WTHTS 004: Finding Your Own Pace: Lessons from Running and Teaching ft Rd. Putri Annida Qisti

doc.pribadi


Rd Putri Annida Qisti, S.Pd., M.Hum. merupakan seorang Guru Bahasa Indonesia di SMP Tunas Unggul Bandung. Di tengah kesibukannya mengajar, menyiapkan pembelajaran, mengikuti rapat, serta berbagai kegiatan sekolah lainnya, Putri tetap menyempatkan diri untuk melakukan hal yang ia sukai: berlari.

Bagi Putri, lari bukan sekadar aktivitas untuk menjaga tubuh tetap bergerak. Di sela kesibukannya sebagai seorang guru, berlari menjadi ruang kecil untuk beristirahat, mengurai pikiran, dan belajar tentang proses serta konsistensi.

Sebagai guru yang memiliki banyak kesibukan di sekolah, bagaimana cara Ibu menyempatkan waktu untuk tetap rutin berlari?

Sebagai guru, memang banyak banget yang harus dikerjakan, mulai dari mengajar, menyiapkan pembelajaran, rapat, sampai kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Jadi, saya biasanya tidak terlalu memaksakan harus lari setiap hari.

Saya lebih sering memanfaatkan waktu yang memang memungkinkan, biasanya di hari Sabtu atau Minggu. Kalau sedang ada waktu dan lagi mood, kadang saya juga lari sore setelah selesai beraktivitas.

Buat saya, yang penting bukan harus lari jauh atau lama, tapi bagaimana tetap konsisten. Kadang cuma 30–40 menit, yang penting tetap bergerak.

Dan biasanya setelah lari, badan justru terasa lebih segar dan pikiran juga lebih ringan. Jadi, meskipun awalnya merasa capek, setelahnya malah terasa lebih siap untuk kembali menjalani aktivitas.

Apa yang Ibu dapatkan dari berlari yang mungkin tidak Ibu dapatkan dari kesibukan sehari-hari sebagai seorang guru?

Saya itu sebenarnya tipe orang yang cukup gampang overthinking, dan saya masih sering kesulitan untuk mengelola pikiran-pikiran tersebut.

Nah, buat saya, berlari jadi salah satu cara untuk punya ruang sendiri dan sejenak lepas dari berbagai tuntutan dan rutinitas sehari-hari.

Ketika berlari, saya bisa lebih fokus ke diri sendiri, mengatur napas, menikmati langkah, dan memberi kesempatan buat pikiran untuk sedikit beristirahat. Rasanya seperti punya me time yang sederhana, tapi cukup berarti.

Kadang setelah atau bahkan saat berlari, saya juga suka melamun sambil mencoba mengurai satu per satu apa yang sebenarnya sedang saya pikirkan.

Jadi, bukan berarti semua masalah langsung selesai setelah lari, tapi biasanya pikiran saya terasa lebih lega dan lebih tertata. Buat saya, itu salah satu hal yang mungkin tidak saya dapatkan dari kesibukan saya sebagai guru.

Setelah rutin berlari dan mengikuti berbagai event lari, adakah pelajaran dari dunia lari yang akhirnya Ibu terapkan dalam kehidupan atau dalam mengajar siswa?

Ada. Salah satu hal yang paling saya rasakan dari lari itu tentang proses dan konsistensi.

Dalam lari, kita kan nggak bisa tiba-tiba langsung kuat lari jauh atau mencapai target tertentu. Semuanya butuh proses, latihan sedikit demi sedikit, dan yang paling penting konsisten.

Ternyata, prinsip itu juga sangat relate dengan dunia pendidikan. Sebagai guru, saya jadi semakin sadar bahwa setiap siswa punya pace-nya masing-masing.

Ada yang bisa berkembang dengan cepat, tapi ada juga yang memang membutuhkan waktu lebih panjang. Dan menurut saya, itu sesuatu yang wajar.

Seperti dalam lari, kita nggak bisa memaksa semua orang berlari dengan kecepatan yang sama atau sampai di garis finis di waktu yang sama. Yang penting adalah bagaimana kita bisa terus mendampingi mereka supaya tetap bergerak maju sesuai dengan kemampuan mereka.

Dari lari, saya juga jadi belajar untuk lebih menghargai proses. Memang, garis finis atau hasil akhir itu penting, tapi perjalanan untuk sampai ke sana juga nggak kalah penting.

Jadi, dalam mengajar, saya berusaha untuk nggak hanya melihat hasil akhirnya saja, tapi juga menghargai usaha, perkembangan, dan konsistensi siswa. Kadang, kemajuan kecil yang mereka capai sebenarnya punya arti yang besar.

Reflection

Kisah Putri mengajarkan satu hal sederhana: dalam melakukan sesuatu, kita diizinkan untuk menjadi seorang beginner.

Setiap permulaan biasanya hanya menghasilkan beberapa langkah kecil. Kita mungkin belum mampu berlari jauh, belum secepat orang lain, atau bahkan masih sering merasa lelah di tengah perjalanan. Namun, bukan berarti langkah kecil tersebut tidak berarti.

Sebab, perjalanan yang besar sering kali memang dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Perlahan, langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat berubah menjadi perjalanan yang jauh lebih besar.

Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan. Kita tidak harus memiliki pace yang sama dengan orang lain. Ada orang yang sampai lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Dan tidak apa-apa.

Seperti yang dipelajari Putri dari lari, setiap orang memiliki pace-nya masing-masing. Tugas kita bukan selalu menjadi yang paling cepat, tetapi terus bergerak sesuai dengan kemampuan kita.

Mungkin hari ini kita hanya mampu mengambil beberapa langkah. Mungkin hari ini kemajuan kita terlihat sangat kecil. Namun, selama kita terus bergerak, kita sebenarnya sedang bertumbuh.

You are allowed to start small. You are allowed to have your own pace. What matters is that you keep moving.

Post a Comment

0 Comments