Perhaps, This Season is For Me

By Solihat - November 02, 2026

This morning, I thought about my age. I'm 29 now, entering the last year of my twenties before turning 30 next year, inshaAllah.

Last night, I received the news that one of my elementary school friends, Desi, had passed away. She was only 31 years old.

This news made me stop for a moment and think about life. What are we truly chasing in this dunya while sometimes forgetting about our akhirah?

Selama ini, kita begitu sibuk mengejar banyak hal. Mengejar karier, pendidikan, pasangan, pengakuan, dan kehidupan yang dianggap ideal oleh masyarakat. Sometimes, we are so busy chasing what we don't have that we forget to appreciate what Allah has already given us.

We make so many plans for tomorrow as if we are guaranteed to be here to see it.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu yang Allah berikan kepada kita untuk hidup di dunia ini. Kita punya banyak mimpi yang ingin diwujudkan, banyak tempat yang ingin dikunjungi, dan banyak hal yang ingin dicapai. Namun, pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya.

And that makes me wonder, what truly matters in the end?

Aku tahu, di usiaku sekarang, beberapa anggota keluargaku mulai sering menanyakan soal pasangan, pekerjaan, dan hal-hal lainnya. Alhamdulillah, aku sudah mulai berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sudah tidak terlalu tersinggung ketika ditanya soal pasangan atau kapan akan menikah.

However, I still feel offended when people ask me about my career.

Mungkin karena sebagian besar keluargaku masih menganggap PNS sebagai standar tertinggi sebuah pekerjaan. Seolah-olah ketika seseorang sudah menjadi PNS, kehidupannya otomatis lebih mapan dan lebih berhasil dibandingkan mereka yang memilih jalan lain.

Sometimes, I wonder whether they truly understand how much I've been through just to get to where I am today.

Mereka mungkin hanya melihat keadaanku sekarang tanpa benar-benar mengetahui bagaimana aku berjuang melewati berbagai hal dalam hidupku. They may not see the battles I've had to fight within myself just to keep going.

Sekarang, aku sedang belajar memahami bahwa keberhasilan tidak selalu harus dibuktikan melalui jabatan, status pekerjaan, atau seberapa besar penghasilan yang kita dapatkan.

Sometimes, success is simply having the courage to start over, choosing our well-being over other people's expectations, and learning to live a life that feels right for us.

Aku masih belajar tentang itu, dan tidak apa-apa kalau sekarang aku belum memiliki semua jawabannya.

Di sisi lain, kalau bicara tentang pernikahan, sebenarnya jauh di lubuk hatiku masih ada perasaan sedih yang terkadang muncul.

When will it be my turn? Kapan giliranku tiba untuk menikah? Kapan giliranku tiba untuk dipinang oleh seseorang?

Jujur, terkadang aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi cerita setiap hari, seseorang yang bisa menjadi tempat pulang setelah melewati hari-hari yang melelahkan.

I think it's human to wonder about these things. Even when we've made peace with our circumstances, it doesn't mean we never feel lonely or wish for something different.

Aku bisa bersyukur atas kehidupanku sekarang sekaligus tetap berharap suatu hari nanti Allah mempertemukanku dengan seseorang yang tepat. I can trust Allah's timing and still have moments when I wonder about my own.

Mungkin, berdamai dengan keadaan bukan berarti kita tidak lagi memiliki keinginan. Kita hanya sedang belajar agar keinginan itu tidak mengambil alih seluruh kebahagiaan yang sebenarnya sudah bisa kita rasakan hari ini.

But then, minggu lalu, setelah bertemu dengan seorang teman dan bercerita tentang pernikahan, aku kembali memikirkan hal ini.

Ternyata, pernikahan tidak sesederhana menemukan seseorang yang mencintai kita, melangsungkan akad, lalu hidup bahagia selamanya. Ada banyak lika-liku yang harus dihadapi. Ada dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, luka, dan cara berpikir yang berbeda yang harus belajar berjalan bersama.

Marriage is beautiful, but it also comes with responsibilities, compromises, and challenges.

Setelah mendengar cerita itu, aku mulai berpikir bahwa mungkin untuk saat ini, perjalanan hidupku memang sedang dikhususkan untuk diriku sendiri terlebih dahulu.

Maybe this is the season for me to get to know myself more deeply, to make peace with my past, and to learn how to forgive the people and experiences that have shaped me.

Mungkin sekarang adalah waktunya aku mengenali luka-luka yang selama ini kubawa, memahami diriku dengan lebih baik, dan perlahan melepaskan hal-hal yang sudah terlalu lama membebani pikiranku.

Bukan berarti aku harus sembuh sepenuhnya sebelum pantas dicintai. Aku tahu bahwa proses mengenal dan menyembuhkan diri tidak akan pernah benar-benar selesai. Akan selalu ada hal baru yang kita pelajari tentang diri sendiri, bahkan ketika suatu hari nanti kita sudah menikah.

But perhaps, before sharing my life with someone else, I need to learn how to be present in my own life first.

Aku ingin mengenali apa yang kubutuhkan, apa yang kupercaya, dan seperti apa hubungan yang terasa aman bagiku. Aku ingin belajar membedakan mana yang benar-benar kuinginkan dan mana yang selama ini kulakukan hanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain.

I want to stop abandoning myself just because I'm afraid of disappointing others or being rejected.

Mungkin, selama ini aku terlalu sibuk berusaha menjadi seseorang yang bisa diterima oleh orang lain sampai terkadang lupa bertanya kepada diriku sendiri, What do I really want? What kind of life do I actually want to live?

And perhaps, that's what this season is trying to teach me.

Perhaps, this season is for me.

Mungkin untuk saat ini, musimku memang tentang diriku sendiri.

Tentang belajar mendengarkan isi hati tanpa terus-menerus membandingkan perjalanan hidupku dengan perjalanan orang lain.

Tentang membangun kembali hubungan yang lebih baik dengan diriku sendiri setelah bertahun-tahun berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.

Tentang memaafkan diriku yang dulu, yang mungkin belum tahu bagaimana cara melindungi dirinya sendiri, yang sering merasa tidak cukup baik, dan yang terkadang terlalu keras kepada dirinya hanya karena ingin diterima.

I want to make peace with my past, not because everything that happened was okay, but because I no longer want those experiences to define the rest of my life.

Aku ingin belajar menikmati hal-hal sederhana yang selama ini mungkin sering kulewatkan. Menikmati pagi yang tenang setelah Subuh, menghirup udara segar, membaca buku, menulis di jurnal, menghabiskan waktu bersama orang tua, dan melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa bahwa hidup masih memiliki banyak keindahan.

I want to stop rushing through life just because I feel like I'm running out of time.

Aku tidak ingin terus-menerus merasa tertinggal hanya karena kehidupanku tidak berjalan sesuai dengan apa yang orang lain anggap ideal.

Being single doesn't mean my life is incomplete. Not achieving certain things at a particular age doesn't mean I've failed.

Masih banyak hal yang ingin kulakukan. Masih ada mimpi yang ingin kuwujudkan, ilmu yang ingin kupelajari, dan pengalaman yang ingin kurasakan.

Aku masih ingin memiliki karier yang bermakna. Aku masih ingin menikah suatu hari nanti. Aku masih ingin merasakan bagaimana rasanya membangun keluarga bersama seseorang yang memiliki visi kehidupan dan nilai-nilai yang sama denganku.

But I also want to learn how to enjoy my life now without constantly waiting for those things to happen.

Aku tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai garis akhir dari segala pencarianku. Aku tidak ingin menganggap bahwa hidupku baru akan dimulai ketika seseorang datang dan memilihku.

I want to build a meaningful life, not because I'm trying to prove something to others, but because I want to live in a way that aligns with my values and brings me closer to Allah.

Aku ingin menjalani hidup yang sudah Allah berikan kepadaku hari ini dengan sebaik-baiknya. Aku ingin belajar mencintai tanpa kehilangan diri sendiri, mengejar mimpi tanpa mengorbankan kesehatan, dan berusaha tanpa melupakan bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kendaliku.

And if marriage is something Allah has written for me, I hope I will welcome it with a heart that is willing to learn, love, and grow.

Bukan karena aku membutuhkan seseorang untuk melengkapi diriku, melainkan karena aku ingin berbagi kehidupan dengan seseorang yang juga bersedia untuk terus bertumbuh bersama.

Sampai waktu itu tiba, aku ingin tetap bertumbuh. Aku ingin merawat tubuh dan jiwaku sebagai amanah dari Allah. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan-Nya, belajar menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah, dan menggunakan waktu yang masih diberikan kepadaku untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Because at the end of the day, this dunya is not our final destination. One day, we will all return to Allah.

Dan ketika aku kembali memikirkan kepergian Desi, aku merasa diingatkan bahwa aku tidak ingin menghabiskan waktu yang kumiliki hanya untuk mencemaskan hal-hal yang belum berhasil kucapai.

I want to be more present in the life I'm living now.

Aku ingin lebih menghargai orang-orang yang masih Allah izinkan untuk membersamaiku. Aku ingin menjaga diriku dengan lebih baik, memperbaiki hubunganku dengan Allah, dan tidak terlalu sibuk mengejar kehidupan yang kuinginkan sampai lupa mensyukuri kehidupan yang sedang kujalani.

Aku masih berusia 29 tahun. InsyaAllah, tahun depan aku akan menginjak usia 30 tahun.

I don't know what my life will look like in the next five years. Aku tidak tahu kapan aku akan menikah, bagaimana perjalanan karierku, atau hal-hal apa saja yang masih harus kulewati.

But perhaps, I don't need to have all the answers right now.

Mungkin aku hanya perlu terus berjalan, satu hari dalam satu waktu, sambil percaya bahwa Allah mengetahui apa yang belum bisa kulihat.

Aku tidak harus memiliki perjalanan hidup yang sama dengan orang lain agar kehidupanku bermakna. Aku tidak harus mencapai semua hal pada usia tertentu untuk membuktikan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik.

I just need to keep trying, keep learning, and trust that some things take time.

Ah, entahlah. Pikiranku pagi ini benar-benar kalang kabut.

Kalang kabut dengan kepergian teman di usia yang masih muda. Kalang kabut dengan kenyataan bahwa hidup ternyata begitu singkat. Kalang kabut dengan diriku sendiri yang, mau tidak mau, harus belajar memperlambat langkah dan memberikan perhatian lebih kepada diriku sendiri.

But maybe I don't have to figure everything out this morning.

Mungkin aku hanya perlu duduk sejenak bersama perasaan-perasaan ini, membiarkannya hadir, dan mengambil pelajaran dari apa yang sedang kurasakan.

Aku tidak tahu kapan giliranku menikah. Aku tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan kumiliki di masa depan. Aku bahkan belum tahu akan menjadi seperti apa diriku ketika menginjak usia 30 tahun nanti, insyaAllah.

But for now, I want to keep growing.

Aku ingin terus belajar memaafkan, menerima, dan melepaskan hal-hal yang memang sudah tidak bisa kuubah. Aku ingin berhenti memandang kehidupanku melalui ukuran keberhasilan orang lain. Aku ingin belajar bahwa tidak semua hal harus terjadi sekarang, dan tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban.

Untuk saat ini, aku ingin menjalani kehidupanku dengan lebih sadar. Aku ingin mencintai dengan lebih tulus, memaafkan dengan lebih lapang, dan berhenti menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencemaskan apakah hidupku sudah sesuai dengan ekspektasi orang lain.

I want to make myself a home.

Tempat di mana aku tidak perlu membuktikan apa pun untuk merasa cukup. Tempat di mana aku bisa mengakui kesedihan tanpa merasa lemah, merayakan pencapaian kecil tanpa membandingkannya dengan pencapaian orang lain, dan beristirahat tanpa merasa bersalah.

Tempat di mana aku bisa menerima diriku sebagai manusia yang masih terus belajar, masih memiliki kekurangan, dan masih membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap langkahnya.

Perhaps, this season is not about waiting for someone to come and make my life complete. Perhaps, it's about learning to come home to myself, while remembering that my ultimate home is with Allah.

Mungkin, musim ini bukan tentang menunggu seseorang datang untuk melengkapi kehidupanku.

Mungkin, musim ini adalah tentang belajar kembali kepada diriku sendiri, sambil terus mengingat bahwa pada akhirnya, kepada Allah-lah aku akan kembali.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments