WTHTS 011 : When the Mountains Become a Place to Rest ft Annisa Rizqi Rahmawati

doc. pribadi

Annisa Rizqi Rahmawati, S.Pd., Gr. lahir dan besar di Bandung. Saat ini, ia sedang meniti karier sebagai guru Bahasa Indonesia. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, Annisa juga menemukan ketenangan melalui sebuah hobi yang mungkin bagi sebagian orang cukup menantang: naik gunung.

Bagi Annisa, mendaki bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Di antara jalur pendakian, suara angin, pepohonan, dan bentang alam yang luas, ia justru menemukan ruang untuk berhenti sejenak dari segala kebisingan di kepalanya.

Ketika kata-kata tidak lagi diperlukan

Sebagai guru Bahasa Indonesia, kamu terbiasa mengolah kata-kata untuk menyampaikan sesuatu. Tapi ketika emosi sedang penuh, apa yang kamu temukan di gunung yang tidak bisa kamu ungkapkan lewat kata-kata?

Ketika emosi lagi penuh, hal yang biasa aku lakukan setelah menenangkan diri adalah menulis. Menuangkan sekaligus mengurai emosi yang dirasakan melalui media kata. Biasanya, aku jauh lebih tenang setelah itu.

Tapi belakangan, saat aku mulai suka naik gunung, aku menemukan ketenangan lain. Ketenangan yang membuat aku nggak perlu pusing merangkai kata atau mencari diksi yang tepat untuk mengungkapkannya.

Karena entah mengapa, setiap aku menapakkan kaki di jalur pendakian, bising di kepala mendadak hilang. Rasanya kosong. Kosong yang damai.

Untuk sesaat, aku merasa jadi manusia tanpa beban yang bisa tertawa tanpa perlu khawatir masalah atau hal yang menanti esok hari.

Ruang untuk berhenti sejenak

Kapan kamu mulai menyadari bahwa naik gunung bisa menjadi cara untuk me-release emosi? Ada pengalaman tertentu yang membuat kamu merasa, “ternyata aku membutuhkan ini”?

Momen pastinya aku lupa. Tapi yang jelas, di pendakian ke sekian, aku sadar bahwa forest bathing and grounding really works on me.

Aku merasa bebas dan tenang hanya dengan sepoi angin dan bising penghuni hutan. Dari situ aku mulai memahami bahwa mungkin selama ini aku memang butuh ruang untuk berhenti sejenak dari bising di kepala tanpa harus menjelaskan apa pun.

Oh iya, aku juga suka banget lihat awan. Ketika lihat lautan biru di atas kepala, ada selalu keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik aja.

Kembali dengan kesadaran yang berbeda

Setelah turun dari gunung dan kembali menjalani kehidupan sebagai guru, apa yang biasanya berubah dalam dirimu, cara melihat masalah, menghadapi emosi, atau bahkan cara berinteraksi dengan murid?

Sejujurnya nggak ada yang berubah secara signifikan. Masalah tetap ada, kesibukan tetap sama.

Bahkan di hari-hari paling melelahkan, aku akan tetap meledak dan berharap bisa melarikan diri ke gunung. Tapi justru itu poinnya.

Aku selalu mendamba ketenangan yang gunung berikan. Karena setiap kali dihadapkan dengan bentang alam yang luar biasa, aku selalu ingat kuasa Sang Pencipta.

Aku bahkan selalu berpikir, “Betapa kita ini kerdil di antara gunung-gunung yang menjulang dan langit yang terbentang.”

Setelah punya kesadaran itu, biasanya aku bisa lebih tenang menghadapi masalah yang ada. Karena toh, aku punya Dia yang Maha Segalanya. Kenapa harus khawatir, kan?

Refleksi

Dari pengalaman Bu Annisa, kita bisa melihat bahwa mendaki gunung tidak selalu tentang mencapai puncak, mendapatkan foto yang indah untuk diunggah ke media sosial, atau sekadar mengikuti tren.

Bagi sebagian orang, perjalanan menuju gunung justru menjadi perjalanan untuk kembali kepada diri sendiri.

Bu Annisa menemukan sesuatu yang mungkin sulit ia dapatkan dalam kesehariannya sebagai guru: ruang untuk berhenti tanpa harus menjelaskan apa pun. Jika biasanya ia menggunakan kata-kata untuk mengurai emosi, di gunung ia justru menemukan ketenangan tanpa perlu merangkai satu kata pun.

Ada sesuatu yang menarik dari caranya menemukan ketenangan. Ia tidak mengatakan bahwa masalahnya hilang setelah mendaki. Kesibukan tetap ada, masalah tetap menunggu, dan bahkan rasa lelah pun masih mungkin membuat emosinya kembali penuh.

Namun, mungkin ketenangan tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Terkadang, ketenangan adalah ketika kita kembali mengingat bahwa diri kita hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Di antara gunung yang menjulang dan langit yang terbentang, Bu Annisa menemukan kembali kesadaran tentang kebesaran Sang Pencipta. Dan dari sana, ia belajar untuk tidak terlalu khawatir menghadapi hal-hal yang belum tentu bisa ia kendalikan.

Mungkin pada akhirnya, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menemukan ruang bernapas. Ada yang menemukannya melalui tulisan, percakapan, doa, atau bahkan perjalanan menuju tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan.

Bagi Bu Annisa, ruang itu ada di antara pepohonan, jalur pendakian, sepoi angin, dan langit yang luas.

Dan mungkin, yang ia cari bukanlah gunungnya semata, melainkan perasaan tenang yang membuatnya kembali percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

0 Comments