![]() |
| doc. pribadi |
Siapa diriku saat ini adalah...
Aku adalah orang yang sangat mudah lelah.
Sensitif.
Sulit tidur.
Dan terakhir aku didiagnosis depressive episode berat oleh psikiater.
Diriku saat ini adalah orang yang sulit untuk bisa menerima kenyataan tentang dirinya sendiri.
Seseorang yang masih memandang bahwa angka-angka adalah simbol dari kesuksesan.
Seseorang yang diam-diam masih mengukur harga diri dari pencapaian.
Hingga tanpa sadar melupakan bahwa akhirat adalah tujuan akhir dari semua perjalanan ini.
Kemudian ayat ini kembali mengingatkanku,
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18)
Astaghfiurllah.
Jadi selama ini apa yang membuat hatimu risau, hat?
Apa yang membuat pikiranmu berkecamuk hingga sulit untuk bisa memejamkan mata di malam hari?
Apakah karena pencapaian-pencapaian seusiamu yang ditampilkan di layar ponsel?
Apakah karena kamu merasa tertinggal?
Jika iya, mengapa mimpimu menjadi begitu pendek?
Mengapa ia hanya sebatas kebahagian dunia yang sesaat, dan bukan akhirat yang kekal?
Aku tahu, kamu marah dengan kondisimu saat ini. Karena secara tidak langsung kondisimu saat ini mengubah banyak hal dalam dirimu.
Kamu jadi mudah lelah.
Sulit berkonsentrasi.
Lebih sensitif.
Dan sering memandang segala sesuatu dari sisi yang paling gelap.
Kamu marah karena kamu tak bisa lagi berlari sekencang dulu.
Kamu merasa tertahan.
Merasa tertinggal.
Tapi coba tengok lagi, apa yang sudah kamu lakukan pada dirimu hingga tubuh dan jiwamu berakhir seperti ini?
Bukankah selama ini kamu terlalu keras?
Terlalu memaksa?
Terlalu mendengar ego dan ambisi, tapi jarang benar-benar mendengar isi hati?
Jangan-jangan ini bukan hukuman.
Jangan-jangan ini adalah panggilan.
Panggilan untuk memperbaiki niat, arah, dan juga untuk mendengar diri kamu sendiri lebih jernih lagi. Bukan egomu, bukan nafsumu. Tapi hatimu yang paling dalam.
Aku tahu, ini tak mudah bagi aku. Bagi orang yang kompetitif seperti aku. Yang terbiasa bergerak cepat, yang terbiasa mengukur diri dari pencapaian. Kini harus terbiasa belajar untuk menerima bahwa yang namanya hidup ada fasenya, ada masanya, ada waktunya.
Ada masanya berlari.
Ada masanya berhenti.
Ada masanya diuji agar kembali diluruskan.
Mungkin dengan ujian ini, Allah ingin mengingatkan aku bahwa aku hidup bukan hanya untuk mengejar angka-angka yang tidak pernah ada habisnya, bukan untuk memuaskan ego yang tak pernah bisa benar-benar kenyang.
Tapi Allah ingin agar aku hidup membawa makna dan manfaat sehingga bisa menyelamatkan aku di akhirat nanti. Dengan niat yang tulus, bukan karena urusan dunia lagi.
Ya Allah, bantu aku melewati fase ini. Bantu aku untuk melawan ego serta hawa nafsuku sendiri. Ingatkan aku selalu bahwa pencapaian dunia tak ada artinya jika hatiku tak pernah ditautkan kepada-Mu atau jika tujuanku hanya ingin membuat egoku puas. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri di tengah gemerlap dunia yang menipu ini, jauhkan aku dari pencapaian-pencapaian dunia yang bisa membuatku jauh dari Mu.
Dan jika fase ini adalah cara-Mu untuk menyelamatkanku, maka kuatkan aku untuk menjalaninya dengan sabar.
Karena mungkin, di Ramadan tahun ini yang perlu aku perbaiki bukan daftar targetku, tetapi hatiku.
.png)


