Refleksi Catatan 112 : Finding Peace in Nature

Wow, selamat malam dan selamat kembali bekerja di esok hari! Well, ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan tentang minggu ini. Ada banyak hal yang aku syukuri, bahkan di tengah minggu yang rasanya cukup berat untuk aku jalani.

Pertama, Alhamdulillah, aku bersyukur karena akhirnya bisa mendaki gunung. Minggu ini aku pergi ke Gunung Galunggung, dan honestly, aku excited banget. Awalnya aku nggak menyangka kalau pergi ke alam ternyata bisa bikin aku merasa lebih rileks dan membantu melepaskan emosi yang selama ini aku rasakan. Padahal dulu udah pernah ke sini, tapi kali ini rasanya beda banget!

Sebenernya, minggu ini termasuk minggu yang cukup berat buat aku karena aku merasa seperti kembali memasuki fase depresi yang pernah aku alami sebelumnya.

Sebelumnya, aku merasa begitu energik, semangat, dan punya banyak sekali ide. Rasanya ide-ide itu nggak pernah berhenti bermunculan. Dalam satu hari, aku bisa mengerjakan beberapa tulisan sekaligus, menghubungi beberapa orang untuk project yang sedang aku bangun, dan memikirkan banyak hal yang ingin aku lakukan. Rasanya selalu ada sesuatu yang ingin aku kerjakan.

Namun, minggu ini semuanya terasa berbeda. Aku mulai merasa kelelahan dengan semua itu. Aku hanya mampu menghubungi satu atau dua orang, dan aku juga nggak terlalu banyak menulis. Rasanya seperti energi yang sebelumnya begitu besar tiba-tiba menghilang. Bahkan, ketika bangun tidur, aku masih merasa lelah dan nggak segar. Rasanya berat sekali untuk memulai hari, apalagi mengerjakan sesuatu.

Aku rasa, salah satu hal yang paling melelahkan adalah peralihannya. Peralihan dari kondisi ketika aku begitu bersemangat, punya banyak ide, dan ingin melakukan banyak hal, kemudian tiba-tiba merasa kehabisan energi. Rasanya membingungkan ketika sebelumnya aku bisa melakukan banyak hal, tetapi sekarang untuk memulai aktivitas sederhana saja terasa begitu berat.

Aku masih belajar memahami perubahan yang terjadi pada diriku sendiri. Aku juga sedang belajar menerima bahwa kondisiku nggak selalu sama setiap harinya. Ada kalanya aku merasa punya banyak energi, tetapi ada kalanya aku perlu memperlambat langkah dan memberikan waktu bagi diriku untuk beristirahat.

Di tengah kondisi tersebut, ada satu hal yang aku syukuri. Belakangan ini, aku mencoba menjalani hidup dengan lebih slow melalui konsep slow living. Aku juga berusaha lebih fokus pada pekerjaan dan nggak terlalu banyak mengambil tanggung jawab sekaligus. Ternyata, ketika aku mulai memperlambat langkah, aku justru merasa lebih mampu menata diriku sendiri, terutama dalam mengelola suasana hati di pagi hari.

Walaupun sampai sekarang aku masih kesulitan bangun pagi, aku mulai mencoba melakukan beberapa hal sederhana untuk membantu diriku memulai hari.

Sering kali, setelah salat Subuh, aku tidur lagi, bahkan terkadang sampai tengah hari. Rasanya berat sekali untuk bangun, dan meskipun sudah tidur cukup lama, tubuhku tetap terasa lelah. Namun, beberapa kali aku mencoba memaksakan diri untuk keluar rumah dan berenang. Ternyata, aktivitas tersebut cukup membantu membuatku merasa sedikit lebih segar dan lebih fokus ketika mengajar.

Aku juga menemukan satu hal sederhana yang belakangan ini cukup membantu. Ketika pagi hari terasa begitu berat untuk dimulai, aku mencoba berwudu dan mandi. Entah kenapa, setelah mandi, aku merasa lebih segar dan rasa kantukku sedikit berkurang. Ditambah lagi, ketika aku keluar rumah, menghirup udara pagi, dan mendapatkan paparan sinar matahari, rasanya ada sedikit energi baru yang aku dapatkan.

Aku memang nggak tahu apakah hal yang sama akan dirasakan oleh orang lain. Namun, berdasarkan pengalamanku sendiri, hal-hal sederhana seperti ini cukup membantu ketika aku sedang merasa kesulitan memulai hari.

Dari situ, aku belajar bahwa merawat diri nggak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Terkadang, kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana, seperti mandi, keluar rumah sebentar, menghirup udara segar, atau menikmati sinar matahari pagi. Hal-hal tersebut mungkin nggak serta-merta menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi, tetapi setidaknya kita sedang berusaha memberikan perhatian kepada diri sendiri.

Buat teman-teman Muslim yang sedang mengalami fase depresi dan merasa kesulitan memulai hari, mungkin berwudu dan mandi pagi bisa menjadi salah satu hal sederhana yang dicoba jika kondisi tubuh memungkinkan. Kita juga bisa mencoba keluar rumah untuk mendapatkan udara segar dan sinar matahari. Namun, tentu saja, setiap orang punya pengalaman dan kebutuhan yang berbeda. Hal-hal ini bukan pengganti pengobatan atau bantuan profesional, melainkan bisa menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk merawat diri.

Anyway, back to my story.

Rencana hiking ke Gunung Galunggung sebenarnya cukup mendadak. Awalnya, rencana ini hanya sebatas ide, tetapi ternyata benar-benar terlaksana.

Honestly, malam sebelum keberangkatan, aku malas banget. Aku terus berpikir, Duh, harus bangun pagi, harus siap-siap, harus melakukan ini dan itu. Rasanya berat sekali membayangkan harus bangun pagi dan melakukan perjalanan ketika kondisi tubuhku sedang nggak terlalu baik.

Namun, kemudian aku berpikir bahwa teman-temanku sudah menyiapkan semuanya. Aku juga ingin menghargai usaha mereka. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba berangkat dan melihat bagaimana kondisiku nanti.

Aku bangun lebih pagi, salat, mandi, lalu bersiap-siap. Saat itu, aku nggak tahu perjalanan ini akan seperti apa. Aku hanya mencoba menjalani satu langkah demi satu langkah.

And honestly, I'm glad I went.

Sesampainya di kaki gunung, aku langsung berteriak karena merasa begitu excited. Rasanya seperti ada sesuatu yang akhirnya bisa aku lepaskan. Aku nggak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi saat itu aku merasa lebih segar, lebih lega, dan lebih hidup.

Selama perjalanan mendaki, tentu saja aku merasa lelah. Ada beberapa momen ketika tubuhku terasa berat dan perjalanan terasa cukup sulit. Namun, aku terus berpikir bahwa semua usaha ini akan terbayar ketika aku sampai di atas.

Aku berkata kepada diriku sendiri, This will pay off. Just imagine how beautiful the view will be when you finally reach the top.

Dan ternyata, benar.

Ketika sampai di puncak dan melihat kawah Gunung Galunggung, aku merasa senang sekali. Ada perasaan bangga karena aku berhasil melakukan sesuatu yang malam sebelumnya hampir saja aku batalkan.

Pengalaman ini membuatku menyadari bahwa terkadang kita nggak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaan kita ketika mencoba sesuatu yang baru. Ada kalanya kita merasa berat sebelum memulai, tetapi setelah menjalaninya, ternyata ada pengalaman berharga yang bisa kita dapatkan.

Tentu saja, bukan berarti kita harus selalu memaksakan diri ketika tubuh sedang lelah. Aku juga perlu belajar mendengarkan tubuhku dan memahami batas kemampuanku sendiri. Namun, selama kondisiku memungkinkan, mungkin sesekali aku perlu memberikan kesempatan kepada diriku untuk mencoba hal-hal baru yang bisa membawa pengalaman baik dalam hidupku.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika perjalanan pulang. Aku melihat sebuah pohon, kemudian memutuskan untuk memeluknya.

Entah kenapa, rasanya tenang sekali.

Aku hanya memeluk pohon itu dan menikmati momen tersebut. Nggak ada sesuatu yang harus aku selesaikan, nggak ada tulisan yang harus aku kerjakan, dan nggak ada orang yang harus aku hubungi. Aku hanya berada di sana, menikmati apa yang ada di sekitarku.

Ketika sampai di rumah, aku merasa tubuhku lebih ringan. Rasanya seperti beban besar yang selama ini ada di dalam diriku perlahan-lahan berubah menjadi bongkahan kecil yang terasa lebih mudah untuk aku bawa.

Aku nggak tahu persis kenapa bisa merasa seperti itu. Aku juga nggak bisa mengatakan bahwa semua perasaan negatifku benar-benar hilang. Namun, yang jelas, setelah perjalanan itu, aku merasa lebih rileks dan lebih lega.

Mungkin, selama ini aku terlalu sering menghabiskan waktu dengan pikiranku sendiri. Memikirkan banyak hal, merencanakan berbagai project, menulis, menghubungi orang-orang, dan memikirkan apa lagi yang harus aku lakukan berikutnya. Tanpa sadar, aku mungkin lupa memberikan ruang bagi diriku untuk berhenti sejenak dan menikmati kehidupan yang sedang aku jalani.

Saat berada di alam, aku seperti mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal itu.

Aku bisa menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan produktivitas. Aku bisa melihat pemandangan tanpa harus memikirkan apa yang harus aku capai selanjutnya. Aku bisa merasakan udara segar dan menikmati momen yang sedang berlangsung tanpa terburu-buru memikirkan hal lain.

Dan ternyata, rasanya menyenangkan sekali.

Pengalaman ini juga membuatku menyadari bahwa sepertinya aku mulai tertarik untuk lebih banyak mengeksplorasi alam. Aku ingin mencoba hiking lagi atau melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain yang menawarkan keindahan alam.

Padahal, ini baru pertama kalinya aku merasakan pengalaman seperti ini. Namun, dampaknya cukup berkesan bagiku sehingga aku ingin kembali merasakannya.

Aku nggak mengatakan bahwa pergi ke alam bisa menyelesaikan semua masalah yang sedang aku hadapi. Aku tahu bahwa proses pemulihan kesehatan mentalku masih membutuhkan perhatian, perawatan, dan pendampingan profesional. Namun, pengalaman ini mengajarkanku bahwa ada banyak cara untuk membantu diriku merasa lebih baik, dan salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan kepada diriku untuk terhubung kembali dengan alam.

Aku juga mulai menyadari bahwa setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda untuk menemukan ketenangan. Ada yang merasa lebih tenang ketika menulis, membaca buku, berolahraga, berdoa, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau sekadar duduk menikmati suasana pagi. Bagiku, mungkin alam bisa menjadi salah satu tempat untuk menemukan kembali ketenangan itu.

Hal lain yang sedang aku pelajari adalah bahwa aku nggak harus selalu produktif setiap hari.

Sebelumnya, ketika aku punya banyak ide dan mampu mengerjakan banyak hal dalam satu hari, rasanya menyenangkan sekali. Aku merasa bersemangat karena ada banyak hal yang ingin aku bangun dan kembangkan. Namun, sekarang aku juga belajar bahwa aku nggak harus terus-menerus mengejar perasaan itu.

Aku tetap bisa memiliki mimpi, membangun project, menulis, dan melakukan banyak hal yang aku sukai tanpa harus terburu-buru menyelesaikan semuanya sekaligus.

Aku ingin belajar menjalani hidup dengan lebih seimbang. Aku ingin tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan, tetapi juga memberikan ruang bagi diriku untuk beristirahat. Aku ingin terus berkarya, tetapi nggak menjadikan produktivitas sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai diriku sendiri.

Sebab, aku sadar bahwa diriku tetap berharga, bahkan ketika aku sedang nggak mampu melakukan banyak hal.

Ada hari-hari ketika aku bisa menulis beberapa tulisan dalam satu hari. Namun, ada juga hari-hari ketika aku hanya mampu menyelesaikan sedikit pekerjaan. Ada hari-hari ketika aku merasa bersemangat untuk membangun berbagai project, tetapi ada juga hari-hari ketika aku perlu fokus pada hal-hal sederhana untuk merawat diriku sendiri.

Dan aku ingin belajar menerima kedua kondisi tersebut tanpa terus-menerus menyalahkan diriku sendiri.

Aku tahu perjalanan ini nggak selalu mudah. Akan ada hari-hari ketika aku merasa lelah lagi, ketika pikiranku terasa ramai, atau ketika memulai hari terasa begitu berat. Karena itu, aku ingin terus belajar memahami kondisiku, mengikuti perawatan yang aku butuhkan, dan memberikan ruang bagi diriku untuk menjalani proses ini secara perlahan.

Pada akhirnya, aku ingin mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri.

Hi, myself. Thank you for not giving up.

Terima kasih karena masih berusaha bangun pagi, meskipun rasanya berat sekali. Terima kasih karena masih mencoba melakukan hal-hal kecil untuk merawat diri sendiri. Terima kasih karena tetap memberikan kesempatan kepada diri ini untuk menikmati pengalaman baru, bahkan ketika sebelumnya ada keraguan dan rasa malas yang begitu besar.

Aku tahu bahwa aku masih memiliki banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih punya mimpi, ide, tulisan, dan project yang ingin aku kembangkan. Namun, aku juga ingin mengingatkan diriku bahwa semuanya nggak harus diselesaikan sekarang.

Pelan-pelan saja. Aku nggak harus berlari setiap hari.

Kalau hari ini aku hanya mampu melakukan sedikit hal, bukan berarti aku gagal. Kalau hari ini aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat, bukan berarti aku kehilangan semua kemampuan yang pernah aku miliki. Aku tetap diriku sendiri, bahkan ketika energi dan suasana hatiku sedang berbeda dari biasanya.

Ingat, you are not your diagnosis.

Aku lebih dari diagnosis yang aku miliki. Aku adalah seseorang yang masih memiliki banyak hal untuk dipelajari, pengalaman untuk dijalani, karya untuk diciptakan, dan tempat-tempat indah untuk dikunjungi.

Diagnosis ini merupakan bagian dari perjalanan hidupku, tetapi bukan keseluruhan identitasku. Aku nggak harus mendefinisikan diriku hanya berdasarkan apa yang sedang aku alami. Aku tetap punya kesempatan untuk bertumbuh, mengenali diriku lebih jauh, dan menemukan hal-hal yang membuat hidup terasa bermakna.

Aku juga nggak harus membuktikan bahwa aku baik-baik saja dengan terus-menerus menjadi produktif. Aku boleh mengakui bahwa ada hari-hari yang sulit. Aku boleh meminta bantuan ketika membutuhkannya. Dan aku boleh menjalani hidup dengan kecepatan yang berbeda dari orang lain.

Untuk saat ini, aku hanya ingin terus belajar mendengarkan diriku sendiri, merawat kesehatanku, dan menikmati hal-hal sederhana yang mungkin sebelumnya sering aku lewatkan.

Aku ingin mengingat kembali perasaan ketika berdiri di puncak Gunung Galunggung, melihat keindahan alam di hadapanku, dan menyadari bahwa masih ada begitu banyak hal indah di dunia ini yang belum aku temui.

Alhamdulillah for this week. Aku bersyukur atas kesempatan untuk menjelajahi alam, teman-teman yang membuat perjalanan ini menjadi mungkin, dan momen-momen kecil yang mengingatkanku untuk terus menjalani hidup.

Minggu ini aku bersyukur bukan karena semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi karena di tengah masa yang sulit, aku masih bisa menemukan momen-momen yang membuatku merasa tenang.

Post a Comment

0 Comments