauh, kita tetap tak boleh kehilangan harapan karena sejatinya kebahagiaan ataupun kesulitan keduanya sama. Keduanya adalah jalan juang yang harus dilewati. Pada kebahagiaan, kita tak boleh lali, sedangkan pada kesulitan, kita tak boleh menyerah. (p. 68)
3. Memang benar, mencari pekerjaan yang baik memang tidaklah salah. Namun, jika itu membuat seseorang menjadikan dunia sebagai poros kehidupan dan harta sebagai tanda keberhasilan maka tentu hal tersebut adalah keliru.
Kaya belum tentu menemui kebahagiaan dan miskin belum tentu menemui kesengsaraan. Inilah kenyataan yang kira sering alpa untuk memahaminya. (p. 242)
Refleksi Pribadi
Buku ini adalah buku milik teman yang aku pinjam. Aku tidak pernah menyangka bahwa buku ini akan banyak menamparku dan membuatku menangis. Aku sadar selama ini aku terlalu menjadikan angka-angka itu sebagai bentuk keberhasilan padahal ketika aku sudah merasakannya nyatanya hati aku tidak pernah tenang dan nyaris sering membuatku stress tak karuan. Angka-angka kecil yang kini aku terima entah mengapa rasanya jauh menenangkan dan membuatku tak pernah takut merasa kehilangan. Dengan waktu yang aku korbankan untuk berbagi melalui program mengajar gratis, hatiku merasa tenang dan diriku merasa utuh kembali. Kini aku sedang belajar kembali menata niat, diri, dan hati. Akan bawa ke mana hidupku ini?
Meski tak bisa dipungkiri, melihat teman-teman se usiaku banyak yang sudah mapan secara angka dan mudah pergi bolak-balik ke luar negeri membuatku kadang merasa iri, tapi ini aku selalu berusaha untuk menyadarkan dan menenangkan diri. Kalau kamu dikasih kesempatan itu sama Allah, apa niat kamu? Mau pamer sama orang-orang bahwa kamu itu mampu dan hebat? Sementara yang memampukan dan menghebatkan itu semua adalah atas izin Allah?
Aku kembali lagi merenung. Kenapa hanya poros dunia yang dijadikan standar keberhasilannya bukan standar akhirat? Apakah ini yang memicu stress dan merasa bahwa diri ini tidak layak?
Buku ini sangat membantu kamu yang sedang kehilangan arah, hampir dan bahkan ingin menyerah. Kita akan disadarkan kembali melalui buku ini, bahwa dunia adalah sementara dan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.
Kamu tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.
.png)


Social Media
Search