Wednesday, December 17, 2025

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: A Guide Book to be a Beginner
Penulis : Luc Diana
Cetakan: Pertama, 2022
Penerbit: Brilliant 

Blurb

Pernah nggak kamu merasa 'Tiap hari kok ya gini ginii aja... Jenuh!', atau mungkin kamu berpikir, 'Kapan ya alur hidupku bisa semenarik film-film?' .
Wah... kalau begitu, kamu memang sedang mengalami kebosanan tingkat dewa. Kamu perlu mengganti atau menambah beberapa aktifitas dan rutinitas harianmu, agar hidupmu lebih mengensankan. Seperti belajar memasak, berenang, menyetir, serta masih banyak lagi. Ganti kegiatanmu yang membosankan dengan kegiatan penuh tantangan.
Dan, buku inilah yang akan mendampingimu selama masa transisi menjadi seorang pemula. Buku ini juga akan menjelaskan bagaiamna dan seperti apa serunya menjadi pemula.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Tidak perlu takut salah saat memulai hal baru. Karena hidup ini - sejatinya - adalah katalog kekeliruan. Kamu adalah sutradara sekaligus pemeran utama dalam hidupmu. So, yang menentukan alur ceritamu akan seru atau klise adalah dirimu sendiri.

Tiga Insight Utama

1. Menjadi pemula berarti berdamai dengan proses
Untuk menjadi pemula yang bahagia, kita perlu memahami bahwa tidak ada hal yang bisa langsung jadi. Tidak ada proses instan atau abrakadabra. Semua membutuhkan waktu, dan tugas kita adalah menikmati setiap tahapannya.

2. Banyak hal sederhana yang bisa dicoba tanpa harus sempurna
Memasak tidak harus sekelas MasterChef. Berenang berarti bermain air. Belajar menyetir cukup menjadi sopir amatir. Menari bisa membuat hati bahagia, bernyanyi di kamar mandi itu sah-sah saja, dan menjadi gitaris, meski baru bisa satu kunci, tetap terasa keren.

3. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi manusia bahagia
Usia bukan penghalang untuk memulai. Selama kita masih hidup, selalu ada ruang untuk mencoba dan bertumbuh.

Refleksi Pribadi

Dari buku ini, aku belajar bahwa di usia berapa pun, saat ada keinginan, lakukan saja. Jangan menunggu momen sempurna atau merasa benar-benar siap, karena pada hakikatnya kita tidak akan pernah sepenuhnya siap.

Mulailah dari hal yang paling mudah. Jangan terlalu ambisius untuk langsung bisa atau langsung jago. Nikmati setiap momen di tiap levelnya. Karena sejatinya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang langsung mahir dalam suatu bidang.

Sebelum menjadi ahli, mereka lebih dulu akrab dengan kegagalan, menikmati proses, dan memilih untuk tidak menyerah.

Penutup

Membaca buku ini seperti diingatkan kembali bahwa aku tidak perlu terburu-buru menjadi siapa-siapa. Tidak harus hebat hari ini, tidak harus rapi dari awal, dan tidak harus tahu semua jawabannya sekarang. Cukup hadir sebagai pemula yang mau belajar, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.

Di dunia yang sering menuntut kita untuk cepat, buku ini mengajakku melambat. Mengizinkan diri untuk tidak tahu, tidak bisa, dan belum mahir, tanpa harus merasa gagal. Karena ternyata, menjadi pemula bukanlah tanda ketertinggalan, melainkan bukti keberanian: berani memulai.

Dan mungkin, di fase hidupku saat ini, menjadi pemula adalah bentuk paling jujur dari mencintai diri sendiri.

Untuk kamu yang penasaran dengan isi buku ini, kamu bisa mendapatkan buku ini dengan klik link berikut ini.

Thursday, December 11, 2025

Dalam melakukan apa pun, aku selalu berusaha untuk sempurna. Aku sadar, kesalahanku adalah aku tak pernah mengizinkan diriku menjadi seorang pemula. Aku selalu membandingkan diriku dengan orang-orang yang sudah berada di level tertentu. Ketika hal itu terjadi dan aku mendapatkan pujian, rasanya senang bukan main. Tapi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanku, aku langsung marah dan merendahkan diriku sendiri serendah-rendahnya.

Sampai akhirnya aku lelah. Lalu aku bertemu dengan lingkungan yang mengingatkanku untuk mengizinkan diriku menjadi pemula. Untuk tidak melihat jalan orang lain, cukup fokus pada jalanku sendiri. Kalau aku masih berada di titik satu dan orang lain di titik lima, tentu tidak adil kalau aku terus membandingkan diriku dengan mereka.

Aku pernah ingin menjadi guru yang kompeten, istri yang baik, ibu yang baik suatu hari nanti, menantu yang baik, teman yang baik, anak yang baik, dan rekan kerja yang baik. Aku berusaha keras untuk semua itu. Namun, sekeras apa pun aku mencoba, akan selalu ada saja orang yang tidak setuju, tidak menyukai, atau menemukan celah dalam apa yang kulakukan. Akan selalu ada masalah yang muncul.

Sampai akhirnya aku sadar: aku harus berhenti memaksakan diri menjadi “orang baik” versi semua orang. Aku juga harus berhenti mengejar kesempurnaan. Kalau memang ada yang tidak suka, apakah harus dipaksa suka? Tidak. Jadi mulai sekarang, aku belajar untuk tidak menilai diriku berdasarkan apa yang orang sukai. Aku ingin lebih banyak mendengarkan diriku sendiri dan melakukan apa pun yang benar-benar ingin kulakukan.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang memenuhi ekspektasi siapa pun. Hidup ini tentang belajar pelan-pelan, tumbuh dengan ritmeku sendiri, dan menerima bahwa menjadi manusia berarti membuat kesalahan, jatuh, bangun lagi, dan terus berjalan. Aku ingin memberikan ruang bagi diriku untuk bernapas, belajar, salah, mencoba lagi, dan berkembang tanpa tekanan untuk selalu benar.

Aku ingin menapaki hidup dengan lebih ringan, tanpa harus terburu-buru mengejar standar orang lain. Mulai sekarang, aku memilih untuk menyayangi diriku apa adanya, dengan segala kekurangan, proses, dan perjalanan panjang yang masih terus berlangsung. Aku mungkin belum sampai ke mana-mana, tapi aku sedang menuju ke sana, dengan langkah-langkah kecil yang tulus.


Love,

Ihat

Monday, December 08, 2025

Malam itu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, disusul teriakan sumpah serapah dari seorang Ibu. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi jelas sekali: setiap kali anak itu menangis, si Ibu yang tampaknya sudah kelelahan terus mengeluarkan kata-kata kasar.

“Anjing.”

“Goblog.”

“Kamu itu anak saya. Harusnya kamu sayang sama saya!”

Aku sempat melihat sekilas. Si Ibu sedang mengepel bagian luar rumahnya. Sepertinya anaknya menjatuhkan sesuatu hingga tumpah dan membasahi lantai. Ia masih sangat muda, mungkin usianya jauh di bawahku, namun beban hidup yang ia tanggung terasa begitu berat.

Aku terdiam mendengar semuanya. Di satu sisi aku bisa merasakan bahwa dia lelah, mungkin kewalahan, mungkin tidak punya dukungan. Tapi di sisi lain, batinku ikut perih membayangkan apa yang dirasakan anak itu jika ia sudah bisa berkata-kata. Mungkin ia ingin bertanya:

“Bu… kalau Ibu belum siap jadi Ibu, kenapa harus punya anak? Kenapa melahirkan aku ke dunia? Aku tidak pernah meminta itu…”

Malam itu aku belajar sesuatu lagi. Bahwa memilih untuk menikah itu penting. Memilih untuk punya anak secara sadar itu jauh lebih penting. Kita sering diberi tahu bahwa cinta cukup, tapi tidak. Untuk membangun rumah tangga dan membesarkan anak, cinta saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu, kedewasaan, kesiapan mental, dan ruang untuk bertumbuh.

Memang benar, tidak ada manusia yang benar-benar siap sepenuhnya. Tapi setidaknya, ada yang dipersiapkan. Ada kesadaran. Ada tanggung jawab yang diterima tanpa paksaan.

Bukan lagi karena ekspektasi keluarga.

Bukan karena desakan budaya.

Bukan karena ingin membungkam omongan tetangga.

Aku jadi teringat perkataan rekanku yang sudah menikah, lalu bercerai, dan kini membesarkan anaknya seorang diri:

“Nikmati dulu waktu singlenya. Lakukan apa yang kamu suka. Jangan menikah hanya karena sudah gerah dengan omongan orang. Omongan mereka tidak akan pernah selesai. Bahkan setelah menikah pun, akan ada omongan lain. Menikahlah hanya kalau memang kamu sadar memilih itu dan siap dengan segala konsekuensinya.”

Malam itu, dari balik dinding rumah orang lain, aku belajar tentang kehidupan. Tentang luka yang diwariskan. Tentang tanggung jawab yang sering diambil tanpa benar-benar dipahami. Dan tentang betapa berharganya keputusan-keputusan besar yang seharusnya dibuat dengan hati yang sadar, bukan hati yang takut.


Love,

Ihat

Sunday, December 07, 2025

Sebenarnya sudah hampir 2-3 minggu aku hiatus dari menulis reflektif di blog, apalagi sejak  aku didiagnosa dan harus menjalani konseling dengan psikiater. Awalnya aku marah dan sulit  menerima kondisi itu. Namun entah mengapa, setelah aku mencoba berdamai dengan semuanya, perlahan perjalanan hidup ini terasa penuh dengan jeda. Penuh tarikan napas panjang,  penuh dengan hal-hal kecil yang terus menerus mengajak aku untuk berhenti sejenak, dan terus mengajak aku untuk memperlambat langkah. 

Ada banyak sekali momen yang mungkin bagi sebagian orang itu kecil, tapi menurutku itu besar. Momen-momen yang mengetuk hati dan terus memaksaku kembali melihat diri sendiri dengan lebih jujur. 

Aku belum bisa cerita tentang kondisi detailnya kepada kalian. Yang jelas, saat ini aku tidak lagi denial bahwa aku memang sedang tidak baik-baik saja, sedang berobat ke psikiater, dan terus melakukan terapi menulis. 

 1. Apa tiga hal besar yang paling memengaruhi emosiku minggu ini, dan bagaimana aku meresponnya?

Tiga hal besar yang paling memengaruhi emoski minggu ini adalah hubungan dengan orang tua yang semakin terbuka sehingga membuat aku lebih cepat mengerti dan menerima masa lalu. Lalu tulisan jahil seorang teman yang entah mengapa berhasil membuat hatiku terenyuh walaupun aku tahu itu ia tidak benar-benar menuliskannya, dan rasa kesal saat seseorang mulai melewati batas yang sudah aku tetapkan. 

2. Pelajaran penting apa yang Allah ingin tunjukkan kepadaku melalui minggu ini?

Minggu ini aku kembali menjalani konseling lagi ke psikiater. Entah mengapa, seharian setelah konseling itu rasanya lelah. Dari situ aku belajar satu hal: Allah sedang mengajari aku untuk bisa lebih berempati dan lebih sayang sama diri sendiri. Semua perasaan itu valid dan aku belajar untuk bisa menerima sekaligus merasakannya tanpa menghakimi diri.

Selain itu, aku juga sadar kalau aku tidak bisa menjadikan kondisiku saat ini sebagai alasan aku untuk berleha-leha atau mencari pembenaran. Meski aku tahu, aku tak bisa sefokus atau semaksimal dulu. Kini aku sedang belajar untuk hidup dalam mode "biasa-biasa saja." Aku lelah selalu berusaha menjadi yang terbaik. Jadi untuk saat ini, tugasku adalah hanya menjalankan tanggung jawab sebaik yang aku bisa, tanpa membenani diri dengan ekspektasi berlebih yang aku buat sendiri. Let yourself be a beginner.

3. Bagian mana dari diriku yang tumbuh, berubah, atau mulai kusadari sepanjang minggu ini?

Jika minggu-minggu sebelumnya aku merasakan numb, semuanya terasa abu-kelabu, kini perlahan entah mengapa seperti ada kepakan sayap kupu-kupu yang menari di dalam kepalaku. Aku mulai tersentuh oleh hal-hal kecil yang dulu, sewaktu aku kecil belum sempat aku nikmati. 

Misalnya, diantar jajan ke alun-alun oleh Bapak, membeli es krim dan memakan bersama keluarga, atau membeli ayam goreng yang bisa dimakan tanpa nasi bersama keluarga. Sederhana, tapi menghangatkan hati. Walau aku tahu, berbicara soal uang tidak ada habisnya, tapi aku tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan esok hari untuk aku bisa berkumpul dan menghidupkan haarapan-harapan diriku sewaktu kecil yang belum bisa diraih. 

4. Interaksi atau hubungan mana yang paling membekas minggu ini, dan mengapa?

Hubungan dengan kedua orang tua. Mereka bercerita soal masa lalu, tentang bagaimana mereka dulu dan alasan kenapa mereka memperlakukan aku begitu. Tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. 

Aku belajar untuk menerima seluruh kebaikan dan kekurangan mereka. Belajar untuk memahami bahwa dalam hidup semuanya datang dengan satu paket. Baik dengan buruknya, lebih dan kurangnya, cinta dan juga benci, bahagia dan juga tangis. Aku sudah menurunkan semua ekspektasi aku tentang orang tua yang dari dulu aku bangun. Tidak ada orang tua yang sempurna. Begitupun aku sebagai anak: tidak ada anak yang sempurna. 

5. Apa satu langkah kecil yang ingin aku lakukan minggu depan agar hidupku lebih selaras dengan diri dan Tuhanku?

Aku ingin bangun lebih pagi dan bisa bercengkrama dengan Tuhanku. Aku ingin berdoa agar suatu saat nanti aku bisa lepas dari obat-obat ini, berolahraga di pagi hari, dan mensyukuri setiap nafas yang telah diberikan-Nya. 

Aku tidak ingin lagi membebani diri dengan ekspektasi-ekspektasi yang terlalu tinggi, tidak ingin menyalahkan rencana-Nya yang jauh lebih indah dari apa yang sudah aku rancang sendiri, serta ingin terus belajar rendah hati dalam menerima dan menjalani apa yang sudah ditetapkan-Nya. 


Sekarang giliran kamu, bagaimana kamu berhasil melalui minggu ini?

Love,

Ihat

What would you say if you could tell every single person in the world just one thing?

This morning, I got that question from 101 Essay that will Change the Way You Think written by Brianna Wiest

If I could tell every single person in the world just one thing, I would say:

“Let people have their space. Let them have their own time.”

There are many people in this world who can respect our choices. For example, when someone needs a moment alone or wants to sit quietly in a corner, others simply let them be without asking too many questions. They understand that needing space doesn’t mean pushing people away.

But in my case, it’s different.

When I take a step back or sit alone for a while, people around me think I’m avoiding them because I’m upset or I hate them. They misunderstand my silence. And in the end, I’m forced to sit in the same room again, pretend everything is fine, and ignore my own need for breathing space.

I don’t like that feeling.

Why is this person so bossy? Why does she feel the need to tell everyone that I “have a problem”? I just needed a moment. I just needed space. But she keeps making it bigger, louder, and more complicated than it is.

At work, there are days when I simply need to be by myself. To recharge, to breathe, to think. But it seems like they never understand that. They always want everyone to gather in the same room, no matter what.

And honestly… it’s exhausting.


-Ihat-

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi