Book Insight #18: 3 Things I Learned from Psychologist for Everyone

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul : Psychologist for Everyone

Penulis : Anette Isabella Ginting, M.Psi.

Tahun Terbit : Cetakan keempat, 2025

Halaman : 162 hlm

Penerbit : Mediakita, Jakarta Selatan

Blurb

Setiap manusia memiliki perasaan-perasaan kompleks yang terkadang sulit untuk diungkapkan. Kamu pun pasti begitu. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan perasaan-perasaan itu, seperti melakukan art therapy dan journaling. Buku ini menggabungkan kedua cara tersebut agar bisa menjadi wadah bagi segala emosimu yang terpendam.

Bersama buku ini, kamu bisa melakukan self therapy yang mudah dan sederhana untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Karena ada satu hal yang harus kamu pahami: 

Kamu berhak sembuh.

Refleksi Pribadi

Refleksi Pribadi

Dari buku ini, aku merasa seperti diajak untuk berhenti sejenak dan benar-benar melihat ke dalam diri sendiri. Buku ini tidak hanya memberikan penjelasan tentang kesehatan mental, tetapi juga menyediakan berbagai aktivitas sederhana yang bisa dilakukan untuk mengenali apa yang sedang kita rasakan. Karena itu, aku bisa menggunakan buku ini sebagai salah satu media untuk melakukan self-therapy secara sederhana.

Hal yang paling aku sukai adalah bagaimana buku ini mengajak kita untuk mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Kita diajak memahami diri, mengenali potensi, memahami emosi, hingga belajar merilis emosi yang selama ini mungkin kita pendam. Ada pula beberapa tips yang berkaitan dengan kondisi tubuh ketika mulai merasa lelah secara fisik maupun emosional.

Menurutku, terkadang kita terlalu sibuk menjalani kehidupan sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya aku sedang merasa apa?” atau “Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan?” Buku ini membuatku menyadari bahwa mengenali emosi adalah bagian penting dari proses menjaga kesehatan mental. Tidak semua perasaan harus langsung diselesaikan. Beberapa perasaan perlu didengarkan, diterima, dan diberi ruang untuk keluar.

Aku juga belajar bahwa mengekspresikan emosi tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan. Kita bisa menulis, menggambar, membuat jurnal, atau melakukan aktivitas kreatif lainnya. Bagi seseorang yang terkadang kesulitan mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran, cara-cara seperti ini bisa menjadi langkah awal yang cukup membantu.

Namun, menurutku self-therapy bukan berarti kita tidak membutuhkan bantuan profesional. Justru buku ini bisa menjadi teman untuk lebih mengenal diri sebelum, selama, atau setelah mendapatkan bantuan dari psikolog maupun profesional kesehatan mental lainnya. Ketika kita mulai menyadari bahwa apa yang kita rasakan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional tetap merupakan langkah yang penting.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang sedang merasa kehilangan arah, ingin lebih mengenal diri sendiri, atau sedang belajar memahami emosi yang selama ini sulit untuk diungkapkan. Bahasanya sederhana, aktivitasnya praktis, dan kita bisa menggunakannya secara perlahan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pada akhirnya, buku ini mengingatkanku bahwa proses memahami diri sendiri tidak harus selalu terburu-buru. Ada kalanya kita memang perlu berhenti, beristirahat, menangis, menulis, atau sekadar mengakui bahwa hari ini kita sedang tidak baik-baik saja.

Dan mungkin, dari proses sederhana itulah kita mulai belajar kembali untuk lebih menyayangi diri sendiri.

Kamu berhak sembuh. Dan kamu juga berhak mendapatkan ruang untuk memahami dirimu sendiri.

Untuk kamu yang ingin mendapatkan buku ini, kamu bisa klik link ini ya.


Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi