It isn't easy. But I have to let my dream go.
Being a teacher at school has been my dream since I was a kid. I love teaching, sharing everything with the students, guiding them in a good way, and everything about school. Ada banyak hal yang aku cintai dari menjadi seorang guru. Rasanya menyenangkan ketika bisa berbagi ilmu, membantu siswa berkembang, dan menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk menjadi manusia yang lebih baik.
But then, the big problem came to me.
Ketika aku diterima di sekolah bonafide, aku memaksakan diri untuk menjadi guru yang baik dan tidak pernah membiarkan diriku menjadi seorang pemula. Aku selalu merasa harus bisa melakukan semuanya dengan baik, seolah-olah aku tidak punya ruang untuk belajar, melakukan kesalahan, atau sekadar menjadi manusia yang masih berproses.
Belum lagi, aku punya pengalaman buruk ketika ada orang tua yang ngotot bahwa anaknya tidak bersalah, bahkan sampai ingin membawa masalah tersebut ke persidangan. Padahal, masalah itu sebenarnya sudah selesai ketika diselesaikan di antara anak-anak yang terlibat. Namun, ego orang tuanya terlalu besar. Alhamdulillah, pada akhirnya masalah tersebut berakhir dengan perdamaian, tetapi seluruh prosesnya harus diurus selama setahun penuh.
I still remember how afraid I was whenever I came to school. Belum lagi ketika ada orang tua yang meneriakkan namaku di tengah-tengah kegiatan upacara bendera berlangsung. I was so afraid.
Aku masih ingat bagaimana rasanya datang ke sekolah dengan perasaan takut, khawatir akan ada masalah baru yang harus kuhadapi. Sekolah yang seharusnya menjadi tempatku bertumbuh dan mengembangkan diri justru menjadi tempat yang membuatku merasa tidak aman. Pengalaman itu meninggalkan luka yang ternyata tidak mudah untuk disembuhkan.
Sampai setahun kemudian, aku memutuskan untuk resign. Aku sudah merasa lelah secara mental. Aku tidak bisa terus-menerus memaksakan diri untuk bertahan ketika kondisiku sendiri semakin memburuk.
Begitu pulang ke kampung halaman, aku didiagnosis mengalami depresi berat dengan gejala psikotik. Saat mendapatkan diagnosis tersebut, aku sedang mengajar di salah satu sekolah dasar negeri. Aku buru-buru menyelesaikan semua administrasi sekolah dan langsung pamit dari sekolah. Aku tidak bisa fokus jika harus menjalani dua kegiatan sekaligus, apalagi saat itu aku sudah mendapatkan pekerjaan di tempat kursus pada sore harinya. Pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang lumayan untuk membantu membiayai pengobatanku.
Tak lama kemudian, pada tahun ajaran baru kemarin, aku mencoba apply lagi ke sekolah. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kali ini aku bisa melangkah maju dan keluar dari bayang-bayang sekolah lamaku. Aku pikir, mungkin dengan mencoba lagi, aku bisa membuktikan bahwa aku sudah baik-baik saja dan mampu kembali menjalani kehidupan sebagai seorang guru di sekolah.
Namun, ternyata tidak sesederhana itu.
Karena akar permasalahannya berkaitan dengan inner child wounds, tanpa kusadari aku masih bekerja dengan pola yang sama seperti ketika aku masih kecil. Aku terus memaksakan diri, menuntut diriku untuk selalu bisa melakukan semuanya dengan baik, dan merasa harus bertahan meskipun sebenarnya aku sudah kelelahan. Aku seperti sedang mengulangi pola lama yang selama ini justru perlu aku pulihkan.
Sampai kemudian aku mengalami menstruasi yang terus-menerus, dan pada akhirnya aku mendapatkan diagnosis terbaru: depresi berat dengan kecenderungan pada spektrum bipolar. Kondisiku terasa semakin kompleks. Ya Allah.
Jujur, trauma itu masih terus membayangiku. Aku belum sanggup untuk menghadapinya, apalagi memaksakan diri untuk melawannya ketika kondisiku sendiri masih membutuhkan perhatian dan penanganan. Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti total dari kegiatan mengajar di sekolah dan memilih untuk fokus mengajar di tempat kursus, yang kegiatannya lebih terstruktur, lebih santai, dan minim distraksi dari berbagai tanggung jawab lainnya.
Menurut dua psikolog yang aku kunjungi, selama menjalani pengobatan, aku mau tidak mau harus fokus pada satu kegiatan terlebih dahulu. Aku perlu memberikan ruang bagi diriku sendiri untuk memulihkan kondisi, tanpa terus-menerus membebani diri dengan banyak tanggung jawab sekaligus.
Mungkin dari luar aku terlihat biasa saja, layaknya orang lain pada umumnya. Aku masih bisa mengajar, menulis, beraktivitas, dan melakukan banyak hal. But honestly, inside, I'm struggling so hard to stay focused, active, and mentally stable.
Ada banyak hal yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada usaha yang harus kulakukan hanya untuk bisa menjalani hari seperti biasa. Ada kelelahan yang tidak selalu bisa kujelaskan, dan ada perjuangan yang mungkin tidak akan dipahami oleh orang-orang yang hanya melihatku dari luar.
And after evaluating everything, I think school is no longer the right place for me, at least for now.
Di sekolah, kamu harus mengerjakan banyak hal, bukan hanya mengajar. Ada administrasi, persiapan pembelajaran, berbagai kegiatan, tuntutan pekerjaan, dan tanggung jawab lain yang terkadang datang bersamaan. Semua itu mungkin bisa dijalani oleh sebagian orang, tetapi untukku saat ini, semuanya terasa sangat berlawanan dengan apa yang justru disarankan oleh psikologku sendiri.
Aku perlu belajar mengenali batasanku. Aku perlu memahami bahwa tidak semua hal harus aku kerjakan sekaligus, dan tidak semua kesempatan harus aku ambil hanya karena aku mampu melakukannya.
I know there'll always be things beyond my control. But if I can feel useful and build meaningful human connections, that's enough. I want to work and still feel like a human.
Aku tetap ingin bekerja. Aku tetap ingin produktif, berbagi ilmu, mengembangkan diri, dan melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Aku tidak ingin kehilangan semua hal yang aku cintai hanya karena sedang berjuang dengan kondisi kesehatan mentalku. Namun, aku juga tidak ingin terus-menerus mengorbankan diriku sendiri hanya untuk membuktikan bahwa aku mampu melakukan semuanya.
Aku sudah tidak ingin mengerjakan terlalu banyak hal sekaligus karena aku tahu betapa mudahnya hal itu memicu luka lamaku. Aku tidak ingin kembali terjebak dalam pola yang sama, ketika aku terus memaksakan diri sampai akhirnya kehilangan kemampuan untuk menikmati apa yang sedang aku kerjakan.
Aku ingin bekerja dengan lebih tenang. Aku ingin bisa mengajar tanpa terus-menerus merasa tertekan. Aku ingin punya waktu untuk beristirahat, menjalani pengobatan, menulis, dan melakukan hal-hal sederhana yang membuatku merasa hidup. Aku ingin bisa menjalani hari tanpa merasa bahwa aku harus selalu produktif untuk membuktikan bahwa diriku berharga.
Aku juga tidak terlalu peduli lagi dengan omongan orang lain yang mengatakan bahwa sayang sekali aku sudah mengikuti PPG, sudah memiliki sertifikat, dan sudah berusaha sejauh ini untuk menjadi guru profesional.
I know how much effort I have put into achieving that dream. Aku tahu betapa panjang perjalanan yang sudah kulewati untuk sampai di titik ini. Aku juga tahu bahwa keputusan ini bukan sesuatu yang kuambil dengan mudah.
Namun, semua pencapaian itu tidak seharusnya menjadi alasan bagiku untuk terus bertahan dalam kondisi yang membuatku semakin kesulitan untuk pulih. Aku boleh bangga dengan apa yang sudah kucapai, sekaligus mengakui bahwa untuk saat ini aku perlu mengambil jalan yang berbeda.
Aku memilih diriku sendiri. Aku memilih untuk memberikan kesempatan kepada diriku agar bisa sembuh, menjalani pengobatan dengan lebih baik, dan tetap waras di tengah semua hal yang sedang kuhadapi.
Perhaps, letting go doesn't always mean that we have failed. Sometimes, it means that we finally understand what we need, even when it is different from what we have always dreamed of.
Aku belum tahu apakah suatu hari nanti aku akan kembali mengajar di sekolah. Untuk sekarang, aku tidak ingin memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu. Aku hanya ingin menjalani apa yang ada di hadapanku, satu hari demi satu hari, sambil memberikan kesempatan kepada diriku untuk pulih.
Aku masih seorang guru. Aku masih mencintai dunia pendidikan. Aku masih bisa berbagi ilmu, membimbing siswa, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain. Hanya saja, mungkin untuk saat ini, aku perlu melakukannya dengan cara yang berbeda.
And that's okay.
Aku tidak harus kehilangan diriku sendiri demi mempertahankan sebuah impian. Aku tidak harus terus membuktikan bahwa aku kuat dengan bertahan di tempat yang belum sanggup kuhadapi. Aku juga tidak harus mengikuti jalan yang sama hanya karena aku sudah berjalan sejauh ini.
For now, I choose myself. I choose my healing. And I choose to build a life where I can work, grow, and still feel like a human being.
Karena pada akhirnya, aku tidak hanya ingin menjadi seseorang yang berhasil mencapai impiannya. Aku juga ingin menjadi seseorang yang bisa menikmati hidupnya, merasa cukup aman dengan dirinya sendiri, dan menjalani hari-harinya tanpa harus terus-menerus berperang dengan dirinya sendiri.
0 Comments