![]() |
| doc. pribadi |
Eina Martha, atau yang akrab dipanggil Eina atau Ina, merupakan salah satu sahabat aku yang kini sedang menekuni usaha laundry miliknya, @takashiklinlaundry, yang beralamat di samping Inara Guest House, Jl. Cilolohan, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115. Menariknya, perjalanan Ina membawaku pada satu pertanyaan sederhana: bagaimana seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum akhirnya memilih untuk terjun ke dunia usaha laundry?
Bagi aku, cerita Ina bukan sekadar tentang memilih sebuah pekerjaan. Ada perjalanan, keadaan, pertimbangan, bahkan tanggung jawab keluarga yang akhirnya membentuk pilihan hidupnya saat ini.
Kenapa akhirnya memilih usaha laundry?
Sebenarnya sebelumnya aku pernah coba buka kafe di depan rumah. Tapi sekarang kafe-kafe di Tasik tuh interiornya sudah bagus-bagus banget. Ya sudah, rasanya kita kalah di situ.
Akhirnya aku berpikir, “Ya sudah, coba cari yang lain saja.” Terus adikku sering lewat daerah Cilolohan. Di sana kan banyak sekolah dan mahasiswa, sedangkan laundry cuma ada satu-dua, terutama di sekitar Unsil.
Dari situ aku berpikir, kayaknya ada peluang. Laundry juga kan sesuatu yang memang dibutuhkan orang. Nggak seperti makanan yang bisa basi. Selama orang masih pakai baju, mereka pasti butuh mencuci.
Sebenarnya rencananya mau buka dari 2024, sekitar bulan Agustus. Tapi akhirnya baru benar-benar buka pada 2025. Jadi memang melalui proses melihat-lihat peluang dan trial and error dulu.
Berarti sebelum akhirnya jalan, ada proses mencoba dan mencari tahu dulu, ya. Terus waktu pertama membuka laundry, bagaimana pengalamannya?
Waktu awal malah hampir ketipu. Kocak banget kalau diingat sekarang.
Aku waktu itu sudah keluar uang sekitar Rp200 juta lebih. Dari awal perhitungannya, Rp200 juta itu sudah all in, mulai dari barang sampai training. Tapi ternyata aku nggak mendapatkan training-nya.
Terus aku malah diminta menambah biaya lagi sekitar Rp30 juta. Jadi rasanya kayak, “Loh, kok begini?”
Akhirnya aku belajar manual. Aku bayar orang lagi untuk ngajarin selama sekitar seminggu. Dari situ aku mulai belajar sedikit-sedikit dan memberanikan diri untuk menjalankan sendiri.
Alhamdulillah, lama-lama mulai ramai karena orang-orang sudah tahu laundry-ku.
Memang ada yang bilang harganya mahal. Bahkan pernah dibilang, “Paling mahal se-Cilolohan.”
Tapi kalau perang harga, ya pasti kalah. Jadi menurutku usaha itu bukan cuma soal siapa yang paling murah. Kita juga harus punya kualitas dan mempertahankan apa yang kita tawarkan.
Ina sendiri kan kuliahnya hukum. Ada nggak ilmu atau mata kuliah yang ternyata terasa relate dengan pekerjaan Ina sekarang?
Nggak ada, sih. (tertawa)
Kalau di STHG itu memang cukup universal. Ada hukum bisnis juga, tapi dipelajarinya selewat-selewat saja. Jadi kalau ditanya apakah ilmu hukum benar-benar kepakai untuk menjalankan laundry, ya nggak terlalu terasa.
Terus, Ina menikmati nggak kehidupan yang sekarang? Dan apakah ini memang pilihan Ina sendiri?
Kalau dibilang enjoy, ya enjoy kalau dapat duitnya. (tertawa)
Sebenarnya aku tuh nggak mau di rumah. Aku juga pernah punya keinginan untuk pergi, bahkan pengin seperti kamu yang bisa ke Bandung dan menjalani kehidupan sendiri.
Tapi sekarang keadaannya sudah seperti ini.
Papa aku sudah nggak ada. Kakakku juga di luar kota. Jadi yang akhirnya tinggal dan bisa menemani Mama ya aku.
Mungkin memang nggak ada yang menungguin Mama kalau aku pergi.
Jadi sebenarnya bukan berarti aku nggak punya keinginan sendiri. Aku punya. Cuma mungkin sekarang ada keadaan yang membuat aku harus mempertimbangkan hal lain juga.
Refleksi
Percakapan dengan Ina membuatku kembali memikirkan satu hal: hidup adalah tentang pilihan.
Setiap orang mungkin memiliki jalan yang berbeda. Ada yang setelah lulus kuliah bekerja sesuai dengan jurusannya. Ada yang memilih menjadi pengusaha. Ada yang merantau jauh dari keluarga. Ada pula yang memilih tetap tinggal karena ada orang tua yang perlu ditemani.
Tidak ada jalan yang benar-benar bebas dari konsekuensi.
Setiap pilihan membawa tanggung jawabnya sendiri.
Ketika kita memilih sesuatu, kita juga perlu belajar bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Dan dalam perjalanan itu, rasanya hampir mustahil jika kita tidak menemukan kerikil.
Ina sendiri mengalaminya. Mulai dari usaha yang sempat tidak berjalan sesuai rencana, pengalaman dengan vendor, belajar dari awal, menghadapi komentar tentang harga, sampai menerima kenyataan bahwa kehidupannya mungkin tidak berjalan seperti yang dulu ia bayangkan.
Tetapi mungkin memang seperti itulah hidup.
Kita tidak selalu mendapatkan jalan yang lurus dan mulus. Kadang ada jalan yang berbelok. Kadang kita harus berhenti. Kadang kita bahkan harus memilih jalan yang sebenarnya tidak pernah ada dalam rencana awal kita.
Dan ada satu hal lain yang aku renungkan dari cerita Ina: dalam sebuah keluarga, mungkin akan selalu ada satu anak yang pada akhirnya memilih atau perlu berada lebih dekat dengan orang tuanya.
Bukan karena anak tersebut tidak memiliki impian sendiri. Bukan pula karena ia tidak ingin pergi.
Bisa jadi justru karena ia memiliki sesuatu yang ingin ia jaga.
Menemani orang tua juga merupakan sebuah pilihan. Dan seperti pilihan lainnya, pilihan tersebut memiliki pengorbanan, tanggung jawab, sekaligus makna yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh orang yang menjalaninya.
Cerita Ina mengingatkanku bahwa hidup bukan tentang apakah jalan kita sesuai dengan rencana yang pernah kita buat.
Mungkin yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani jalan yang akhirnya kita pilih, dengan sadar, bertanggung jawab, dan tetap mau melangkah meskipun sesekali harus melewati kerikil.
Karena pada akhirnya, setiap orang sedang menulis ceritanya sendiri.
Dan mungkin, jalan yang berbeda bukan berarti jalan yang salah.
.png)
Post a Comment