WTHTS 001 : When Life Has Its Own Plan ft. Muhamad Ridho

doc. pribadi


Kali ini, What They Have to Say berkenalan dengan Muhamad Ridho, atau yang lebih akrab disapa Ridho atau Ido. Berasal dari Tasikmalaya dan kini menetap di Bandung, Ridho menjalani kesehariannya sebagai Perencana Ahli Pertama di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menariknya, di usia 23 tahun, perjalanan Ridho membawanya menjadi seorang PNS, sesuatu yang ternyata tidak pernah ia targetkan sejak awal. Kalau kamu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi PNS dan ingin bertanya langsung tentang pengalamannya, Ridho bisa ditemui melalui Instagram @m.ridho_04.

Di usia 23 tahun, bagaimana rasanya ketika kamu sudah menjadi seorang PNS? Apakah ini memang sesuatu yang sejak awal kamu targetkan?

Rasanya tentu bersyukur. Menjadi PNS sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal saya targetkan. Bahkan dulu saya tidak ingin menjadi seorang PNS karena merasa pekerjaan “PNS” itu tidak keren untuk anak muda.

Namun, saya hidup dengan menjalani takdir demi takdir dan proses demi proses. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Maka, hasilnya seperti sekarang. Saya berada di pekerjaan yang ternyata banyak orang idamkan.

Apa tantangan atau hal paling mengejutkan yang kamu temui ketika mulai bekerja sebagai PNS di usia yang masih sangat muda?

Tentunya adalah pace kerja yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan birokrasi yang cukup ketat.

Kalau sebelumnya keputusan A dan B mungkin bisa diputuskan hanya dalam satu rapat, sekarang semuanya harus melalui proses yang lebih panjang untuk mendapatkan suatu keputusan. Jadi, saya belajar untuk lebih sabar dan memahami bagaimana sebuah sistem bekerja.

Kalau bisa berbicara kepada anak muda seusiamu yang sedang berjuang mencari arah dalam karier, apa yang ingin kamu sampaikan?

Saya mengikuti pepatah dari pimpinan Ponpes Gontor yang sedang viral: “Jangan menjadi be yourself, tapi jadilah be your best for yourself.”

Pastikan kita selalu melihat segala sesuatu dari sisi yang positif, sehingga mindset yang terbentuk juga positif.

Misalnya, ketika berpikir, “Ah, saya sudah mengirim 1.000 lamaran kerja, tapi tidak ada yang diterima,” mungkin sebenarnya kamu sedang diberi waktu untuk beristirahat oleh Allah dari kesibukan yang akan menantimu di depan.

Atau ketika berpikir, “Saya capek dengan keadaan saya sekarang. Saya melihat orang lain semakin sukses, sedangkan saya masih begini-begini saja,” mungkin kamu belum melihat orang lain yang perjuangannya lebih sulit dari kamu.

Memang masih banyak hal yang belum tercapai dalam hidupmu, tetapi tidak sedikit juga yang sudah kamu miliki dalam hidupmu.

Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Perhaps you love a thing and it is bad for you, and perhaps you hate a thing and it is good for you.”

Pada akhirnya, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Jadi, jalani saja prosesnya dengan sebaik mungkin.

Refleksi

Dari sesi wawancara dengan Ridho kali ini, membawa kita pada satu hal,

Berhenti overthinking. Jalani setiap takdir yang diberikan dan lakukan yang terbaik.

Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah proses akan membawa kita. Sesuatu yang hari ini terasa bukan bagian dari rencana, mungkin justru menjadi jalan yang Allah pilihkan untuk kita.

Jadi, tidak apa-apa kalau hidupmu belum berjalan seperti yang kamu bayangkan. Tidak semua hal harus dipahami sekarang. Jalani prosesnya, lakukan bagianmu dengan sebaik mungkin, dan percayakan sisanya kepada Allah.

Karena terkadang, apa yang kita anggap sebagai keterlambatan sebenarnya adalah waktu yang sedang Allah gunakan untuk mempersiapkan kita.



Post a Comment

Letters to Myself | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi