Wednesday, February 11, 2026
Udah hampir 10 hari ke belakang ini aku merasa aku ditarik kembali menuju lembah bewarna hitam itu. Meski tidak sehitam legam dulu, namun kekuatannya masih sama. Malamnya aku sulit memejamkan mata, baru bisa tidur di jam 12 atau 1 malam dan itu pun masih dengan pikiran yang berisik gak karuan, seolah memori lama, luka-luka yang belum sempat diproses pun bermunculan berdatangan, belum lagi soal overthinking yang menyerang, tiba-tiba ingin menangis lalu menangis meski sulit banget buat bisa nangis kejer padahal pengen banget biar hati lega. Menyiksa banget? Jangan ditanya.
Besoknya? Aku malas bangun, masih betah di tempat tidur. Seolah ada yang menarikku untuk tetap stay di tempat tidur, tidak semangat untuk memulai hari, bahkan rasanya aku ingin tidur seharian saja. Orang tua mulai panik lagi dengan polaku yang begini, meski mereka benar-benar tidak bisa mengomunikasikannya dengan baik. Mereka mensupport aku untuk semangat mengawali hari yang justru malah bikin aku down, mereka mengingatkan aku bahwa tidur pagi itu jelek, padahal mereka gak benar-benar tahu gimana strugglenya aku setiap malam, dan setiap aku bilang aku susah tidur malam-malam pasti keluar dari mulut mereka tuh omongan-omongan yang tanpa terasa mereka sadari menyudutkan aku: apa sih yang bikin aku susah tidur, ngajar gak secape itu, kerjaan di rumah juga diurus Mamah.
Ah, shit! Mau marah males juga nanti dicap anak durhaka, maka dari itu aku lebih banyak memendam semua ini. Mereka tahu aku sedang depresi, tapi meraka gak benar-benar mau cari tahu gimana caranya merawat dan menemani orang yang sedang depresi.
Walau Mamah pernah bilang dia juga pernah ngerasain hal yang sama dulu dan itu bisa dilawan rasa malasnya.
Tapi untuk saat ini aku gak butuh kata-kata itu semua. Aku cuma ingin didengarkan saja tanpa dihakimi, tanpa dicela. Cukup ada dan mendengarkan. Aku gak butuh support, ceramah, dll.
Bahkan yang paling kesal adalah mereka bilang bahwa aku harus dekat dengan Allah biar urusan aku dibantu. Gimana urusan aku mau dibantu katanya kalau aku jauh sama Allah?
Mah, Pak, tahu gak? Tanpa kita dekat atau enggak sama Allah, aku yakin Dia selalu bantu kita, karena Dia gak butuh ibadah kita, tapi kita yang butuh Dia. Tahu gak gimana strugglenya aku tiap perasaan aneh itu muncul dan aku masih tetep nyebut nama Dia? Memohon-mohon sama Allah buat tetap stay sama aku, nangis diem-diem sambil terus nyebut " Ya Allah, Ya Allah aku capek," ? Aku gak harus sebut semua itu juga kan? Itu ranah privacy, meski aku tahu tujuan kalian baik, tapi dengan kondisi aku yang saat ini bukan di posisi orang 'normal' secara mental, bukannya menerima ya aku bakal marah.
Capek banget sih, mana seminggu kemarin aku gak jadi kontrol ke psikiater karena BPJS aku bantuannya dicabut sama Pemerintah tanpa informasi apa-apa dulu. Padahal gaji aku masih di bawah UMR huhuuu.
Capek ya? Banget. Jangan ditanya. Gak usah perdulikan apa kata orang ya, karena cuma kamu yang paham kondisi kamu saat ini. Persetan mereka mau ngobrol apa, masih bisa kerja dan stay focus dikerjaan aja udah bersyukur banget.
Dan satu pertanyaan yang bikin aku kesal se kesal-kesalnya adalah,
"Gak ada keingininan buat ke luar negeri gitu?"
Rasanya nyes aja. Aku tahu konteks itu dilontarkan karena gaji kerja aku saat ini tak menentu dan di bawah UMR. Dia tahu aku lagi depresi, tapi please. Meski dia gak bermaksud apa-apa, tapi pertanyaan itu sensitif banget buat aku.
Buat bisa kerja aja udah syukur alhamdulillah, bisa mandi, makan, ngurus diri, walau malamnya kelihatan banget acak-acakannya.
Jadi buat kamu, hati-hati ya kalau ngobrol sama orang yang lagi kena penyakit mental. Cukup ada dan dengarkan. Gak usah sok bijak, menjudge, atau mengatur-ngatur hidup mereka.
Wednesday, February 04, 2026
1. Last month was the month when
Untuk pertama kalinya tidak lagi menjadi guru di sekolah formal setelah tiga setengah tahun. Pagi-pagi menjadi lebih rileks, tidak merasa terburu-buru harus mengerjakan sesuatu atau langsung bertemu orang banyak (siswa). Saat ini hanya fokus di kursusan. Meski begitu, tetap rasanya tetap capek, tapi kali ini aku bisa lebih fokus. Ternyata, transisi ini juga memberi ruang untuk bernapas lebih dalam, meskipun tantangan baru seperti mengatur waktu sendiri kadang membuatku merasa sedikit hilang arah.
2. Last month I spent most of my quality time with
Banyak banget waktu luang bikin aku lebih banyak waktu sama diri sendiri. Ngobrol sama diri sendiri melalui tulisan, baca buku yang emang lagi dibutuhin sama diri sendiri. Ternyata semakin kita banyak dengerin dan ngomong diri sendiri itu lebih tenang dan alhamdulillah bisa mengurangi anxiety. Di waktu-waktu itu, aku juga mulai mencoba meditasi sederhana, seperti duduk diam dan merasakan napas, yang membantu menenangkan pikiran yang sering berkecamuk.
3. Last month I spent most of my time
Menulis, membaca dan juga menonton YouTube. Aku senang karena setelah resign dari sekolah, aku bisa punya waktu lebih banyak untuk menulis dan juga membaca. Aktivitas ini bukan hanya sekedar hobi, tapi juga cara untuk mengeskplorasi pikiran dan emosi yang selama ini terpendam di balik rutinitas harian yang padat.
4. Last month, I felt
Sebenarnya bulan lalu perasaan aku kacau balau. Naik turunnya signifikan. Bisa tiba-tiba semangat, lalu tiba-tiba hilang semangat. Kadang mudah tidur, kadang tiba-tiba sulit tidur jadi mudah mengantuk di pagi hari. Dan seminggu terakhir di bulan kemarin, aku sering mengalami mimpi buruk. Entahlah, aku juga gak tahu kenapa. Bulan lalu juga, dosis obat anti depresannya di tambah lagi dosisnya, balik lagi ke setelan awal. Meski begitu, aku coba buat baik-baik aja di hadapan keluarga aku. Mungkin ini bagian dari proses penyembuhan, di mana tubuh dan pikiran sedang belajar menyesuaikan diri dengan perubahan besar, dan aku berusaha menerima bahwa fluktuasi ini adalah hal yang normal.
5. Last month's list
Mm, bulan lalu aku bisa selesai baca satu buku, nonton 4 episode drakor, nulis beberapa tulisan di blog yang aku rasa bulan kemarin aku bisa nulis banyak. Olahraga renang, iya! Iya aku mulai rutin olahraga renang.
6. Love letter to self
Hi, Ihat. Thank you for surviving ya. I love you and I am always proud of you. Aku tahu, sulit banget buat bisa berdamai dengan depresi, tapi dari depresi kamu belajar bahwa gak apa-apa kok kalau kamu lagi gak baik-baik aja, gak apa-apa kok kalau di hari tertentu kamu gak semangat, gak apa-apa kok kalau ngajar kamu di hari tertentu gak sebaik biasanya. Remember, you are a human. Dan semua perasaan itu berhak hadir dan dirasakan. Jangan lagi denial ya dengan perasaan apapun yang hadir. Mereka cuma butuh diterima, dirasakan, dan dipeluk. Semangat berjuang bersama depresi yang kamu alami ini. Meski kadang terasa melelahkan, tapi ingat semua ini sementara dan kamu akan keluar dari lingkaran hitam yang kadang menakutkan itu. Keep it up! Kamu sudah melangkah jauh, dan setiap hari yang kamu lalui adalah bukti kekuatanmu yang luar biasa.
Prompt journal ini aku dapatkan dari instagramnya beradadisini.
Tuesday, February 03, 2026
| doc. pribadi |
Identitas Buku
Judul: A Guide Book To Find Yourself
Penulis: Luc Diana
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2024
Penerbit: Brilliant Books
Blurb
I still haven't found what I'm looking for
"Aku masih belum menemukan apa yang aku cari." Piuhh... perasaan semacam ini sangat menyebalkan, saat aku merasa galau terus-menerus dan merasa tidak harus melakukan apa dalam hidupku ini. Inilah yang sempat kurasakan pada masa-masa pendewasaan diriku. Aku pernah merasakan hari-hari gelap, saat aku merasa tidak pernah cukup untuk diriku sendiri, dan aku merasa begitu kesepian, sampai-sampai aku ingin mati saja.
Di luar sana, mungkin banyak orang yang punya pengalaman sama. Punya perasaan yang sama ketika hari-hari mereka dipenuhi oleh kegelisahan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Buku ini adalah salah satu caraku mengatasi hari-hari gelap itu. Ini adalah catatan pergulatan batinku, serta hasil pencarianku tentang bagiaman aku harus menemukan diriku yang sejati, dan bagaimana menemukan apa yang kucari selama ini dalam hidupku. Buku ini sekaligus menjadi semacam pengingat bagiku.
Besar harapanku agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus teman untukmu yang sedang mengalami pergulatan dalam pencarian jati diri dan di akhir kamu bisa mengatakan, "Now, I have found what I'm looking fo."
Tiga Insight Utama
1. "Mengapa aku selalu merasa tidak bahagia?" adalah karena aku terlalu ketat, dan terlalu tinggi menerapkan standar-standar dalam kehidupanku. Aku lupa kalau hidup itu tidak perlu sempurna, atau tidak perlu mengikuti standar-standar kebahagiaan orang lain. (p. 43)
2. Pikiran itu muncul karena aku merasa jika aku mati, sepertinya perasaan-perasaan menyiksa itu pasti akan hilang. Padahal, kan belum tentu. (p. 67)
3. Ketika aku menarik napas dan menghembuskannya, di situlah kesadaranku dilatih. Saat aku harus sadar bahwa yang aku pikirkan secara terus menerus itu hanyalah ilusi. Jika aku berpikir tentang masa depan, itu artinya aku memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Sementara itu, kalau aku berpikir tentang masa lalu, itu artinya aku mimikirkan hal yang sudah lewat, dan sia-sia karena masa itu tidak akan pernah kembali atau mengubah hal yang sudah terjadi itu.
Refleksi Pribadi
Membaca buku ini persis seperti sedang berbicara kepada seorang teman yang paham sekali dengan kondisi kita, terutama aku pribadi. Penggunaan bahasa yang santai dan mudah dipahami membuat aku merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari gelap itu. Banyak tips menarik dan mudah dipraktikkan dalam buku ini, seperti latihan pernapasan sederhana yang langsung bisa aku coba saat merasa cemas. Buku ini benar-benar membantuku memahami bahwa kesepian itu sementara, dan aku mulai merasa lebih percaya diri setelah menerapkan saran-sarannya. Jika kamu sedang dalam masa-masa sulit dan belum mengenal siapa dirimu, kamu bisa mulai dengan membaca buku ini, siapa tahu, ini bisa jadi titik balik kamu.
Monday, February 02, 2026
If I didn't feel tired, what would I do today?
If I didn't feel tired, I would engage in numerous tasks similar to those I handled in my previous school. For instance, I would organize various events, lead students in activities, attend multiple meetings, and connect with many people to gather inspiration and ideas. This would allow me to be highly productive and energetic throughout the day.
However, upon reflection, I realize that this busyness raises important questions: What am I truly chasing? When would I have time to listen to myself if I were constantly occupied with others? This thought makes me grateful for my tiredness. It enables me to live more slowly, observe my surroundings mindfully, and tune into my own needs and thoughts.
Perhaps it is time for me to relax and slow down in life, appreciating the balance that fatigue brings. In conclusion, while energy might fuel productivity, tiredness teaches valuable lessons about self-awareness and intentional living.
Write about your chilhood ambition
Dari semenjak dulu ampe sekarang, cita-cita aku gak pernah berubah: menjadi seorang guru. Alhamdulillah ini berhasil dicapai walau kalau kita lihat kondisi sekarang miris banget buat jadi guru karena pemerintah gak peduli sama nasib guru. Gaji gak seberapa, tapi tugasnya seabrek. Malah lebih fokus sama MBG. Hahahaaa.
Januari lalu aku sudah berhenti tidak lagi menjadi guru honorer di sekolah. Kenapa? Ya realistis aja. Di gaji 400 ribu perbulan tapi tugasnya sama kayak PNS. Ogah deh. Aku memilih untuk jadi guru lesan aja di sebuah lembaga kursusan. Sedih? Iya sedih. Tapi buat makan sehari-hari emangnya bisa bermodalkan ikhlas dan pengabdian?
Semoga pemerintah bisa berbenah soal kesejahteraan guru ini. Bisa lebih memperhatikan mereka dan mendukung para guru baik dari segi finansial, fisik, dan mental.
Who and what adds meaning to your life?
Bingung harus jawab apa. Karena untuk saat ini aku aja masih mempertanyakan tujuan hidup aku apa, aku mau ke mana, dan harus apa untuk hidup ini. Apalagi semenjak keinginan untuk bunuh diri itu kuat banget, walau pada akhirnya aku gak jadi melakukan itu.
Untuk saat ini aku hanya ingin berhenti sejenak dari semua ambisi-ambisi aku yang tak pernah ada habisnya. Aku hanya ingin mendengar diriku lebih banyak dan apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku hanya ingin mendengar diri sendiri saja untuk saat ini. Gak apa-apa mau dibilang lambat, gagal, gak ada tujuan hidup. Untuk bisa bangun dari tempat tidur, mandi, dan pergi kerja buat aku itu sudah menjadi pencapaian yang besar.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, pertanyaan "Who and what adds meaning to your life?" ini bikin aku mikir lebih dalam. Saat ini, mungkin belum ada orang atau hal spesifik yang benar-benar menambahkan makna besar ke hidupku, karena aku sedang fokus untuk mengerti sama diri sendiri dulu. Tapi, proses mendengarkan suara hati aku sendiri itu mulai jadi sumber makna kecil-kecilan, meski belum jelas bentuknya. Mungkin nanti, setelah aku lebih paham apa yang aku butuhkan, aku baru bisa menemukan jawaban yang lebih pasti. Yang penting, aku sedang belajar menerima bahwa pencapaian sehari-hari seperti itu sudah cukup untuk saat ini.
Where do you wish to travel next?
Malaysia? Singapura? Dua negara itu sih. Pengen banget nyoba ke luar negeri karena emang belum pernah. Pengen banget tahu budaya di sana bagaimana. Karena selama ini cuma denger dari orang yang pernah pergi ke sana.
Meski kalau dilihat dari penghasilan aku sekarang kayaknya impossible banget atau butuh waktu yang lama untuk bisa ngumpulin duit biar bisa ke sana, tapi aku yakin suatu saat aku bisa ke negera tersebut dan berkunjung ke negara-negara lainnya.
Thursday, January 29, 2026
Write about a gift you have always cherished.
Sepertinya hadiah berupa postcard dari Turki yang dikasih sama temen aku yang baru pulang kerja dari sana. Tanpa minta oleh-oleh dia ngasih itu dan rasanya entah kenapa seneng aja. Melihatnya setiap hari membuat aku termotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Hadiah itu aku simpan di meja kecilku sebagai alarm atas mimpiku, setiap kali aku bengong aku selalu mengambil postcard itu dan membayangkan suatu saat aku akan ada di sana.
![]() |
| doc.pribadi |
Kadang aku mikir, postcard sederhana ini gak cuma sekedar kertas dengan gambar cantik, tapi simbol dari harapan yang hidup. Ia mengingatkan dan meyakinkan aku kalau kerja keras bakal bawa aku ke tempat-tempat yang aku impikan. Setiap kali pegangnya, rasanya seperti janji kecil buat diri sendiri, bahwa aku nggak sendirian dalam perjalanan ini.
Write about your favourite song and share your memories associated with it.
Kau adalah belahan jiwa
Ku tau itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia di sepanjang nafasku
Tompi - Sedari Dulu
Lagu ini akan dan terus menjadi lagu favoritku karena aku suka cerita di balik lagu ini. Pertama kali mendengarkan lagu ini di televisi, di acara inbox ketika aku masih SD kelas 5, duduk di kursi pasien sambil menunggu antrean untuk periksa oleh dokter. Lagu ini yang menemani aku yang kala itu belum tahu sakit apa tapi setelah diperiksa dan di test darah ternyata aku mengalami gejala tipus.
Lagu itu masih terngiang-ngiang di telinga ketika perjalan pulang dan Mamah mengomel karena khawatir akan kondisi aku sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku merasa dikhawatirkan oleh Mamah dan rasanya senang sekali. Sekarang, setiap kali mendengar lagu ini, aku teringat betapa kecilnya aku dulu, tapi juga betapa besarnya cinta dan perhatian yang datang dari orang-orang terdekat. Lagu ini seperti pengingat bahwa di balik rasa sakit atau ketakutan, ada kehangatan yang membuat segalanya terasa lebih ringan, dan itu membuatku lebih menghargai momen-momen sederhana dalam hidup.
Monday, January 26, 2026
What is the first wish you want to make if you are granted three wishes?
Aku bakalan minta buat kasih jalan biar aku bisa keliling dunia. Mau gimana pun itu. Mau itu akunya dikasih rezeki yang melimpah, lewat beasiswa, atau dapet tiket gratis: yang penting bisa jalan-jalan keliling dunia.
Kenapa ngebet banget pengen keliling dunia? Ya penasaran aja sama budaya mereka, pola pikir masyarakatnya, adat istiadatnya, makanannya, tempat-tempatnya. Semua itu pengen aku pelajari dan jadi bahan renungan untuk aku sendiri. Dan sisanya aku bisa share melalui tulisan di blog ini.
What are the three things you are unable to let go of?
1. Lanjut sekolah
Impian untuk bisa melanjutkan sekolah masih terus menggebu walau belum benar-benar dieksekusi, tapi impian ini akan tetap menyala sampai kapanpun.
2. Menulis Diary
Dari sejak SD sampai sekarang gak bisa tuh meninggalkan satu hobiku ini. Mau dalam keadaan apapun tetap menulis di diary karena ini satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi dengan diri aku sendiri dan mengeluarkan semua yang isi kepala yang kusut dan berisik.
3. Tidur habis shubuh
Gak tahu kenapa ya rasanya enak aja gitu tidur habis shubuh. Walau sebenarnya ini gak boleh ya, tapi tetep aja dilakuin huhuu. Meski gak setiap hari tapi tetep aja intensitasnya cukup sering. Habis solat shubuh masih pakai mukena, terus tidur lagi deh. Heheheee.
Friday, January 23, 2026
Your inspiration
Inspirasi itu seperti angin: bisa datang dari mana saja, dan sering kali tiba-tiba, tanpa diundang. Kadang-kadang, ia muncul dari obrolan singkat dengan orang asing, atau saat aku bersepeda santai, melihat-lihat sekitar jalanan yang ramai, dan tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiran. Inspirasi juga bisa datang dari buku yang aku baca, video di YouTube yang menarik, atau bahkan saat aku asyik scrolling di media sosial. Ya, sumbernya memang tak terbatas, tapi untuk saat ini, inspirasi-inspirasi terbesar aku datang dari buku karya Brianna Wiest berjudul 101 Essays that Will Change the Way You Think.
Melalui buku ini, aku banyak merenung dan berefleksi tentang diri aku sendiri serta kehidupan aku. Setiap esai di dalamnya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang memaksa aku untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Siapa aku sebenarnya? Apa yang benar-benar aku inginkan dari hidup ini? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya membantu aku mencari tahu jawabannya, bukan dengan jawaban instan, melainkan melalui proses menulis dan dialog internal. Ini seperti terapi gratis: aku duduk sendirian, pena di tangan, dan menuangkan pikiran-pikiran yang selama ini tersembunyi.
Satu hal yang pasti, ketika inspirasi datang, aku selalu buru-buru mencatatnya. Tak peduli di mana aku berada atau media apa yang aku gunakan: apakah itu catatan di ponsel, buku harian, atau bahkan coretan di kertas bekas, aku langsung menuliskannya. Karena, aku tahu betul, inspirasi itu mudah sekali hilang jika tidak segera diabadikan. Pikiran kita kan seperti pasir yang licin; kalau tidak segera dipegang, ia akan luruh begitu saja.
Refleksi ini membuat aku sadar bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang harus dicari-cari, melainkan sesuatu yang harus kita siapkan diri untuk menangkapnya. Dengan membaca buku seperti ini, aku belajar untuk lebih terbuka terhadap dunia di sekitar aku. Dan siapa tahu, inspirasi berikutnya mungkin datang dari hal-hal sederhana yang aku lewatkan hari ini. Mari kita jaga agar api inspirasi itu terus menyala dengan mencatat, merenung, dan berbagi. Siapa tahu, inspirasi aku bisa menjadi inspirasi bagi orang lain juga.
What can you do to create an ideal world for yourself and others?
Dalam perjalanan hidup ini, aku sering merenung tentang apa yang bisa aku lakukan untuk membangun dunia yang lebih baik—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar aku. Dunia ideal bagi aku bukanlah utopia yang jauh dari jangkauan, melainkan sebuah realitas yang bisa kita wujudkan melalui langkah-langkah konkret. Salah satu jalan utama yang aku yakini adalah melalui pendidikan. Mengapa? Karena pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan fondasi untuk perubahan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ketika aku memikirkan kembali pengalaman pribadi aku, pendidikan telah menjadi pilar utama dalam hidup aku. Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, setiap pelajaran yang aku terima membuka pintu untuk mimpi-mimpi yang lebih besar. Namun, aku sadar bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama. Itulah mengapa aku percaya bahwa memprioritaskan pendidikan adalah langkah pertama. Kita harus menyamakan kualitas pendidikan bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan di Indonesia, pendidikan adalah hak setiap warga negara—bukan hak istimewa. Ini bukan hanya tentang keadilan, tapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih kuat dan inklusif.
Refleksi ini membuat aku bertanya-tanya: Bagaimana kita bisa mewujudkan ini? Aku ingat saat aku melihat teman-teman di desa yang kesulitan melanjutkan sekolah karena biaya atau fasilitas yang terbatas. Itu membuat aku sadar bahwa pendidikan yang merata bukanlah impian kosong, melainkan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran krusial di sini. Mereka harus mengutamakan kesejahteraan para pendidik—guru, dosen, dan tenaga kependidikan lainnya. Bayangkan jika guru-guru kita diberi gaji layak, pelatihan berkala, dan dukungan psikologis; pendidikan akan berjalan lebih efektif, dan siswa akan termotivasi untuk belajar.
Melalui pendidikan, kita bisa mengubah taraf kesejahteraan hidup kita secara fundamental. Aku percaya bahwa pengetahuan adalah kunci untuk membuka peluang kerja, inovasi, dan bahkan perdamaian dunia. Saat aku melihat bagaimana pendidikan telah mengubah hidup aku, dari seorang anak yang tadinya hampir putus sekolah menjadi seseorang yang bisa berkontribusi melalui mengajar di kelas. Tapi ini bukan hanya tentang aku; ini tentang kita semua. Mari kita refleksikan bersama: Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk mendukung pendidikan? Mulai dari mendukung kampanye literasi hingga mendorong kebijakan yang adil.
Dalam dunia yang penuh tantangan ini, pendidikan adalah cahaya harapan. Dengan memprioritaskannya, kita tidak hanya menciptakan dunia ideal untuk diri sendiri, tapi juga untuk generasi mendatang. Mari kita mulai dari sekarang.
Wednesday, January 21, 2026
![]() |
| Photo by Snapwire |
If I had the love I wanted, what would today look like?*
I am somewhat confused about this topic. as many thoughts are swirling in my mind. However, reflecting on it. I believe that of I had the love I desired, my day would be filled with happiness, routine, and deep emotional connection. Let me outline what a such a day might look like.
In the morning, I would wake up feeling content, seeing my partner beside me. I would kiss his forehead and say, "Good morning, honey," or perhaps he would do the same to me. We would pray shubuh together, fostering a sense of shared spiritually. He would then prepare for work while I got ready for breakfast. We would eat together, engaging in light conversation about our plans for the day. Before he left, he would kiss my forehead, leaving me with a warm feeling.
Throughout the day, I would tidy up our home, write on my blog about our love story, read a book to nurture my personal interests. In the evening, before he arrived home, I would send him a text saying, "Miss you." Upon his return, he might bring me a red flower as a small gesture of affection. After he showered, we would have dinner together, pray isya as a couple, and share stories from our day, strengthening our bond.
In conclusion, this idealized day represents the harmony and fulfillment that true love could bring. While I am still figuring out my feelings on this topic, it highlights the importance of emotional intimacy in daily life.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 138)
What is that one thing you have always wanted to do but could not?
Sebenarnya ini bisa dilakukan sih, tapi aku memilih untuk tidak karena banyak sekali pertimbangan. Apa itu? Jadi full time writer. Kenapa gak bisa? Karena ya butuh effort yang besar dan konsisten kan untuk bisa menghasilkan uang dari karya kita? Sementara di awal-awal dan ini udah jadi rahasia umum, pasti tulisan kita belum bisa menghasilkan uang. Pengen banget gitu jadi full time writer, diem di rumah, sesekali nulis di kafe, baca buku. Tapi untuk saat ini itu belum bisa. Aku masih perlu kerja yang lain untuk bisa menghidupi diri aku seorang. Jadi aku menulis hanya untuk sampingan dan menyalurkan hobi serta isi kepala yang berisik.
Kalau kamu gimana?
Tuesday, January 20, 2026
![]() |
| Photo by The masked Guy: |
Who from your past are you still trying to earn the acceptance of*
I know that there is still someone from my past whose acceptance I am trying to earn. This person is him: an individual I loved deeply during my senior high school years, despite his rejection and hurtful words. I often wonder why I loved him so much back then. Even though he said rude things to me, I never responded in kind. For example, he commented that my body was fat and covered in acne, and he bullied me constantly. My best friend repeatedly advised me to stop loving him, as he clearly never reciprocated my feelings.
I have been trying to talk to myself, urging myself to forgive that era or my life, forgive him, and accept my own foolishness in the past. However, it is incredibly difficult. In my heart, I still want to say the things I have never expressed to him before. Perhaps I need to confront these feelings:
I want to say: I hate you! I never really love you even in the past. I hate you. Really-really hate you! You are the worst thing that happened in my life. I hate you!
In conclusion, this unresolved emotion shows how past relationship can linger, affecting our present. While I strive for acceptance and forgiveness, the pain remains a challenge.
*) Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
How is your life today? Write three good things and three areas of improvement.
Hidup saat ini baik-baik saja. Meski jauh dari kata ideal bagi standar masyarakat kita, tapi aku tidak peduli. Aku tidak hidup untuk membungkam mulut mereka, karena itu di luar kendaliku jadi aku hanya akan fokus pada hal yang bisa aku kendalikan.
3 hal baik dalam hidupku
1. Masih bisa bekerja
Alhamdulillah masih bisa bekerja walaupun gajinya belum dua dijit ya. Hahaa. Tapi ini masih sangat aku syukuri, karena selain dapat gaji juga pekerjaan ini membantu aku untuk bisa improve skill aku di bagian mengajar dan bahasa Inggris.
2. Tinggal bersama orang tua
Meski selalu ada cek coknya tapi ya begitulah hidup bersama orang tua/keluarga. Aku bersyukur masih bisa tinggal bersama mereka di tengah-tengah perjuangan aku untuk bisa sembuh dari depressive episode.
3. Lingkungan kerja yang suportif
Aku sangat senang dan bersyukur karena lingkungan kerjaku saat ini sangat suportif, tidak saling sikut, dan hanya fokus pada pertumbuhan diri masing-masing. Selain itu, lingkungannya masih saling mengingatkan untuk ibadah.
3 hal yang harus aku tingkatkan
1. Skill bahasa Inggris aku.
Jujur skill bahasa Inggris aku masih mentok di level B1-B2. Mau ke C1 rasanya butuh effort yang besar, tapi aku tetap belajar agar bisa sampai ke level itu. Semangat
2. Belajar tentang sidehustle
Karena gajiku hanya cukup untuk makan, jajan dan kebutuhan pribadi, aku harus putar otak untuk bisa menambah penghasilan aku di jam pagi sampai siang. Saat ini aku sedang mencoba untuk melamar di luar zona nyaman aku: mengajar. Hihiii Semangat juga, Ihat.
3. Rajin olahraga dan makan sayur serta buah
Ini nih, masih harus terus ditingkatkan. Meski tiap pagi suka sepedahan, cuma intensitasnya harus ditambah setiap harinya ya. Biar badan sehat dan melepaskan stres atau emosi-emosi yang membelenggu hehheee. Makan sayur sama buahnya harus sering juga, okay.
Monday, January 19, 2026
![]() |
| Photo by Anna Shvets |
If you didn't have to work anymore, what would you do with your days?*
If I didn't have to work anymore, I would spend my days reading numerous books and writing on my blog. This question reminds me of one of my dreams: becoming a full time mom or housewife after getting married someday. I would quit my job, stay at home, take care of my children, read extensively, and continue writing on my blog. LOL
Besides that, I would take IELTS lessons, create basic English lesson videos, enjoy my mornings and evenings with a cup of coffee, get more sleep, read, and learn Qur'an as much as possible. These activities stem from my dreams and imagination, allowing me to purse personal growth and relaxation.
However, in reality, I love working and I think I can't live without it. For instance, during one- week holiday when I did whatever I wanted, I gradually became bored. Work provides structure and purpose to my life.
In conclusion, while my ideas days would focus on family, learning, and creativity, I value the balance that work brings.
What about you?
*) Brianna Wiest 101 Essays that Will Change the way You Think (p. 140)
![]() |
| Photo by Ricky Esquivel: |
Whom do you admire most, and why?*
The person I admire most is my former co-worker, whom I worked with during my time as a teacher. He embodies qualities such as kindness, firmness, and strong leadership, which have profoundly influenced my professional growth. I respect him deeply because he consistently respects my boundaries and always seeks my permission before taking any actions that might affect me. His guidance has been invaluable, providing me with numerous pieces if advice that helped me navigate challenges.
One aspect I particularly appreciate is his problem-solving approach. He always think carefully before making decisions, and he is not afraid to admit when he cannot do something if he does not fully believe in himself. His words often bring a sense of calm and relaxation, enabling me to face problems with greater confidence. Additionally, he frequently speaks positively about his wife, highlighting how well she treats him, even in front of students. Despite his knowledge, he remains humble and never arrogant. He led me patiently, offering many opportunities without interrupting my progress. When I made mistakes, he discussed them with me thoughtfully, allowing me to reflect and learn independently. This is my first time I have encountered someone so considerate and supportive.
In conclusion, meeting such as an individual has been a rare and inspiring experience. I hope to encounter similar people in the future workplace, as they motivate me to become a better version of myself.
*)Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Your long-forgotten hobby.
Menulis, membaca dan mendengarkan radio itu adalah hobi yang aku tekuni dari sejak SD sampai sekarang. Lalu hobi apa ya yang aku dulu lakukan dan sekarang udah enggak lagi? Bentar. Harus agak mikir dulu.
Kayaknya ini deh, main ke rumah temen. Iya, dulu pas zaman TK, SD sampai SMA seneng banget tuh main ke rumah temen. Pokoknya mau ngerjain apa-apa harus di rumah temen ampe pernah ikut tidur siang juga di rumah temen. Gak tahu deh, dulu gak betah banget di rumah. Pengennya main mulu, ketemu orang. Kalau sekarang boro-boro. Diajakin ngumpul atau ketemuan sama temen aja malesnya ampun. Mending diem aja di rumah, tidur walaupun diomelin sama orang tua tidur mulu, tapi ya dari pada kelayapan ke luar rumah ketemu orang banyak? No. Big no.
Untuk saat ini aku lebih banyak menikmati waktu ku seorang diri. Gak tahu kenapa, lagi seneng sama diri sendiri aja, lagi anteng. Dulu boro-boro. Habis beres mandi pagi, makan langsung nyamper tetangga. Hahahaa. Meski harus nunggu karena temen masih mandi juga ya aku tungguin aja. Pernah kena omel gegara masih pagi udah nyamper buat main. Wkwkkw. Tapi ya itu aku yang dulu, gak pernah betah di rumah.





Social Media
Search