Book Insight #7: 3 Things I Learned from Alasan untuk Tetap Hidup

doc. pribadi

Identitas Buku

Judul: Alasan untuk Tetap Hidup (Reasons to Stay Alive)
Penulis: Matt Haig
Tahun Terbit: Cetakan ketiga: Oktober 2020
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta

Blurb

Apa rasanya menjadi orang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi? Ada dorongan yang membanjiri perasaan dan pikiran mereka sampai-sampai tubuh fisiknya pun ikut sakit. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Matt Haig pernah berada di titik itu. Ia pernah mencoba bunuh diri di pinggir tebing ketika berusia 24 tahun. Serangan panik yang bertubi-tubi dan harapan yang tak lagi terlihat membuatnya berpikir bahwa mengakhiri segalanya adalah hal terbaik. Tetapi, pada langkah terakhir, ia berhenti dan mengurungkan niatnya.

Sampai sekarang, ia menjadi bukti bahwa gangguan kecemasan dan depresi bisa diatasi. Melalui buku inni, Matt Haig akan membagikan pengalamannya, mulai dari gejala depresi, rasanya mendapat serangan panik, hingga apa yang membuatnya bertahan hidup hingga hari ini. Kita akan menyelami apa yang para penderita depresi rasakan dan bagaimana cara membantu mereka (atau bahkan diri sendiri) menjadi lebih baik. 

Tiga Insight Utama

1. Ada sebuah fakta aneh tentang pikiran, yaitu Anda bisa saja memikirkan hal-hal yang sangat intens dalam benak Anda, tapi tidak seorang pun bisa melihatnya. (p. 12)

2. Depresi tidak selalu memiliki sebab yang jelas. Depresi bisa memengaruhi banyak orang - para jutawan, orang-orang berambut indah, orang-orang dengan kehidupan pernikahan yang bahagia, orang-orang yang baru saja naik jabatan, orang-orang yang bisa menari tap, melakukan trik kartu, dan main gitar, orang-orang yang pori-porinya kecil, orang-orang yang membanjiri unggahan status mereka dengan kebahagiaan - yang dari luar, kelihatannya tidak punya alasan untuk bersedih. 
Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya. (p. 17)

3. Dengarkan baik-baik. Kalau selama ini Anda percaya bahwa seseroang yang deprei ingin bahagia, Anda salah. Mereka sama sekali tidak peduli betapa menyenangkannya kebahagiaan. Mereka hanya ingin kepedihan mereka lenyap. Mereka ingin lari dari pikiran yang terbakar, saat semua isi benak menyala-nyala dan mengeluarkan asap bagai benda-benda peninggalan kuno yang dilalap api. (p. 20)

Refleksi Pribadi

Membaca buku ini seperti sedang menerjemahkan perasaan yang sulit dipahami begitu depresi itu sendiri menyerang diri sendiri. Melalui buku ini, aku merasa tidak sendiri, seperti ada teman yang mampu memahami perasaan yang selama ini sulit untuk dimengerti. 

Buku ini juga mengingatkanku betapa pentingnya memahami kondisi seseorang secara utuh. Alih-alih buru-buru menghakimi atau memberi nasihat klise, kita justru perlu memperkaya diri dengan literasi dan informasi. Dengan begitu, kita tidak gegabah saat menemani proses seseorang—atau diri sendiri—keluar dari kondisi yang gelap tersebut.

Buku ini sangat aku rekomendasikan, baik untuk kamu yang sedang bergulat dengan depresi, maupun untuk kamu yang memiliki keluarga, kerabat, atau teman yang sedang mengalaminya. Setidaknya, buku ini bisa membantu kita belajar memahami—bahwa bertahan hidup saja, bagi sebagian orang, sudah merupakan perjuangan yang luar biasa.


2 comments

  1. semangat untuk para pejuang dan temukan alasanmu untuk hidup :) kalo aku, seporsi mie ayam dan dimsum mentai hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya yang seporsi mie ayam itu ngena banget kak bukunya. Hihii. Semangattt!

      Delete

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi