If you didn't have to work anymore, what would you do with your days?*
If I didn't have to work anymore, I would spend my days reading numerous books and writing on my blog. This question reminds me of one of my dreams: becoming a full time mom or housewife after getting married someday. I would quit my job, stay at home, take care of my children, read extensively, and continue writing on my blog. LOL
Besides that, I would take IELTS lessons, create basic English lesson videos, enjoy my mornings and evenings with a cup of coffee, get more sleep, read, and learn Qur'an as much as possible. These activities stem from my dreams and imagination, allowing me to purse personal growth and relaxation.
However, in reality, I love working and I think I can't live without it. For instance, during one- week holiday when I did whatever I wanted, I gradually became bored. Work provides structure and purpose to my life.
In conclusion, while my ideas days would focus on family, learning, and creativity, I value the balance that work brings.
What about you?
*) Brianna Wiest 101 Essays that Will Change the way You Think (p. 140)
Whom do you admire most, and why?*
The person I admire most is my former co-worker, whom I worked with during my time as a teacher. He embodies qualities such as kindness, firmness, and strong leadership, which have profoundly influenced my professional growth. I respect him deeply because he consistently respects my boundaries and always seeks my permission before taking any actions that might affect me. His guidance has been invaluable, providing me with numerous pieces if advice that helped me navigate challenges.
One aspect I particularly appreciate is his problem-solving approach. He always think carefully before making decisions, and he is not afraid to admit when he cannot do something if he does not fully believe in himself. His words often bring a sense of calm and relaxation, enabling me to face problems with greater confidence. Additionally, he frequently speaks positively about his wife, highlighting how well she treats him, even in front of students. Despite his knowledge, he remains humble and never arrogant. He led me patiently, offering many opportunities without interrupting my progress. When I made mistakes, he discussed them with me thoughtfully, allowing me to reflect and learn independently. This is my first time I have encountered someone so considerate and supportive.
In conclusion, meeting such as an individual has been a rare and inspiring experience. I hope to encounter similar people in the future workplace, as they motivate me to become a better version of myself.
*)Brianna Wiest 101 Essays that will Change the way You Think (p. 140)
Your long-forgotten hobby.
Menulis, membaca dan mendengarkan radio itu adalah hobi yang aku tekuni dari sejak SD sampai sekarang. Lalu hobi apa ya yang aku dulu lakukan dan sekarang udah enggak lagi? Bentar. Harus agak mikir dulu.
Kayaknya ini deh, main ke rumah temen. Iya, dulu pas zaman TK, SD sampai SMA seneng banget tuh main ke rumah temen. Pokoknya mau ngerjain apa-apa harus di rumah temen ampe pernah ikut tidur siang juga di rumah temen. Gak tahu deh, dulu gak betah banget di rumah. Pengennya main mulu, ketemu orang. Kalau sekarang boro-boro. Diajakin ngumpul atau ketemuan sama temen aja malesnya ampun. Mending diem aja di rumah, tidur walaupun diomelin sama orang tua tidur mulu, tapi ya dari pada kelayapan ke luar rumah ketemu orang banyak? No. Big no.
Untuk saat ini aku lebih banyak menikmati waktu ku seorang diri. Gak tahu kenapa, lagi seneng sama diri sendiri aja, lagi anteng. Dulu boro-boro. Habis beres mandi pagi, makan langsung nyamper tetangga. Hahahaa. Meski harus nunggu karena temen masih mandi juga ya aku tungguin aja. Pernah kena omel gegara masih pagi udah nyamper buat main. Wkwkkw. Tapi ya itu aku yang dulu, gak pernah betah di rumah.
Write about that one movie or book or incident that drastically changed your life.
Dari sekian film ataupun buku yang pernah nemenin aku, tetep hanya satu film dan buku-buku ini yang berhasil mengubah hidup aku: Laskar Pelangi. Film dan juga tetralogi bukunya berhasil membuat aku memiliki sudut pandang yang baru mengenai pendidikan tinggi bagi orang yang kurang secara finansial. Film dan buku ini juga berhasil membakar semangat aku kala aku tengah hampir putus asa untuk bisa berkuliah S1 kala itu karena tidak memiliki biaya. Berbekal cerita Ikal dan kawan-kawan yang bisa berkuliah sampai ke Paris, akhirnya mematahkan omongan orang-orang yang bilang bahwa aku gak bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang serba kurang. Namun tidak ada yang mustahil bagi Allah. Selama aku berusaha dan bertekad, akhirnya aku bisa berkuliah. Walau sambil bekerja dan mengambil kelas karyawan, aku sangat mensyukuri momen tersebut. Karena setelah disadari, banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan sampai ke S1.
Buku ini juga yang sampai sekarang terus menginspirasi aku yang masih memiliki mimpi untuk melanjutkan study. Bismillah ya. Jangan pantang menyerah.
Imagine yourself stranded alone in an unknown land. How does it look?
Gak bisa ngebayangin sih gimana jadinya. Terdampar di sebuah negeri yang aku sendiri gak kenal udah pasti langkah pertama yang akan aku cari adalah rumah ibadah. Mau agama apapun itu karena satu hal yang aku yakini, semua rumah ibadah itu adalah aman. Tempat yang aman. Habis itu baru nanya ama orang sekitar mau pake bahasa isyarat sekalipun yang penting ada orang yang bisa dikenal dan bantu kita buat bisa stay di sana atau ke luar dari negeri tersebut. Karena aku bisa bahasa Inggris, bisa ngebantu sih kalau mereka bisa ngobrol Inggris. Dari sini aku mikir, ternyata penting juga buat belajar bahasa lain ya. Walau belajar buat mantepin bahasa Inggris saja aku masih butuh effort yang luar biasa. Ya namanya juga bahasa gak bisa satu hari lu cas cis cus ngomong kan?
Habis itu gimana ya? Entahlah aku juga gak bisa bayangin. Yang jelas dua hal itu yang akan aku lakukan. Hahahaa.