![]() |
| doc. pribadi |
Mustafa Reza Raihan Sind, S.Pd., M.Pd., Gr. adalah seorang guru Bahasa Indonesia sekaligus pelatih teater di ekstrakurikuler Teater Bingah, SMP Tunas Unggul, Bandung. Dalam perannya sebagai pendidik, ia tidak hanya mengajak siswa memahami bahasa melalui buku dan pembelajaran di kelas, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk mempraktikkan bahasa melalui seni pertunjukan.
Baginya, belajar bahasa tidak selalu berarti duduk manis di kelas dan mengerjakan soal. Bahasa juga dapat dipelajari melalui pengalaman, salah satunya melalui drama dan teater. Di atas panggung, siswa belajar menggunakan bahasa untuk menyampaikan pesan, mengekspresikan diri, bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri.
Sebagai guru Bahasa Indonesia sekaligus pelatih teater, bagaimana Bapak melihat hubungan antara kemampuan berbahasa, keberanian berekspresi, dan kepercayaan diri siswa?
Berbahasa dan berekspresi adalah dua hal yang pada dasarnya tidak bisa dipisahkan. Tujuan berbahasa selain menyampaikan serta menghubungkan informasi adalah menunjukkan ekspresi diri penuturnya. Ekspresi penutur dapat ditunjukkan melalui bahasa secara tulis, lisan, atau seni penampilan.
Tentu, untuk mewujudkan pengalaman berekspresi melalui bahasa, siswa perlu memiliki kepercayaan diri yang dilatih dan dibiasakan. Kepercayaan diri dalam konteks ini pun sebenarnya dapat diartikan lebih luas sebagai proses siswa yang meyakini bahwa dirinya mampu untuk dirinya sendiri dan mampu menunjukkan dirinya kepada orang lain.
Maka, bahasa, ekspresi, dan percaya diri adalah hal yang saling terhubung, terlebih dalam pembelajaran di kelas. Ketiganya saling memberikan dampak.
Dalam mendampingi siswa di bidang teater, apa tantangan yang paling berkesan bagi Bapak, terutama ketika membantu siswa yang awalnya kurang percaya diri untuk berani tampil di depan orang lain?
Berdasarkan pengalaman saya sebagai guru di jenjang SMP, pembelajaran berbasis teater untuk anak-anak SMP bertujuan untuk mengenalkan, bukan untuk menjadi ahli atau yang terbaik. Siswa diajak oleh guru untuk mempelajari dan menikmati proses penyelenggaraan sebuah pementasan. Dan di sini titik serunya.
Banyak perkembangan siswa terlihat dalam proses belajar ini. Dari casting, latihan, hingga pertunjukan, saya banyak menyaksikan perkembangan kepercayaan diri siswa yang luar biasa.
Ada siswa yang awalnya malu-malu, namun ternyata dapat begitu luwes berperan di atas panggung. Ada juga siswa yang jarang terlihat di kelas, tetapi justru sangat kreatif membuat properti dan apik dalam tata rias aktor. Bahkan, ada juga siswa yang menunjukkan ketertarikan membuat naskah dan menjadi sutradara.
Semua itu muncul karena anak-anak mendapatkan ruang terbuka untuk percaya diri menunjukkan minat dirinya. Perkembangan itu memiliki kesan tersendiri bagi saya yang ikut belajar dalam proses pembelajaran.
Bapak sudah beberapa kali mengantarkan siswa untuk tampil di atas panggung. Dari berbagai pengalaman tersebut, adakah satu momen yang paling berkesan bagi Bapak, dan apa yang Bapak pelajari dari perjalanan bersama siswa-siswa tersebut?
Menyaksikan siswa bisa berkembang adalah momen terindah yang saya alami. Terlebih ketika proses pementasan menjadi pengalaman yang dirindukan oleh siswa dan guru.
Kekeluargaan, kebersamaan, dan kehangatan adalah hal yang tumbuh di balik sebuah pementasan yang baik.
Reflection
Dari pengalaman Pak Mus, kita bisa melihat bahwa belajar Bahasa Indonesia tidak harus selalu berlangsung dengan duduk di dalam kelas dan mengerjakan soal. Bahasa adalah sesuatu yang hidup dan dapat dipraktikkan melalui berbagai pengalaman.
Melalui drama dan teater, siswa tidak hanya belajar bagaimana menggunakan bahasa, tetapi juga bagaimana menyampaikan gagasan, menghidupkan sebuah karakter, bekerja sama, mendengarkan orang lain, dan berani menunjukkan dirinya.
Menariknya, panggung juga memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan kemampuan yang mungkin tidak selalu terlihat dalam pembelajaran biasa. Siswa yang pendiam di kelas mungkin menemukan dirinya melalui akting. Siswa yang tidak nyaman tampil mungkin justru menemukan bakatnya dalam membuat properti, tata rias, menulis naskah, atau menjadi sutradara.
Pada akhirnya, sebuah pementasan bukan hanya tentang bagaimana pertunjukan terlihat di atas panggung. Ada proses panjang di belakangnya yang mengajarkan keberanian, kerja sama, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk pembelajaran bahasa yang paling bermakna: ketika bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi benar-benar digunakan untuk mengekspresikan diri.
.png)
0 Comments