![]() |
| Photo by Maria Geller |
Hari itu sebenarnya aku cuma ingin perjalanan tenang. Aku udah capek banget dan perjalanan kereta selalu jadi waktu terbaik untuk menyendiri, dengerin playlist, atau tidur selama perjalanan. Apalagi naik kereta eksekutif! Tapi semua rencana itu berantakan begitu aku sampai di gerbong.
Seseorang sudah duduk di kursi yang tertera pada tiketku.
"Permisi, maaf Ma.." kataku, hampir menyebut Mas sampai akhirnya aku terlalu cepat untuk menyadari bahwa orang itu... "Daffa? Daff? Ini kursi aku."
Aku mulai kesal. "Tapi ini kan kursi aku, pindah ih."
"Ya udah sih, santai aja. Kursi kan cuma kursi. Udah di sana aja duduk."
"Ih gak mau." Kataku kesal.
"Ini temen SMA, Kak." Lanjut dia nunjuk aku sambil menoleh ke samping ujung dekat jendela. Rupanya dia pergi bersama Kakaknya. Aku hanya menoleh sebentar kepada Kakaknya itu tanpa senyuman sedikitpun.
Aku mencoba menahan diri, tapi rasanya kayak semua energi buruk hari itu terkumpul di detik itu juga. Bukannya berdebat lebih jauh, aku langsung duduk di kursi sebelahnya—yang memang harusnya itu kursinya dia!





