![]() |
| doc. pribadi |
Wow, so I have one question. The question is: Can you recall a moment when you expressed your inner child's creativity through drawing, music, or storytelling? What emotions did you experience?
Kurang lebih, mungkin dalam bahasa Indonesia seperti ini, ya: "Bisakah kamu mengingat kembali momen ketika kamu mengekspresikan kreativitas inner child kamu, baik itu melalui gambar, musik, atau bercerita? Perasaan apa yang kamu rasakan saat itu?"
Wow, it's a deep question, ya!
For me, I usually express my inner child's creativity through storytelling and writing. Gak cuma writing aja sih. Telling stories directly to someone also helps me a lot. Tapi aku juga nggak bisa sembarang cerita ke semua orang.
Perasaan yang aku rasakan biasanya kayak aku bisa bercerita seluas itu dan ngomongnya juga lancar aja gitu. I don't know why, but it gives me a sense of relief. Aku nggak tahu kenapa, tapi ada perasaan lega yang muncul setelah aku bercerita atau menulis. Itu adalah salah satu hal yang sering aku cari ketika aku bercerita ke orang lain atau menuangkan perasaanku lewat tulisan.
Tapi, kalau menurut aku, kelegaan yang benar-benar deep itu bisa aku rasakan melalui tiga hal.
First, through writing. Aku bisa mengekspresikan diriku dengan bebas tanpa merasa dihakimi ataupun dibully. I can express myself without worrying about being judged by others.
Second, by talking to someone I truly trust. Aku bisa menceritakan apa yang aku rasakan kepada orang yang benar-benar aku percaya. Buat aku, orang tersebut bukan cuma harus bisa mendengarkan, tetapi juga bisa memberikan feedback tentang apa yang aku rasakan saat itu. Not only validation, but also a different perspective that helps me understand my feelings better. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda supaya aku nggak terus-terusan menyalahkan diriku sendiri.
And lastly, of course, by talking to Allah.
Kalau misalnya aku udah benar-benar nggak tahu harus bagaimana, aku udah nggak bisa menulis, atau udah cerita ke orang lain tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal, aku akan cerita kepada Allah.
Even though my conversations with Allah are not always formal, I still feel comfortable talking to Him. Misalnya, ketika aku lagi duduk diam atau sedang melakukan sesuatu, tiba-tiba aku ingin bercerita kepada Allah tentang hal-hal kecil yang aku rasakan. Jadi, nggak harus selalu dalam keadaan formal atau melalui doa yang panjang.
But I'm sure that Allah listens to me.
Sampai sekarang, aku masih menulis dan masih bercerita kepada orang-orang yang benar-benar aku percaya. Orang-orang yang bukan cuma mau mendengarkan, tetapi juga bisa memberikan feedback yang membantuku memahami apa yang sedang aku rasakan.
Because sometimes, I don't just need validation. Aku juga butuh seseorang yang bisa membantuku melihat situasi dari perspektif yang berbeda, supaya aku nggak selalu menyalahkan diriku sendiri atas segala sesuatu yang terjadi.
And I think that's what storytelling means to me. It's not just about expressing my feelings, but also about finding relief, understanding myself better, and learning not to be too hard on myself.
.png)
0 Comments