Hal Apa yang Kamu Sukai Saat Kecil?

Apa hal yang paling kamu sukai saat kecil? Permainan atau kegiatan apa yang paling membuatmu bahagia?

Wow. This is my first journaling session about my inner child, and I think this question is quite heavy.

Actually, when I think about my childhood, I can't find many good memories. So, what did I love most about being a child?

Nggak ada sih.

Mungkin, hal yang paling aku sukai saat kecil adalah aku nggak punya beban yang begitu besar seperti ketika kita sudah dewasa. But then, waktu kecil, aku juga pengen cepat-cepat dewasa karena aku merasa nggak punya masa kecil yang bahagia.

Permainan atau kegiatan apa pun rasanya nggak ada yang benar-benar membuatku bahagia.

Aku masih ingat, waktu kecil, aku pengen banget punya mainan remote control. I still remember when my father took me to a festival. Di sana, aku melihat mainan itu dan ingin sekali membelinya.

But then, my father said that I couldn't have it at that time.

Aku berpikir, Oh iya, ya. Mungkin memang belum ada uangnya.

Pada saat itu, aku benar-benar harus berpikir seperti orang dewasa. Aku harus memahami keadaan mereka, bahkan ketika usiaku baru sekitar empat atau lima tahun.

And the older I got, the more I felt that I was expected to understand their situation all the time. But they never seemed to make the same effort to understand mine.

Aku selalu berusaha memahami keadaan mereka. Namun, bagaimana dengan keadaanku sendiri? Bagaimana dengan apa yang aku inginkan, apa yang aku rasakan, dan apa yang sebenarnya aku butuhkan sebagai seorang anak?

Aku marah. Aku benar-benar marah.

Aku merasa bahwa sejak kecil, aku dituntut untuk selalu memahami orang lain, sementara aku sendiri jarang merasa dipahami. Bahkan, mimpi-mimpiku dan pencapaian yang begitu berarti bagiku justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna.

And that really hurt me.

Aku ingin seseorang mendengarkan apa yang aku katakan. Aku ingin seseorang menganggap bahwa apa yang aku impikan juga berarti. Aku ingin bisa menjadi anak kecil yang boleh memiliki keinginan tanpa harus selalu memikirkan keadaan semua orang.

But somehow, I learned to put other people's feelings and circumstances before my own.

Aku terbiasa memahami mereka, sampai terkadang aku lupa bahwa aku juga punya perasaan yang perlu dipahami.

Aku marah sekali sampai terkadang aku bertanya-tanya mengapa aku harus mengalami semua ini. Sekarang, setelah aku didiagnosis dengan bipolar disorder oleh psikolog, orang-orang terdekatku mau tidak mau harus mulai memahami kondisiku.

And this is the first time I have started to feel what it is like to be understood.

Rasanya aneh. Ada rasa lega, tetapi juga ada kesedihan yang sulit dijelaskan.

Aku merasa lega karena akhirnya ada ruang untuk orang lain memahami apa yang aku alami. Namun, aku juga sedih karena rasanya aku harus menunggu selama itu untuk merasakan bagaimana rasanya dipahami.

Aku tidak mengatakan bahwa pengalaman masa kecilku adalah penyebab bipolar disorder yang aku alami. Namun, aku tahu bahwa perasaan sendirian, tidak didengarkan, dan harus selalu memahami orang lain telah menjadi bagian yang menyakitkan dalam hidupku.

So, if someone asks me, "What did you love most about being a child?" honestly, my answer is that I don't know. Maybe nothing.

That's why, when I teach kindergarten, I always feel like I want to help the children. I want to make them happy. I want to make them laugh.

Because when I make them happy, the little child inside me feels happy, too.

Aku ingin membuat mereka bahagia. Aku ingin mereka menikmati masa kecilnya. Aku ingin mereka merasa bahwa apa yang mereka katakan itu penting dan bahwa perasaan mereka layak didengarkan.

Mungkin, ada bagian dari diriku yang ingin memberikan kepada mereka apa yang dulu juga aku butuhkan.

But now, I am learning something important.

I can make other children happy without forgetting to take care of the little child inside me.

Aku tidak harus selalu membahagiakan orang lain untuk membuat diriku sendiri merasa berharga. Aku juga tidak harus terus memberikan sesuatu kepada orang lain hanya karena aku tahu rasanya kekurangan sesuatu.

Aku pun pantas mendapatkan kebahagiaan, perhatian, dan pengertian.

Ketika aku kecil, apa yang aku inginkan dan apa yang aku katakan rasanya tidak pernah benar-benar didengar. Bahkan, mimpi-mimpiku dan pencapaianku saat itu terkadang dianggap tidak berguna.

And for almost seventeen years, I felt like I was living my life alone.

Tidak ada yang benar-benar membantuku atau menemaniku melewati semuanya. Rasanya sedih sekali ketika harus terus berjuang sendirian, terutama ketika aku hanya ingin seseorang berada di sisiku dan mencoba memahami apa yang sedang aku rasakan.

But maybe, I don't have to keep living as if I have to handle everything on my own.

Aku sedang belajar bahwa aku boleh meminta bantuan. Aku boleh merasa lelah. Aku boleh mengatakan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling memahami keadaan orang lain.

And maybe, this is what reparenting myself means: learning to give myself the understanding that I have always needed.

Aku ingin mengatakan kepada diriku yang kecil bahwa tidak apa-apa jika dulu kamu ingin membeli mainan itu. Tidak apa-apa jika kamu merasa kecewa. Kamu tidak salah karena memiliki keinginan.

Kamu memang perlu belajar memahami keadaan orang lain, tetapi kamu juga pantas mendapatkan seseorang yang mau memahami keadaanmu.

You were just a little child. You didn't have to understand everything.

Kamu tidak harus selalu menjadi anak yang mengerti. Kamu juga boleh menjadi anak yang ingin dimengerti.

Aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubah semua yang sudah terjadi. Aku juga tidak bisa memaksakan diriku untuk mengingat masa kecil sebagai sesuatu yang indah jika memang bukan itu yang aku rasakan.

But I can start treating myself with more kindness today.

Aku bisa belajar mendengarkan diriku sendiri. Aku bisa memberikan waktu untuk beristirahat tanpa merasa bersalah. Aku bisa menghargai mimpi-mimpiku tanpa harus menunggu orang lain menganggapnya penting.

And I can slowly learn that my feelings matter, too.

Mungkin, aku tidak bisa memberikan masa kecil yang berbeda kepada diriku yang dulu. Namun, aku masih bisa belajar menciptakan kehidupan yang lebih baik dan lebih lembut bagi diriku yang sekarang.

Aku ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain bahagia. Aku ingin tetap membantu anak-anak menikmati masa kecil mereka.

Namun, aku juga ingin belajar melakukan hal yang sama untuk diriku sendiri.

Because the little child inside me deserves happiness, too.

She deserves to be heard, understood, and loved, not because she has done something great, but simply because she exists.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku ingin berhenti bertanya apa yang salah dengan diriku karena tidak memiliki banyak kenangan masa kecil yang bahagia.

Sebaliknya, aku ingin mulai bertanya kepada diriku sendiri:

What did I need the most when I was a child?

Apa yang sebenarnya paling aku butuhkan saat kecil?

Mungkin, aku tidak membutuhkan banyak hal. Mungkin, aku hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkanku, memahami perasaanku, dan membiarkanku menjadi anak kecil.

Dan sekarang, aku ingin belajar memberikan pengertian itu kepada diriku sendiri.

Pelan-pelan, tanpa paksaan.

Because I may not be able to change my childhood, but I can learn to be kinder to the person I am today.

Post a Comment

0 Comments