![]() |
| doc. pribadi |
Okay, so let me tell you something that comes to my mind tonight.
Yeah, aku harus hidup berdampingan dengan bipolar.
At first, when my therapist said that I've got bipolar, I was frozen. Then I told the psychiatrist about my condition. My psychiatrist gave me some medicine, it helped me to stabilize my mood. Pada saat diagnosis itu disampaikan, aku nggak tahu harus melakukan apa saat itu. Kayak, ya udahlah, mau gimana lagi, kan? Mau ditangisin setangis apa pun juga, it can't change everything. Jadi, ya udah deh, aku terima aja.
And I tried to find out more information about bipolar. Like, what is bipolar? What causes bipolar? That's it.
Meski aku sudah pergi ke psikolog dan psikiater, aku tahu bahwa ada hal-hal lain yang juga perlu aku ikhtiarkan. Aku perlu menyembuhkan beberapa luka dari masa lalu, memahami trauma yang masih membekas, dan meluruskan hal-hal yang selama ini mungkin aku pahami dengan cara yang keliru. Karena dari hasil terapi, ternyata ada banyak sekali hal yang harus aku bereskan.
Banyak sekali benang kusut yang saling mengikat satu sama lain.
And I know it is not easy, but I believe that I can go through this path with His help. Dengan bantuan Allah, tentunya.
Aku tahu perjalanan ini nggak akan selesai dalam satu malam. Ada hal-hal yang perlu dipahami secara perlahan, ada luka yang perlu diproses, dan ada bagian dari diri sendiri yang mungkin selama ini belum pernah benar-benar aku dengarkan.
But tonight, there is something that makes me sad.
Before I talk about it, I really appreciate my parents for supporting me in seeing the therapist and psychiatrist. Aku bersyukur mereka mau mendukungku untuk mendapatkan pertolongan dan berusaha memahami kondisiku, meskipun aku tahu bukan hal yang mudah bagi mereka untuk memahami apa yang sedang aku alami.
But the things that I really, really hate is when my father says something like, "Ini bukan membandingkan, ya, tapi dulu permasalahan Bapak lebih berat."
Even though it begins with "bukan membandingkan," rasanya tetap seperti dibandingkan.
Kayak, oh, jadi aku yang sekarang menghadapi masalah seperti ini dianggap lemah banget mentalnya?
Apalagi ketika beliau mengatakan bahwa anak-anak zaman sekarang mentalnya lemah-lemah. Kemudian membandingkan dengan para nabi yang menghadapi ujian begitu berat.
Honestly, kalau perkataan seperti itu disampaikan kepada orang yang sedang baik-baik saja, mungkin responsnya akan berbeda. Mungkin mereka bisa mendengarkan tanpa merasa terluka.
But I am not in that condition right now.
Aku sedang sakit. Aku sedang berjuang memahami diriku sendiri, berusaha menjalani pengobatan, dan mencoba melewati hari-hari yang bahkan terkadang terasa berat untuk dijalani.
Jadi, ketika mendengar perkataan seperti itu, rasanya sedih sekali.
Karena kalau aku harus jujur, I didn't have many good memories when I was a kid. Dan itu bukan hanya ketika aku masih kecil. Bahkan sampai usiaku 17 tahun, ada banyak hal yang harus aku hadapi sendiri.
Aku tumbuh dengan perasaan bahwa aku harus berjuang sendiri. Orang tuaku juga punya banyak persoalan yang harus mereka pikirkan, dan di tengah semua itu, aku merasa harus menghadapi pergumulanku sendiri.
Aku masih ingat bagaimana ketika sakit pun aku harus pergi sendiri. Aku harus melakukan banyak hal sendiri, dan terkadang baru dijemput ketika aku sudah menangis atau benar-benar nggak kuat lagi.
Belum lagi berbagai tuntutan, physical abuse, dan bentakan yang begitu sering aku dengar.
Sampai sekarang, ketika mendengar seseorang membentak, aku masih merasa takut. Tubuhku bisa tiba-tiba kaku. Aku diam, membeku, dan kesulitan berpikir dengan jernih.
Sometimes, I just freeze.
Mungkin orang lain melihatku hanya diam. Mereka mungkin berpikir aku terlalu sensitif atau berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Padahal, ada hal-hal yang terjadi di dalam diriku yang mungkin nggak mereka pahami.
Dan aku sedang berusaha memahami itu semua melalui proses terapi.
Itulah kenapa aku merasa nggak adil ketika perjuanganku dibandingkan dengan perjuangan orang lain, apalagi dibandingkan berdasarkan zaman.
Setiap orang punya pengalaman, keadaan, dan kemampuan yang berbeda dalam menghadapi sesuatu. Kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang sudah dilewati seseorang sebelum akhirnya dia sampai di titik sekarang.
And if I have to ask one simple question, who actually wants to have a mental health condition like this?
Nobody wants it.
Nggak ada yang dengan sengaja memilih untuk mengalami kesulitan dalam mengatur emosi, kesulitan tidur, kesulitan bangun pagi, atau harus berjuang dengan pikirannya sendiri hanya untuk menjalani hari seperti orang lain.
Aku juga nggak pernah meminta semua ini terjadi dalam hidupku.
Aku hanya sedang berusaha menjalani apa yang ada di hadapanku sekarang.
Dan tentang para nabi, bukankah setiap nabi juga menghadapi ujian yang berbeda? Kalau kita kembali membaca sejarah dan Al-Qur'an, bukankah ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap kisah mereka?
Bukan untuk menentukan siapa yang ujiannya paling berat. Bukan pula untuk membuat orang lain merasa bahwa penderitaannya nggak seberapa dibandingkan penderitaan seseorang di masa lalu.
But to learn something from their stories.
Untuk mengambil ibrah, memahami keteguhan mereka, dan belajar bagaimana mereka menghadapi ujian dalam kehidupan.
Lalu, kenapa ketika seseorang sedang mengalami kesulitan, kita justru menjadikan kisah orang lain sebagai ukuran untuk menilai seberapa kuat dirinya?
Aku nggak mengatakan bahwa membicarakan kisah para nabi itu salah. Aku pun percaya bahwa ada banyak kekuatan dan pelajaran yang bisa kita temukan dari kisah mereka.
Namun, menurutku, menyampaikan sebuah nasihat juga perlu mempertimbangkan keadaan orang yang mendengarnya.
Karena terkadang, seseorang nggak membutuhkan perbandingan untuk kembali kuat. Dia hanya membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan.
Dan itu seharusnya nggak membuatnya merasa lebih lemah daripada orang lain.
Another thing that makes me sad is when people say that I should get closer to Allah, do more dhikr, and do other religious practices.
Aku tahu bahwa mendekatkan diri kepada Allah itu penting. Aku pun percaya bahwa Allah adalah tempatku kembali, tempatku memohon pertolongan, dan tempatku bersandar ketika aku merasa nggak sanggup menghadapi semuanya sendiri.
But please, don't assume that people with mental health conditions are not close to their God.
Kita nggak pernah tahu bagaimana seseorang berjuang di balik pintu kamarnya. Kita nggak tahu berapa banyak doa yang dia panjatkan, berapa banyak air mata yang jatuh dalam sujudnya, atau berapa kali dia memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk melewati hari berikutnya.
Kita nggak tahu apa yang sudah mereka usahakan.
Dan aku rasa, kita juga nggak berhak menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kesulitan karena dia kurang dekat dengan Tuhannya.
Bahkan, ketika seseorang sedang berusaha mendapatkan pertolongan profesional, menjalani terapi, dan minum obat sesuai arahan dokter, itu pun merupakan bagian dari ikhtiarnya.
Aku percaya bahwa mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pertolongan profesional bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Aku bisa berdoa sekaligus pergi ke psikiater. Aku bisa bertawakal sekaligus menjalani pengobatan. Aku bisa memohon kesembuhan kepada Allah sekaligus berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada diriku.
Bukankah ikhtiar juga merupakan bagian dari perjalanan kita?
Aku teringat sebuah analogi sederhana.
Bayangkan seseorang sedang mengalami masalah pada kakinya sehingga dia kesulitan berjalan. Lalu, orang-orang di sekitarnya terus menyuruhnya berlari, seolah-olah dia hanya perlu berusaha lebih keras.
Does it make sense?
Tentu saja, dia mungkin ingin berlari. Dia mungkin ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya bisa dia lakukan dengan mudah. Namun, saat ini, dia sedang menghadapi sesuatu yang membuatnya kesulitan.
Begitu pula dengan kesehatan mental.
Ada hari-hari ketika seseorang ingin bangun pagi, bekerja, belajar, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani rutinitas seperti biasanya. Namun, kenyataannya, hal-hal sederhana itu bisa terasa jauh lebih berat ketika kondisi mentalnya sedang tidak baik.
Dan menurutku, pada saat seperti itu, yang dibutuhkan bukanlah terus-menerus diingatkan bahwa dia harus lebih kuat.
Sometimes, what they need is understanding.
Bukan berarti kita harus selalu memahami semua hal tentang kondisi mereka. Kita mungkin memang nggak tahu bagaimana rasanya berada di posisi mereka.
Namun, setidaknya, kita bisa belajar untuk nggak buru-buru menghakimi sesuatu yang belum kita pahami.
Sedih rasanya ketika aku menyadari bahwa untuk saat ini, aku belum bisa menjalani kehidupan seperti biasanya.
Aku tahu diriku sendiri. Aku tahu ada hal-hal yang sekarang terasa lebih sulit daripada sebelumnya.
Cara berpikirku, perasaanku, energiku, dan caraku merespons sesuatu terkadang terasa berbeda. Saat ini, aku juga sedang mengalami fase depresi dengan kondisi yang membuatku lebih mudah tersinggung dan marah.
Bahkan, untuk sekadar bangun pagi pun rasanya berat sekali.
Belum lagi efek samping obat yang membuatku mengantuk. Aku sudah membicarakan hal ini dengan dokter, dan dosis obatku kemudian diturunkan agar rasa kantuknya nggak terlalu mengganggu.
Aku tahu bahwa pengobatan membutuhkan proses penyesuaian dan pemantauan. Aku juga sedang belajar memahami kondisiku sendiri selama menjalani proses ini.
But honestly, sometimes it feels so difficult.
Di satu sisi, aku ingin kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Aku ingin bangun pagi dengan tubuh yang terasa segar, bisa berpikir dengan jernih, dan punya energi untuk melakukan hal-hal yang aku sukai.
Namun, di sisi lain, aku juga harus menerima bahwa saat ini ada hal-hal yang memang belum bisa kulakukan dengan mudah.
Dan menerima keadaan ini ternyata nggak selalu mudah.
Ada rasa sedih ketika aku membandingkan diriku sekarang dengan diriku yang dulu. Ada rasa kecewa ketika aku harus memperlambat langkah, sementara sebagian diriku ingin segera kembali melakukan banyak hal.
But I am trying to learn.
Aku sedang belajar bahwa menerima keadaan bukan berarti menyerah. Beristirahat bukan berarti aku malas. Meminta pertolongan bukan berarti aku lemah. Dan menjalani pengobatan bukan berarti aku gagal mengatasi persoalanku sendiri.
Aku hanya sedang menjalani proses yang mungkin nggak selalu terlihat oleh orang lain.
Aku juga nggak ingin selamanya mendefinisikan diriku melalui diagnosis yang aku miliki. Bipolar adalah bagian dari kondisi kesehatan yang sedang aku pelajari dan hadapi, tetapi bukan keseluruhan diriku.
I am still me.
Aku masih seseorang yang suka menulis, membaca, belajar, dan menemukan makna dari hal-hal sederhana dalam kehidupan. Aku masih punya mimpi, harapan, dan hal-hal yang ingin aku lakukan.
Mungkin saat ini aku perlu menjalani semuanya dengan cara yang berbeda. Mungkin ada beberapa rencana yang perlu ditunda atau disesuaikan.
But my life is still mine to live.
Dan aku ingin memberikan diriku kesempatan untuk menjalaninya tanpa terus-menerus merasa harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
If there is one thing I really want people to understand, it is this:
Sometimes, we don't need much advice. We just need someone who is willing to listen.
Aku nggak selalu membutuhkan ceramah panjang tentang bagaimana seharusnya aku menjalani hidup. Aku nggak selalu membutuhkan perbandingan tentang siapa yang menghadapi masalah lebih berat. Aku juga nggak selalu membutuhkan seseorang untuk menjelaskan apa yang seharusnya aku lakukan.
Terkadang, aku hanya ingin bercerita.
Aku ingin bisa mengatakan bahwa aku sedang sedih tanpa harus dianggap lemah. Aku ingin mengakui bahwa aku sedang kesulitan tanpa harus merasa bersalah. Aku ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan tanpa harus berakhir dengan penjelasan panjang tentang mengapa aku seharusnya lebih bersyukur atau lebih kuat.
Karena percayalah, aku pun sedang berusaha.
Aku sedang berusaha memahami diriku sendiri. Aku sedang berusaha menjalani pengobatan. Aku sedang berusaha memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki, termasuk luka-luka dari masa lalu yang selama ini mungkin belum benar-benar aku pahami.
Dan aku tahu, perjalanan ini masih panjang.
But I hope I can go through it with more kindness toward myself.
Aku ingin belajar memberikan diriku sendiri pengertian yang mungkin selama ini begitu aku harapkan dari orang lain.
Aku ingin belajar bahwa aku nggak harus selalu terlihat kuat untuk dianggap sedang berjuang. Aku nggak harus menyembunyikan kesulitanku agar orang lain merasa nyaman. Dan aku nggak harus membuktikan bahwa lukaku cukup dalam hanya agar seseorang percaya bahwa aku sedang kesakitan.
Mungkin, salah satu hal yang perlu aku pelajari dalam perjalanan ini adalah menerima bahwa nggak semua orang akan memahami apa yang aku alami.
It hurts, of course.
Apalagi ketika perkataan yang menyakitkan datang dari orang-orang yang kita harapkan bisa memahami kita.
Namun, aku juga ingin belajar bahwa ketidakmampuan seseorang memahami pengalamanku tidak serta-merta membuat pengalamanku menjadi tidak valid.
Apa yang aku rasakan tetap nyata, meskipun orang lain belum tentu memahaminya.
Dan untuk saat ini, aku ingin memberikan diriku ruang untuk menjalani semuanya secara perlahan.
Aku ingin tetap berikhtiar, tetap mendekatkan diri kepada Allah, tetap menjalani pengobatan, dan tetap belajar memahami diriku sendiri.
Aku nggak tahu bagaimana perjalanan ini akan berlangsung. Aku juga nggak tahu kapan semuanya akan terasa lebih mudah.
But I believe that I don't have to figure everything out tonight.
Malam ini, aku hanya ingin jujur tentang apa yang aku rasakan.
Aku sedih. Aku lelah. Ada hal-hal yang masih menyakitkan ketika aku mengingatnya. Dan ada saat-saat ketika aku hanya ingin didengarkan tanpa harus menerima begitu banyak nasihat.
And I think that's okay.
Because I am human, too.
Aku bukan hanya seseorang yang sedang berjuang menghadapi bipolar. Aku juga seseorang yang punya perasaan, punya masa lalu, punya harapan, dan punya kebutuhan untuk dipahami.
Dan mungkin, untuk malam ini, itu sudah cukup.
Aku nggak perlu menyelesaikan semua persoalan dalam hidupku sekarang. Aku nggak perlu menjelaskan semuanya kepada semua orang. Aku hanya perlu terus menjalani proses ini, satu langkah demi satu langkah, dengan bantuan Allah dan pertolongan yang aku butuhkan.
Semoga suatu hari nanti, aku bisa melihat kembali perjalanan ini dengan hati yang lebih lapang.
Bukan karena semua yang terjadi tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena aku sudah belajar untuk lebih memahami diriku sendiri.
And until that day comes, I hope I can be a little kinder to myself.
Because I deserve that, too.
.png)
0 Comments