WTHTS 007 : Finding Purpose in A New Chapter of Life ft. Dina Isnatin Nadiah

doc. pribadi

Setelah menikah, Dina Isnatin Nadiah memasuki babak baru dalam kehidupannya. Hari-harinya kini diisi dengan mengurus rumah, kuliah, mengurus suami, dan mencoba berbagai hal baru. Dengan waktu luang yang lebih banyak dari yang pernah ia bayangkan, Dina mulai mencari kesibukan yang tidak hanya mengisi waktunya, tetapi juga memberikan pengalaman dan pencapaian baru. Untuk kamu yang penasaran dengan akun TikTok Dina, kamu bisa berkunjung ke dynsyifa.

Setelah menikah, seperti apa kehidupan sehari-hari yang kamu jalani?

Setelah menikah, kehidupan sehari-hariku sebenarnya nggak sepadat yang dulu pernah aku bayangkan. Keseharianku ya beres-beres, kuliah, mengurus suami, dan sisanya lebih banyak waktu luang.

Jujur, awalnya aku sempat berpikir, “Kayaknya setelah menikah bakal padat banget, bakal susah ini, susah itu.” Tapi ternyata aku justru enjoy menjalaninya. Disclaimer dulu, ini karena aku belum punya anak ya. Mungkin ceritanya akan berbeda lagi ketika sudah masuk fase itu.

Karena banyak waktu luang, di awal-awal menikah aku malah cukup sering nonton drakor. 😭 Sampai akhirnya aku merasa jenuh juga. Biasanya selalu ada kesibukan, sedangkan sekarang justru aku yang harus mencari kesibukan.

Dari situ aku mulai berpikir, sayang banget kalau masa muda cuma dilewati begitu saja. Aku ingin lebih banyak mencari pengalaman, berani mencoba hal-hal baru, dan punya sesuatu yang bisa aku capai.

Setelah merasa membutuhkan kesibukan, apa yang kemudian kamu coba?

Akhirnya, aku dan suami mencoba membuka usaha makaroni.

Awalnya aku pikir, “Ah, kayaknya bisa nih. Tinggal nawarin ke warung-warung.” Apalagi dulu aku pernah punya pengalaman jualan juga waktu di pesantren, jadi rasanya nggak akan terlalu sulit.

Ternyata… di lapangan beda banget dari yang aku bayangkan. 😂

Begitu masuk tahap menyuplai barang, aku malah sempat mengalami mental block. Ternyata menawarkan produk ke warung itu nggak sesederhana yang aku pikir.

Ada yang menerima dengan baik, tapi ada juga yang menolak karena sudah banyak produk serupa, tokonya sepi, atau memang belum tertarik. Bahkan ada yang cuma melihat sekilas tanpa benar-benar melirik produk kita. Kalau ditambah intonasi yang agak ketus, jujur mental juga bisa langsung ciut.

Tapi alhamdulillah, di balik itu banyak juga yang menerima dengan baik. Sampai akhirnya kami berhasil punya sekitar 10 toko yang bisa kami suplai.

Kupikir setelah mendapatkan toko, berarti bagian tersulit sudah selesai. Ternyata belum. 😂

Ketika kami mulai sortir dan mengecek barang, ternyata ada produk yang habis, ada yang masih banyak, bahkan ada yang cuma terjual dua pcs. Karena produknya makanan, mau nggak mau yang tidak terjual harus diganti dengan barang baru.

Nah, di situ kami mulai benar-benar merasakan tantangan bisnis yang sebenarnya.

Kami mulai bingung dengan alurnya, apalagi saat itu suami juga mulai sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya perputaran modal dan keuntungan jadi tidak sesuai harapan. Modal terus keluar, sementara keuntungan belum terasa.

Apa yang kamu pelajari dari pengalaman menjalankan bisnis tersebut?

Setelah kami evaluasi, ternyata memang banyak yang masih kurang dari kami. Kami kurang riset, kurang memahami alur bisnisnya, pengalaman juga masih minim, dan yang paling terasa adalah kami belum punya mentor yang bisa membimbing.

Akhirnya untuk sementara bisnisnya kami keep dulu. Kami memilih fokus ke karier suami sambil menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran.

Tapi setelah itu, aku kembali merasa, “Aku mau punya achievement apa lagi, ya?”

Aku merasa masih punya banyak waktu dan energi yang sayang kalau hanya dilewatkan begitu saja.

Lalu, bagaimana akhirnya kamu memutuskan untuk mencoba menjadi TikTok affiliator?

Sampai suatu hari aku sering melihat konten tentang orang-orang yang mendapatkan penghasilan dari affiliate, bahkan ada yang sampai bisa membeli rumah dari hasil affiliate.

Jujur, siapa sih yang nggak mau punya penghasilan lebih? Siapa yang nggak mau punya rumah? 😂

Dari situ aku berpikir, “Kayaknya ini bisa dicoba.”

Apalagi pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Jadi aku berpikir, kalau suatu saat nanti aku sudah punya anak pun, semoga aku tetap bisa menjalankan pekerjaan ini dari rumah dan tetap punya sesuatu yang bisa aku kembangkan.

Awalnya aku juga denial banget. Dalam hati, “Emang bisa?”

Tapi akhirnya aku coba juga. Aku mulai di akhir tahun 2025. Pelan-pelan belajar, mencoba, bikin konten, belajar lagi, dan terus mencoba.

Bagaimana rasanya ketika akhirnya mendapatkan penghasilan pertama dari affiliate?

Sampai akhirnya aku mengalami momen pecah telur pertama kali.

Komisinya memang cuma Rp2.300.

Tapi aku bangga banget. Aku langsung bilang ke suami, “Ternyata bener ada yang beli. Aku kira nggak bakal ada yang tertarik.” 😂

Apalagi sebelumnya hampir sebulan aku belum mendapatkan hasil apa-apa. Jadi ketika akhirnya ada satu transaksi, walaupun cuma Rp2.300, rasanya senang banget.

Karena buat aku, itu bukan soal nominalnya, tapi tentang pembuktian kalau ternyata aku memang bisa.

Selama menjalani affiliate, apa saja tantangan yang kamu hadapi?

Kalau soal down, jangan ditanya. Ada terus. 😂

Ada masa aku merasa, “Ini beneran bisa nggak sih?” Ada masa lihat konten orang lain yang hasilnya sudah jauh lebih besar, terus jadi membandingkan diri sendiri.

Tapi aku coba tetap jalan dan belajar. Sampai akhirnya alhamdulillah, perlahan hasilnya mulai meningkat. Dari yang awalnya sekitar Rp100 ribu sebulan, kemudian naik menjadi sekitar Rp500 ribu, sampai akhirnya bisa mencapai Rp1 juta lebih.

Jujur, aku sendiri kadang masih nggak nyangka.

Yang awalnya cuma coba-coba karena merasa punya banyak waktu luang, ternyata bisa berkembang sejauh ini. Dan yang lebih bikin aku bersyukur, bukan cuma soal penghasilannya. Aku juga mulai dipercaya oleh seller-seller untuk berkolaborasi dengan aku.

Dari situ aku semakin merasa bahwa setiap proses kecil yang aku jalani ternyata ada hasilnya. Mungkin belum besar, mungkin masih jauh dari yang aku lihat di media sosial, tapi setidaknya aku sudah membuktikan ke diri sendiri bahwa aku bisa mulai dari nol dan berkembang sedikit demi sedikit.

Apa yang membuatmu tetap bertahan ketika prosesnya tidak selalu berjalan sesuai rencana?

Tapi perjalanan ini ternyata belum sampai di situ. Setelah mulai mendapatkan hasil, tantangannya justru terus berjalan.

Di dunia perkontenan, ada saja ujiannya. Mulai dari rasa malas edit, kesulitan mengatur waktu, sampai masalah sinyal yang kadang benar-benar menghambat.

Pernah ada masa di mana sinyal susah banget, sampai akhirnya hampir semua akses nggak bisa dijalankan kecuali aku harus keluar ke daerah lain.

Dan jujur, emosi pasti ada. Kadang aku sampai menyalahkan keadaan, karena di kepala aku sudah punya target, “Aku harus take sekian konten, supaya bisa posting sekian.”

Tapi kenyataannya nggak selalu sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan.

Ditambah lagi, kadang aku masih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Lihat orang lain sudah sampai mana, terus muncul rasa insecure dan berpikir, “Kok aku masih di sini-sini aja, ya? Orang lain sudah sampai sini, sudah bisa itu, sedangkan aku belum.”

Sampai akhirnya aku merenung dan teringat satu kalimat:

“Jangan sebut dirimu gagal, kalau yang kamu bandingkan adalah awalmu dengan puncak orang lain.”

Dan menurutku, ada benarnya juga.

Mungkin memang tugasku sekarang bukan untuk melihat seberapa jauh orang lain sudah melangkah, tapi fokus sama langkahku sendiri. Tetap berjalan, tetap bersyukur, terus mengevaluasi konten, belajar, dan berkembang sedikit demi sedikit.

Karena aku percaya, trust the process. Nggak semua usaha langsung kelihatan hasilnya, tapi aku yakin nggak ada usaha yang benar-benar sia-sia.

Apa arti fase kehidupan ini untukmu?

Buat Dina, fase setelah menikah ternyata bukan hanya tentang menjalani kehidupan rumah tangga. Ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri, mencoba hal baru, dan menemukan sesuatu yang bisa ia banggakan.

Dari mencoba bisnis makaroni, menghadapi penolakan, mengalami kegagalan, sampai akhirnya mencoba TikTok affiliate, semuanya menjadi bagian dari proses belajar.

Dan mungkin, pencapaian terbesar bukan hanya ketika komisinya mencapai angka tertentu, tetapi ketika ia akhirnya bisa berkata kepada dirinya sendiri, “Ternyata aku bisa.”

Refleksi

Terkadang kita melihat kehidupan orang lain dan merasa rumput di halaman mereka jauh lebih hijau daripada halaman kita sendiri. Seperti pepatah dalam bahasa Inggris, “The grass is always greener on the other side.”

Kita melihat orang lain yang sudah memiliki pencapaian, penghasilan, karier, atau kehidupan yang terlihat lebih menarik, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan apa yang sedang kita jalani.

Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak selalu tahu proses, kegagalan, keraguan, dan perjuangan yang ada di balik pencapaian tersebut.

Cerita Dina mengingatkan kita bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Tidak semua proses harus langsung menghasilkan sesuatu yang besar. Kadang, satu transaksi kecil, satu keberanian untuk mencoba, atau satu langkah sederhana sudah menjadi pencapaian yang berarti.

Mungkin daripada terus melihat rumput di halaman orang lain, kita bisa mulai merawat halaman kita sendiri.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang memiliki “rumput paling hijau”, tetapi tentang bagaimana kita terus merawat, menikmati, dan mensyukuri halaman yang sedang kita tumbuhkan

Post a Comment

0 Comments