Even if it wasn't your fault, it is your problem, and you get to choose what you do in the aftermath. You have every right to rage and rant and hate every iota of someone's being, but you also have the right to choose to be at peace. To thank them is to forgive them, and to forgive them is to choose to realize that the other side of resentment is wisdom. To find wisdom in pain is to realize that the people who become "supernovas" are the ones who acknowledge their pain and then channel it into something better, not people who just acknowledge it and then leave it to stagnate and remain.
-Brianna Wiest-*
Hai, kak!
Apa kabar? Udah lama ya gak bersua. Kabar gue baik di sini. Gue harap kabar kakak baik-baik aja di sana.
Kak, gue tahu kejadiannya udah lama banget. Tapi satu hal yang sampai saat ini pengen gue tanya ke Kakak.
Kakak dulu anggap gue apa?
Kayaknya kalau sebatas hubungan adik-kakak gak deh. Kakak sering nanya kabar gue tiap hari, kirim gue sms tiap pulang sekolah sampe malem sebelum gue bobo. Bahkan tetep bela-belain balas sms-sms gue di saat lo lagi sakit parah. Gue tahu kakak tertutup banget sama semua orang, tapi kenapa sama gue Kakak bisa cerita apapun?
Kak lo tahu gak? Selama kakak sering sms gue, ngabarin gue, perasaan gue itu kacau balau. Seneng? Udah pasti. Takut? Iya. Kenapa takut? Karena gue tahu kakak udah ada yang punya. Kakak sendiri yang bilang kalau hubungan kakak sama pacar kakak lagi gak baik-baik aja. Tapi kenapa larinya malah ke gue?
Gue saat itu gak cukup berani dan tegas buat soal perasaan. Gue cuma menikmati secuil perhatian yang kakak kasih. Padahal kalau di sekolah, Kakak akan kembali perhatian dan dekat dengan pacar Kakak.
Sampai kemudian tak perlu menunggu waktu lama, kabar kedekatan kita tersebar. Dan pacar Kakak bilang,
"Bagus dong kalau gue putus dari Andre. Andre bisa jadian sama Nita."
Rasanya menusuk dan gue takut jadi perusak hubungan orang.
Meski pada akhirnya itu gak pernah terjadi. Kakak putus sendiri sama pacar Kakak tanpa menjadikan gue pacar Kakak setelahnya. Karena pada saat itu gue juga udah muak sama Kakak.
Kak tahu gak? Hal yang paling bikin gue seneng selama sekolah itu kalau udah papasan sama Kakak di tangga, terus Kakak senyum. Duh, udahlah hati gue meleleh dan jantung gue dagdigdug luar biasa. Atau pada saat gue masih di kelas dan Kakak lewat ke kelas gue lalu senyum dari balik jendela kelas. Rasanya luar biasa senang.
Tiap kali Kakak kirim sms atau bantuin tugas-tugas gue, rasanya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Senang aja. Oh iya, gue masih inget waktu gue pinjem buku tertentu dan Kakak kasih pinjem buku itu di parkiran. Kakak tahu gak sewaktu gue bawa buku itu dan balik ke kelas? Gue senyum-senyum sendiri sepanjang jalan udah kayak orang gila! Hahahaaa.
Kak, gue harap lo gak gitu lagi ya. Lo harus tegas sama perasaan lo sendiri. Jangan sampai lo gak nyaman sama pasangan lo terus lo malah nyari kenyamanan itu di orang lain. Dan egoisnya lo juga pada akhirnya gak mau memperjuangkan kenyamanan yang lo dapat itu kan?
Udah gue cuma mau bilang itu aja.
Gue maafin lo Kak. Semoga, Kakak bahagia selalu di sana.
Dan buat diri gue yang dulu masih bego dan gak paham soal boundaries, dari diri gue saat ini: gue maafin semua kealfaan lo. Gue faham lo juga dulu ada sisi egoisnya tapi lo gak sadar sama signs yang dia berikan. Harusnya lo dulu cut off dia aja daripada perasaan lo tambah tumbuh sementara dia tetep balik sama pacarnya. Ok, yang lalu sudah berlalu, gue juga gak bisa terus terjebak di sana dan menyesali semua yang terjadi. Gue maafin kesalahan diri gue di masa lalu dan gue mau melangkah ke arah yang lebih baik lagi.
Thank you Kak udah baik, egois, sekaligus jahat sama gue. Dari lo, gue belajar bahwa saat diri lo cuma jadi pilihan kemungkinannya hanya ada dua: diperjuangkan atau ditinggalkan. Dan gue gak mau lagi jadi pilihan. Gue cuma mau jadi tujuan yang selamanya akan terus diperjuangkan.
*) 101 Essays That Will Change The Way You Think (p.170)


