Book Insight #19: 3 Things I Learned from Perjalanan Menerima Diri

doc. pribadi


Identitas Buku

Judul : Perjalanan Menerima Diri

Penulis : Rara Noormega

Tahun Terbit : 2025

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta


Blurb

Dear kamu,

Ketika kamu merasa sendirian, kuharap buku ini mampu hadir sebagai teman, sepasang tangan untukmu berpegangan, dan membersamaimu selama perjalanan.

Melalui kumpulan tulisan dan beragam pertanyaan untuk mengenali dirimu lebih dalam, kuharap kamu akan mampu memahami lukamu, memaafkan masa lalu, dan merangkai cerita baru di masa depanmu.

Semoga halaman demi halamannya mampu menjadi pengingat bahwa kamu selalu layak dicintai, terutama oleh dirimu sendiri.


Tiga Insight Utama

  1. Inner voice atau suara batin yang selalu ada di benakmu biasanya hadir dengan isi pesan yang bersumber dari ucapan-ucapan yang sering kamu dengar di tempatmu tumbuh besar. 
  2. Pada akhirnya, sebanyak apa pun orang yang menyayangi kita, tidak akan pernah cukup kalau kita tidak menyayangi diri sendiri.
  3. Salah satu hal penting yang perlu kita pelajari dalam hidup adalah bagaimana kita bisa menemukan ketengangan dan kebahagiaan di dalam diri kita sendiri. Tenang dan damaimu tidak ada di tangan orang lain. 


Refleksi Pribadi

Membaca buku ini serasa seperti sedang berdialog langsung dengan psikolog. Buku ini membagi perjalanan menerima diri dalam empat bab. Bab pertama berisi tentang perjalanan menerima masa lalu, bab kedua berisi tentang perjalanan menerima dirimu yang selalu tumbuh, bab ketiga perjalanan menerima perasaan secara utuh, dan bab keempat membahas tentang perjalanan menerima cita-cita yang dituju.

Di dalam buku ini, kamu tidak hanya diberikan worksheet di setiap babnya, tetapi selalu ada penjelasan tertentu sebelum kamu memulai perjalanan melalui prompt-prompt yang sudah dibuat. Rasanya seperti sedang ditemani oleh seseorang ketika kamu memulai perjalanan untuk menerima diri dengan menggunakan buku ini.

Salah satu bagian yang paling membuatku banyak berpikir adalah pembahasan mengenai inner voice. Ternyata, suara yang selama ini ada di kepala kita tidak selalu benar-benar berasal dari diri kita sendiri. Bisa jadi, suara tersebut terbentuk dari berbagai ucapan yang sering kita dengar ketika tumbuh, baik dari keluarga, lingkungan, maupun orang-orang di sekitar kita. Dari sini aku belajar bahwa tidak semua hal yang kita katakan kepada diri sendiri harus langsung dipercaya.

Buku ini juga mengingatkanku bahwa menerima diri bukan berarti kita harus menyukai semua hal tentang diri kita atau menganggap masa lalu tidak pernah menyakitkan. Menerima diri justru bisa berarti mengakui bahwa pernah ada bagian dari diri kita yang terluka, pernah melakukan kesalahan, pernah merasa kecewa, dan tetap memilih untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk tumbuh.

Menurutku, proses menerima diri juga tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika kita merasa sudah baik-baik saja, tetapi kemudian sesuatu dari masa lalu kembali muncul dan membuat kita merasa sedih. Ada pula saat ketika kita kembali meragukan diri sendiri. Buku ini membuatku memahami bahwa hal tersebut tidak selalu berarti kita kembali ke titik awal. Mungkin, itu hanya bagian dari perjalanan untuk memahami diri dengan lebih dalam.

Aku juga menyukai pesan bahwa ketenangan dan kebahagiaan tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada orang lain. Kita boleh mendapatkan dukungan, kasih sayang, dan validasi dari orang-orang yang kita cintai. Namun, perlahan kita juga perlu belajar menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri.

Buku ini sangat cocok untuk kamu yang ingin mengenal dirimu sendiri lebih dalam, sedang kehilangan arah, sedang belajar berdamai dengan masa lalu, atau sedang berada dalam pengawasan psikolog/psikiater. Menurutku, buku ini juga bisa menjadi teman untuk menemani proses refleksi di antara sesi profesional, meskipun tentu saja tidak menggantikan peran psikolog maupun psikiater.

Pada akhirnya, Perjalanan Menerima Diri bukan hanya mengajakku untuk bertanya, “Apa yang salah dengan diriku?” tetapi juga mengubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang sebenarnya sedang aku butuhkan?”

Dan mungkin, menerima diri memang dimulai dari keberanian untuk mendengarkan diri sendiri dengan lebih lembut.

Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi