Catatan Refleksi 116 : Learning To Walk Slowly

doc. pribadi


Hallo. Selamat hari Senin. Selamat kembali beraktivitas!

Seharusnya aku menulis refleksi ini pada hari Minggu kemarin, tetapi karena sejak Minggu aku mengalami migrain yang belum juga mereda, akhirnya aku baru bisa menulis refleksi mingguan ini hari ini.

Hari ini aku izin tidak masuk mengajar di les karena sakit kepala sebelahku belum juga membaik. Aku pun memilih untuk melakukan bekam sore ini dengan harapan semoga kondisiku bisa berangsur membaik.

Kadang, ada perasaan bersalah ketika aku tidak masuk mengajar karena otomatis aku tidak mendapatkan penghasilan. Apalagi, aku sedang berusaha untuk tetap produktif dan memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Tapi, ya, mau bagaimana lagi kalau kondisi tubuh sedang tidak stabil? Aku juga perlu belajar menerima bahwa ada kalanya aku memang harus berhenti sejenak, meskipun ada banyak hal yang ingin aku kerjakan.

Well, talking about last week ... Hmm, ada banyak hal yang bisa aku syukuri.

Pertama, alhamdulillah, aku sudah gajian! Walaupun gajiannya sedikit karena terpotong satu minggu tidak masuk kerja, tapi sekali lagi, alhamdulillah karena aku masih punya penghasilan. Aku masih diberi kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan rezeki dari sana. Rasanya, di tengah kondisi yang belum sepenuhnya stabil ini, hal-hal sederhana seperti menerima gaji tetap menjadi sesuatu yang patut aku syukuri.

Kedua, aku bersyukur karena bisa makan enak di mall dan pergi berobat ke psikiater. Dua hal yang mungkin terlihat sederhana, tetapi cukup berarti untukku. Aku senang karena masih bisa menikmati makanan yang enak dan tetap mengusahakan pengobatan untuk diriku sendiri.

Ketiga, alhamdulillah, efek dari obat yang aku konsumsi kini mulai terasa. Aku sudah bisa tidur tanpa isi kepala yang riuh seperti sebelumnya. Rasanya lega sekali ketika akhirnya aku bisa beristirahat tanpa harus berhadapan dengan begitu banyak pikiran yang terus berputar di kepala. Aku tahu perjalananku masih panjang, tetapi setidaknya ada satu hal yang mulai membaik, dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur.

Apalagi, ya? Aku lupa. 

Mungkin memang ada beberapa hal yang sudah tidak bisa aku ingat dengan baik sekarang. Dan ternyata, itu juga menjadi salah satu tantangan yang harus aku hadapi minggu kemarin.

Aku mudah lupa, mudah mengantuk, sulit fokus, dan mudah lelah. Ya Allah, ternyata sakit mental itu benar adanya, ya. Dampaknya bukan hanya soal perasaan sedih atau pikiran yang berisik, tetapi juga bisa memengaruhi bagaimana aku menjalani aktivitas sehari-hari.

Sometimes, I'm sad with my new condition now.

Aku yang dulu bisa dengan mudah mengingat banyak hal dan menyimpannya dalam waktu yang lama, sekarang justru sering lupa akan sesuatu yang baru saja aku lakukan. Ada kalanya aku merasa kesulitan untuk mengingat sesuatu dengan baik, padahal sebelumnya aku merasa tidak pernah mengalami kesulitan seperti ini.

Satu waktu, aku pernah marah kepada diriku sendiri karena lupa akan sesuatu dan tidak bisa mengingatnya kembali dengan baik. Aku kesal karena rasanya aku kehilangan salah satu kemampuan yang dulu begitu aku andalkan.

Namun, setelah itu, aku meminta maaf kepada diriku sendiri.

Aku sadar bahwa selama ini aku terlalu sering menuntut diriku untuk selalu bisa melakukan banyak hal. Aku terbiasa menjadi seseorang yang aktif, terbiasa mengingat banyak hal, terbiasa menyelesaikan pekerjaan, dan terbiasa memaksakan diri meskipun sebenarnya sudah kelelahan.

Lalu, ketika sekarang aku tidak bisa melakukan semuanya seperti dulu, aku justru marah kepada diriku sendiri.

Padahal, bukankah sekarang kita sedang sama-sama berjuang untuk melewati masa-masa ini?

Aku dan diriku sedang belajar menerima kondisi baru ini dengan segenap hati. Aku sedang belajar memahami bahwa ada hal-hal yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa aku lakukan. Ada hal-hal yang perlu aku ulangi karena aku lupa. Ada pekerjaan yang harus aku tunda karena tubuhku tidak cukup kuat untuk menyelesaikannya hari ini.

Dan itu tidak apa-apa.

Setidaknya, aku ingin mulai belajar mengatakan itu kepada diriku sendiri tanpa harus merasa bersalah setelahnya.

Dari sana, aku belajar bahwa mungkin aku memang sudah tidak bisa sesibuk dan seaktif dulu. Kini, semuanya terasa seperti berjalan merangkak. Hal-hal yang dulu bisa aku selesaikan dengan cepat, sekarang membutuhkan lebih banyak waktu dan energi.

Sedih, sih. Kadang aku juga merasa iri ketika melihat orang lain bisa melakukan banyak hal, mengejar impian mereka, dan mencapai sesuatu yang saat ini belum bisa aku capai.

Namun, di tengah perasaan itu, aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri.

Emangnya kamu mau ke mana sampai harus buru-buru seperti itu?

Emangnya Allah menyuruhmu melakukan begitu banyak hal sampai kamu kembali menyakiti dirimu sendiri?

Kan, enggak.

Lalu, kenapa kamu masih memperlakukan dirimu seolah-olah kamu harus selalu berlari?

Bukankah selama ini kamu sudah berusaha begitu keras?

Bukankah sekarang kamu sedang belajar untuk pulih?

Mungkin, inilah saatnya aku belajar memahami bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang bisa aku kerjakan atau seberapa cepat aku mencapai sesuatu. Ada kalanya hidup juga tentang bagaimana aku bisa tetap bertahan, menjaga diriku sendiri, dan menjalani hari dengan kemampuan yang aku miliki saat ini.

Aku tidak harus selalu menjadi versi diriku yang paling produktif untuk bisa merasa berharga.

Aku tidak harus selalu punya pencapaian baru untuk membuktikan bahwa hidupku berjalan dengan baik.

Dan aku tidak harus memaksakan diri untuk mengikuti kecepatan orang lain ketika Allah sedang memberiku kesempatan untuk belajar berjalan dengan lebih perlahan.

Mungkin, untuk saat ini, tugasku bukan berlari lebih cepat, melainkan belajar berjalan tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

Aku sadar bahwa aku harus memperlakukan diriku dengan lebih lembut lagi, tidak sekasar dulu. Aku ingin belajar menjadi tempat yang aman bagi diriku sendiri, terutama ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Ketika aku lupa, aku ingin belajar untuk tidak langsung marah.

Ketika aku lelah, aku ingin belajar untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Ketika aku belum bisa mencapai sesuatu, aku ingin belajar untuk tidak membandingkan perjalanan hidupku dengan perjalanan orang lain.

Dan ketika aku merasa sedih dengan kondisiku sekarang, aku ingin memberikan ruang bagi diriku untuk merasakan kesedihan itu tanpa harus berpura-pura baik-baik saja.

Karena ternyata, menerima kondisi diri sendiri bukan berarti aku harus selalu merasa baik-baik saja dengan keadaan ini. Ada kalanya aku masih sedih, kecewa, bahkan iri dengan kehidupan orang lain. Namun, aku ingin belajar bahwa perasaan-perasaan itu tidak harus membuatku membenci diriku sendiri.

Aku boleh bersedih, tetapi aku juga ingin tetap menyayangi diriku.

Aku boleh merasa tertinggal, tetapi aku tidak ingin terus-menerus menganggap diriku gagal.

Aku boleh berjalan lebih lambat, tetapi aku tidak ingin melupakan bahwa aku juga sedang berusaha.

Ya Allah.

Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan kepadaku minggu ini. Terima kasih karena di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Engkau masih memberiku kesempatan untuk bekerja, menikmati makanan yang enak, mendapatkan pengobatan, dan merasakan sedikit kelegaan ketika pikiranku mulai lebih tenang.

Aku tahu masih banyak hal yang perlu aku pelajari dalam perjalanan ini. Salah satunya adalah belajar menerima bahwa kehidupanku mungkin tidak akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan.

Aku juga menyadari bahwa masih ada rasa iri dalam diriku ketika melihat pencapaian orang lain yang belum bisa aku raih. Terkadang, aku sedih melihat mereka bisa melangkah lebih jauh, sementara aku harus belajar memperlambat langkahku karena kondisi yang sedang aku hadapi.

Namun, ya Allah, aku tidak ingin terus-menerus terjebak dalam perasaan itu.

Aku ingin belajar memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Apa yang sedang orang lain capai bukan berarti sesuatu yang telah Engkau tetapkan untukku menjadi lebih sedikit atau kurang berharga.

Aku hanya sedang berada di fase kehidupan yang berbeda.

Mungkin sekarang aku memang perlu lebih banyak beristirahat. Mungkin sekarang aku perlu lebih fokus merawat diriku sendiri daripada mengejar begitu banyak hal. Dan mungkin, ada pelajaran yang hanya bisa aku pahami ketika aku tidak lagi sibuk berlari ke sana kemari.

Ya Allah, bantu aku untuk menerima segala ketentuan-Mu. Ajari aku untuk tetap bersabar dan ikhlas atas apa yang telah Engkau tetapkan untukku.

Ketika aku mulai membandingkan hidupku dengan kehidupan orang lain, ingatkan aku bahwa aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjalanan mereka. Dan ketika aku mulai merasa tertinggal, bantu aku untuk kembali melihat perjalanan hidupku sendiri dengan lebih jernih.

Ajari aku untuk percaya bahwa melambat bukan berarti kehilangan kesempatan. Beristirahat bukan berarti menyerah. Dan belum bisa melakukan banyak hal hari ini bukan berarti aku tidak akan bisa melakukan apa pun di kemudian hari.

Aku ingin belajar bertawakal tanpa terus-menerus mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Aku ingin belajar berikhtiar sesuai dengan kemampuanku, tanpa memaksakan sesuatu yang justru membuatku kembali kehilangan diriku sendiri.

Sebab, pada akhirnya, aku juga ingin sampai pada tujuan-tujuan hidupku dalam keadaan yang baik, bukan hanya sampai dengan membawa tubuh dan pikiran yang kelelahan.

Aku ingin menikmati prosesnya, bukan hanya sibuk mengejar hasil akhirnya.

Aku ingin belajar menerima diriku yang sekarang, tanpa terus-menerus merindukan diriku yang dulu.

Dan aku ingin percaya bahwa meskipun langkahku saat ini terasa lambat, aku tetap bisa menjalani hidup dengan penuh makna.

Bukankah bisa jadi sesuatu yang kita anggap baik ternyata buruk menurut Allah? Dan bisa jadi sesuatu yang kita anggap buruk justru menyimpan kebaikan menurut-Nya?

Allah Maha Mengetahui, sementara kita tidak.

Maka, mungkin yang perlu aku lakukan sekarang adalah tetap berusaha, merawat apa yang telah Allah titipkan kepadaku, dan belajar menerima hal-hal yang belum bisa aku pahami hari ini.

Aku tidak tahu bagaimana perjalanan ini akan berlangsung ke depannya. Aku juga tidak tahu kapan kondisiku akan membaik sepenuhnya.

Namun, untuk saat ini, aku ingin belajar menjalani hari demi hari dengan lebih lembut. Tidak terburu-buru, tidak terlalu keras kepada diri sendiri, dan tidak terus-menerus mengukur hidupku berdasarkan pencapaian orang lain.

Pelan-pelan saja, ya.

Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.

Semoga Allah senantiasa membimbing langkahku, menguatkan hatiku, dan mengajariku untuk menerima setiap ketentuan-Nya dengan lapang dada.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

0 Comments